
Saat Arga menikmati sarapan paginya, bukan Zanna juga ikut sarapan, dia masih saja memperhatikan suaminya makan, sambil senyum-senyum sendiri.
Arga menghabiskan makanan dengan waktu kurang dari 3 menit.
Dia makan terburu-buru karena dia harus pergi ke perusahaan secepat mungkin.
Kemarin dia sudah mengatakan kepada Sekretarisnya untuk mengatur rapat jam 9 pagi di perusahaan membahas proyek yang sedang mereka jalankan.
Melihat Zanna yang terus memperhatikan nya, Arga merasa risih yang diperhatikan seperti itu.
"Kamu kenapa melihatku seperti itu?" Ucapnya dengan tatapan tajam menatap Zanna yang tersenyum-senyum.
"Tidak apa-apa, aku cuman tidak mau melewatkan kesempatan bisa menikmati waktu kita berdua di meja makan Mas." Ucapnya tersenyum manis.
"Tidak usah senyum-senyum, aku tidak akan terpesona dengan senyummu itu." Ucapnya dengan ketus.
"Aku senyum bukan untuk Mas Arga lihat."
"Terus untuk siapa?" Ucapnya kesal, dia pikir Zanna senyum untuknya.
"Untuk aku lah, ini bentuk ekspresiku karena melihat Mas."
"Itu sama saja." Ucapnya menghela nafas.
"Tidak Mas, itu beda."
"Terserah padamu, aku mau ke perusahaan sekarang."
"Wanita selalu benar!" Ucapnya menarik nafas panjang beranjak berdiri dari kursinya, saat Arga mau berjalan meninggalkan meja makan.
Zanna tiba-tiba berteriak.
"Mas Arga, Tunggu sebentar." Ucapnya berdiri dari kursinya.
"Jangan berteriak, ini bukan hutan. Aku masih bisa mendengar walaupun kamu bicara dengan suara kecil."
"Iya maaf Mas, aku tadi spontan."
"Cepat katakan apa yang kamu katakan, aku buru-buru!"
"Jadi gini Mas, kemarin Omah datang kesini mencari kita. Omah menunggu kita sampai larut malam, bagaimana kalau sebentar Sore atau malam kita ke rumah omah? Aku tidak enak dengan Omah."
"Ya sudah sebentar malam kita akan pergi ke rumah Omah."
"Kamu siap-siap saja, tunggu aku pulang baru kamu pergi."
"Ingat dengan perkataan ku, tunggu aku pulang baru kita pergi!" Sambungnya.
"Iya Mas Arga."
Zanna pikir Arga akan menolak, tapi ternyata sebaliknya.
Arga pergi meninggalkan ruang makan.
"Beberapa hari ini Mas Arga sedikit berubah, sikapnya mulai tidak dingin padaku."
Zanna tampak bahagia, beberapa hari ini dia mendapatkan sikap baik dari Arga walaupun terkadang-kadang Arga masih saja membuat hatinya sakit dengan perkataannya.
Tapi itu tidak masalah baginya, bisa dekat ini saja sudah Zanna sangat bahagia.
Setidaknya perjuangan mempertahankan rumah tangganya tidak sia-sia.
Karena Arga mulai menampakan sikap pedulinya terhadap Zanna.
Dia semakin semangat untuk berjuang mendapatkan cinta suaminya.
----------
Tio mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi di jalan raya.
Dia sudah tidak fokus menyetir, pikiranya sudah kemana-mana.
__ADS_1
Kalimat seandainya tidak berhenti berkeliaran di kepalanya.
Tanpa dia sadari kecepatan mobilnya semakin tinggi.
Di sisi lain.
Ada wanita muda yang akan menyebrang jalan, wanita itu tidak melihat mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, dan Tio juga tidak melihat wanita itu karena fokusnya sekarang bukan di jalanan tapi tempat lain.
Pada saat dia sadar ada orang yang menyebrang dan mobilnya sudah sangat dekat dengan wanita itu.
Sontak Tio membanting stirnya, membelokan mobilnya ke jalan sampai mobil Tio menabrak pohon besar yang ada di ujung jalanan.
Brungk!!!!!
Wajah wanita itu terkejut dengan mata yang melotot tidak percaya ada mobil yang lewat di sampingnya.
Orang-orang yang berjalan kaki di sekitaran situ langsung mengerumuni mobil Tio, mereka membuka pintu mobil, membantu Tio keluar dari
Mobilnya.
Tio keluar dengan ujung kepala yang terluka.
Mereka menopang tubuh Tio membawanya duduk di pinggir jalanan.
Wanita yang hampir ditabrak Tio, datang untuk melihat bagaimana kondisi Tio.
Wanita itu masuk ke kerumunan jongkok di depan Tio.
"Astaga Tuan terluka."
Wanita itu tampak khawatir dengan kondisi Tio.
"Ayo kita ke rumah sakit Tuan." Ucapnya menarik tangan Tio.
"Tidak perlu." Ucapnya ketus menolak bantuan wanita itu.
"Tapi kepala Tuan terluka, Tuan harus ke rumah sakit." Ucapnya kesal.
Orang-orang yang datang membantu Tio pergi begitu saja setelah melihat sikap Tio tidak mau ditolong.
"Uuhhh dasar pria sombong!" Ucap salah wanita yang ada di kerumunan.
"Seharusnya pria itu mati saja!" Ucap salah satu pria yang ada di kerumunan.
Tio tidak memperdulikan perkataan orang-orang, pikiran hanya fokus dengan Zanna.
Semua hanya ada Zanna dan Zanna.
Hanya wanita yang hampir ditabrak Tio yang masih ada disana.
Dia tidak mau meninggalkan Tio, karena takut terjadi sesuatu pada Tio dan dia harus berurusan dengan Polisi.
Dia mau sampai masuk penjara.
"Tuan benar tidak mau ke rumah sakit."
"TIDAK!"
"Kamu pergi saja dari sini." Ucapnya marah.
"Tuan tidak boleh seperti itu, kalau Tuan ada apa-apa aku juga bisa ikut terseret nanti di polisi. Sebaiknya kita rumah sakit yah."
Dia terus mencoba membujuk Tio untuk pergi ke rumah sakit.
Tion berusaha berdiri.
Tio pergi ke mobilnya mengambil barang-barangnya termasuk perfect.
Wanita itu tampak senang, sepertinya Tio mau mendengarkannya.
"Ayo Tuan kita pergi." Ucapnya mengikuti Tio.
__ADS_1
Dia berjalan di samping Tio.
Tio berhenti di pinggir jalanan, menghentikan taksi yang lewat.
Taksi itu berhenti tepat di depannya.
Dia langsung masuk ke dalam taksi menutup pintu taksi meninggal wanita itu.
Ternyata Tio tidak mendengarkan perkataan wanita itu, dia berdiri karena mau pergi dari sana. Capek mendengar perkataan wanita itu yang terus memintanya untuk pergi ke rumah sakit.
Wanita itu tidak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri.
Dia benar-benar malu, dia pikir Tio akan akan membawanya bersama.
"Astaga apa yang aku lakukan, seharusnya aku biarkan saja pria itu mati disini." Ucapnya kesal, mengertakan giginya.
Sikap Tio yang menolak bantuan wanita itu, memberikan kesan tidak baik.
Wajah wanita itu tampak sangat kesal.
"Dasar pria sombong!" Teriaknya meluapkan emosinya.
"Kalau aku bertemu lagi dengan orang itu, aku pastikan tidak akan mau menolongnya lagi." Ucapnya berbalik pergi.
--------
Di perusahaan.
Setelah rapat selesai dilaksanakan semua orang meninggalkan ruangan rapat kecuali Arga dan sekretaris.
Sekretarisnya datang menghampiri Arga.
"Tuan Arga." Ucapnya berdiri disamping kursi Arga.
"Ada apa." Ucapnya dingin.
"Tuan besok adalah ulang tahun perusahaan."
"Apa kita merayakan tahun perusahaan seperti sebelumnya?" Sambungnya.
Karena kesibukkan dan konflik rumah tangganya, Arga sampai lupa kalau besok adalah hari ulang tahun perusahaan.
"Kita tetap akan merayakannya, kamu urus saja acaranya seperti tahun lalu."
"Baik Tuan."
Sekretarisnya berbalik pergi.
Tiba-tiba Arga memanggilnya.
"Tunggu sebentar!"
"Ada apa Tuan?" Ucapnya berbalik.
"Hari ada jadwal ketemu siapa saja?"
"Sebentar sore Jam 3 Tuan ada pertemuan dengan Pak Satyo."
"Selain itu?"
"Tidak ada Tuan, cuman Itu saja."
"Baiklah, kamu boleh pergi."
Arga mau memastikan dia bisa pergi mengantar Zanna ke rumah Neneknya.
Arga tiba-tiba teringat dengan Clara kemarin malam dia bilang akan datang apartemennya. Tapi karena mobilnya mogok, dia tidak bisa datang.
Dia langsung pergi meninggalkan ruangan rapat, keluar dari perusahaan.
Saat semua orang keluar untuk makan siang, Arga keluar pergi menemui Clara.
__ADS_1
Bersambung…..