
Rintik-rintik hujan berjatuhan bagaikan tangisan Zanna yang tidak berhenti mengalir melihat suaminya datang menyelamatkannya.
"Mas Arga." Ucapnya tidak percaya melihat suaminya berdiri didepannya.
Sebelum kejadian.
Di rumah Arga.
Setelah mengganti bajunya yang basah Arga turun ke lantai bawah diikuti dengan Clara dibelakangnya.
Arga pergi ke dapur membuat kopi, Clara mengikutinya sampai didapur.
"Sayang kamu kenapa si?"
"Enggak kenapa-kenapa." Ucapnya datar sambil mengaduk kopi hitam yang dibuatnya sendiri.
Arga membawa gelas kopinya ke ruang tengah duduk di depan tv sambil menonton berita
Clara duduk disamping Arga.
Clara menyenderkan kepalanya di samping bahu Arga sambil merangkul tangan Arga.
"Sayang, kamu kenapa sih pulang marah-marah. Memang kamu tadi dari mana?" Ucapnya sambil mengelus lengan Arga.
"Aku pergi ke rumah sakit menjemput wanita sialan itu, tapi dia malah berpelukan dan bermesraan dengan Niko di belakangku." Ucapnya terlihat kesal mengingat kejadian dirumah sakit.
Clara sontak mengangkat kepalanya, dia berdiri menatap Arga dengan sinis.
"Kamu cemburu?"
"Cemburu? Enggak mungkinlah aku cemburu. Aku bahkan tidak suka padanya, bagaimana aku bisa cemburu!" Ucapnya fokus melihat ke arah tv.
"Terus kalau kamu enggak cemburu, kenapa kamu harus marah." Ucapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Aku enggak marah! Biasa aja kok."
Clara mengambil remot tv yang ada di atas meja, lalu mematikan tv.
Sontak Arga berteriak pada Clara.
"Kamu kenapa? Tiba-tiba mematikan tv nya." Ucapnya Marah berdiri dari sofa
"Sejak pulang kamu cuekin aku gara-gara wanita itu, jangan bilang kamu sekarang sudah suka padanya." Ucapnya marah.
"Kamu jangan aneh-aneh deh, aku tidak punya perasaan apapun padanya." Ucapnya marah.
__ADS_1
"Bohong!" Teriak Clara marah.
"Kamu pasti sudah suka padanya kan! Kalau kamu tidak suka pada wanita itu, kamu tidak akan mungkin marah karena dia dekat dengan pria lain."
"Aku marah karena dia tidak bisa menjaga kehormatannya sebagai istri dari keluarga Tomo, ini sama saja dia mempermalukanku." Ucapnya marah.
Tiba-tiba Niko datang mencari Arga.
"Tuan!" Ucap Niko berdiri di tengah-tengah ruangan tamu dan ruang tengah.
"Kamu! Ngapain disini." Ucapnya marah menghampiri Niko.
"Tuan biarkan aku menjelaskan semua kesalapahaman yang tadi. Apa yang Tuan lihat tidak seperti yang Tuan pikirkan, Nona Zanna tidak sengaja terjatuh padaku. Itu semua benar-benar tidak disengaja."
"Aku tidak peduli walaupun itu juga benar!"
"Aku secara pribadi minta maaf pada Tuan."
"Terserah padamu!" Ucapnya berbalik tidak peduli.
"Nona Zanna mana Tuan?, aku juga ingin minta maaf padanya. karena diriku Nona dan Tuan jadi bertengkar."
"Mana aku tau," ucapnya ketus.
"Nona Zanna tidak kembali Tuan."
"Lalu kemana wanita itu pergi?" Ucapnya berbalik.
"Tuan harus mencari Nona Zanna, dia tidak tau jalan pulang dan kondisinya sekarang lagi hujan deras jangan sampai terjadi sesuatu pada Nona Zanna." Ucap Niko panik.
Clara ikut bicara.
"Wanita itu sudah besar, dia pasti tau cara pulang ke rumah. Kita tidak perlu mencarinya."
"Tapi Nona Zanna belum pernah bepergian seorang diri, aku selalu yang mengantarnya. Jadi aku tau." Ucapnya menantang Clara.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Nona Zanna, Nyonya besar pasti akan marah dan itu akan berakibat fatal untuk penyakit Nyonya." Sambungnya.
"Kamu tidak usah dengarkan ucapan sopirmu itu." Ucap Clara.
"Kalau memang Tuan tidak mau mencari Nona Clara, biar aku saja yang pergi." Ucapnya berbalik.
Arga yang tidak mau sampai Neneknya sakit lagi, langsung meninggalkan Clara mencari Zanna.
"Arga jangan pergi!" Teriak Clara mengejar.
__ADS_1
Arga langsung buru-buru jalan keluar di tengah hujan pergi ke mobilnya.
Mobil Arga meninggalkan halaman rumah.
Arga menelusuri jalan yang mengarah ke rumah sakit, tapi tidak menemukan Zanna disana.
"Wanita itu pergi ke mana!" Ucapnya geram memperhatikan sekitar jalan.
"Kenapa wanita itu selalu membuatku susah." Ucapnya memukul stir mobilnya sambil melirik kesamping.
Hujan semakin deras dari arah kaca mobil susana diluar sudah tidak terlihat jelas.
Arga memutuskan menghentikan mobilnya di pinggir jalan berada dekat dengan lampu merah.
Dia kebingungan kemana akan mencari Zanna, tidak tau dimana pasti lokasi Zanna sekarang.
Yang dia pikirkan Zanna pastikan akan melewati jalan besar, hanya itu satu-satunya jalan yang akan dilewati Zanna karena dia tidak tau jalan.
Arga merenung di dalam mobil berpikir akan pergi ke mana lagi setelah ini.
Setelah berpikir panjang Arga memutuskan akan terus berjalan kedepan.
Pada Saat dia ingin menjalan mobilnya, sorot matanya sempat mengarah ke kaca spion mobil.
Dia melihat ada seorang wanita yang ditarik-tarik oleh beberapa pria dari jarak yang sangat jauh dari mobilnya.
Arga tidak melihat jelas wajah wanita itu, tapi perasaannya mengatakan dia harus keluar dari mobil menolong wanita itu.
Arga yang tidak tega melihat wanita itu perlakukan tidak senonoh keluar dari mobil tanpa membawa payung.
Saat Arga berlari menghampiri para pria itu, mereka lebih dulu pergi membawa wanita itu masuk ke dalam lorong kecil.
Arga yang melihat tas wanita itu terjatuh, mengambil dompet yang keluar dari tas wanita itu.
Saat Arga jongkok mengambil dompet itu, alangkah terkejutnya Arga melihat foto tanda pengenal wanita itu yang ternyata adalah Istrinya.
Sontak Arga langsung berlari masuk ke dalam lorong dengan raut wajah yang panik mencari kemana mereka membawa Zanna.
Dia terus berlari sampai dia mendengar suara para pria itu tertawa diiringi dengan suara tangisan wanita.
Arga langsung buru-buru berlari ke asal suara dimana pria itu bersembunyi di semak-semak Jalan.
Melihat pria itu menindih Zanna sambil mengelus pahanya, Arga menendang punggung pria itu sampai pria itu terlempar.
Bersambung...
__ADS_1