
Jam dinding di dalam kamar Zanna terus berjalan sesuai dengan sistemnya, waktu menunjukkan pukul 11:30 tapi Zanna masih duduk ditempat tidur menunggu kepulangan suaminya bersama Niko yang duduk di sofa ikut menemani Zanna.
Niko yang kasihan melihat Zanna terus menunggu Arga, mencoba menelponnya supaya Arga bisa kembali ke rumah sakit.
Tapi sayangnya nomor Arga tidak bisa dihubungi. Niko pun pergi menghampiri Zanna.
"Nona tidur saja dulu, nanti kalau Tuan Arga kembali aku akan membangunkan Nona."
"Tidak apa-apa aku masih belum mengantuk, aku akan menunggu Mas Arga."
Di sisi lain.
Arga berada rumah sakit Jati Mulya dekat dengan Apartemen Clara.
Arga duduk di samping tempat tidur Clara sambil menggenggam tangan Clara, meletakkannya di bawah bibirnya.
Air matanya setetes demi setetes berjatuhan di tangan Clara dengan matanya yang memerah melihat wanita yang dia cintai kini terbaring di rumah sakit karena kebodohannya.
"Andai aku tidak memarahimu, kamu tidak mungkin akan bertindak senekat ini." Ucapnya marah bersalah.
"Aku seharusnya bisa mengerti kondisimu yang baru saja kehilangan calon bayi kita. Aku memang terlalu bodoh." Ucapnya sedih.
"Cepat sembuh sayang, aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Hatiku terlalu sakit melihatmu terluka."
Arga begitu mencintai dan menyayangi Clara, itu bisa dilihat betapa sedihnya dirinya melihat Clara yang terluka.
Wanita kedua yang dia cintai setelah ibunya adalah Clara.
Dia begitu mencintainya sampai melihatnya terluka bisa membuat dirinya hampir gila.
Jika seorang lelaki sudah menangisi seorang wanita, percayalah lelaki itu benar-benar mencintainya.
Arga tidak mau melepaskan genggaman tangan Clara, dia akan terus disana sampai Clara siuman.
Arga sudah melupakan janji yang susah dibuatnya sendiri untuk menemani Zanna di rumah sakit.
Tapi tidak ada pilihan, dia mungkin biarkan Clara sendirian disini setelah melihat tindakan nekatnya.
Bisa-bisa dia malah akan melukai dirinya lebih parah dengan ini.
__ADS_1
Dia tidak mau sampai Clara melakukan hal yang sama lagi.
Arga terpaksa akan tetap disana.
Di rumah sakit Zanna ternyata masih menunggu kedatang Arga.
Walaupun matanya sebenarnya susah lelah, bahkan dia ingin sekalih memejamkan kedua matanya.
Lagi dan lagi Zanna memikirkan suaminya yang pergi tanpa pamit.
Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Arga yang tak kunjung kembali ke rumah sakit.
"Niko…" Ucapnya memanggil.
"Iya Nona." Ucapnya datang menghampiri Zanna.
"Kamu tolong telponkan Mas Arga, tanyakan padanya dimana dia sekarang."
"Nomor Tuan Arga tidak bisa dihubungi Nona, aku sudah mencoba beberapa kali tadi."
"Kalau begitu tolong telponkan sekretarisnya Mas Arga, mungkin Mas Arga masih di perusahaan."
Niko pun langsung menghubungi Sekretaris pribadi Arga.
Saat telepon Niko diangkat, Niko menekan Loudspeaker hpnya agar Zanna bisa mendengar percakapan mereka.
"Halo, ini dengan siapa?" Ucap wanita itu yang sedang duduk didepan bercermin memakai baju tidur.
"Aku Niko, supir pribadi Tuan Arga, apa Tuan Arga masih ada di perusahaan?"
"Ouh Tuan Arga tidak ada di perusahaan, dia sudah pulang sejak tadi siang setelah mendapat telepon. Tuan Arga meninggalkan ruang rapat begitu saja dan Tuan tidak pernah kembali lagi."
"Oh iya, kalau begitu terima kasih."
"Sama-sama" ucap wanita itu mematikan teleponnya.
Wajah Zanna tampak cemas, kemana perginya suaminya di tengah malam seperti ini, dan belum kembali.
"Atau jangan-jangan Mas Arga pergi ke rumah untuk menemui Clara."
__ADS_1
"Niko cepat telepon pak Darto apa Mas Arga mungkin pulang ke rumah." Sambungnya.
Tanpa pikir panjang Niko pun langsung menghubungi Pak Darto.
Belum cukup setengah menit, Pak Darto langsung mengangkat telepon Niko.
"Ada apa Niko, tumben kamu menelponku tengah malam." Ucap Pak Darto sambil tersenyum berdiri didepan pos.
"Apa Tuan Arga ada di rumah?"
"Tuan Arga tidak ada di rumah."
Zanna yang mendengar itu tambah gelisah mencari keberadaan suaminya.
"Tapi Tuan Arga tadi sempat datang kesini, dia masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Setelah beberapa menit Tuan Arga keluar dari rumah menemui saya menanyakan kemana Nona Clara pergi, dan setelah saya memberitahu kalau Nyonya besar mengusir Nona Clara, Tuan langsung pergi."
"Oh iya, jalau begitu terima pak." Ucapnya mematikan teleponnya.
Wajah Zanna tampak sedih mendengar perkataan Pak Darto.
"Nona baik-baik saja kan?"
"Aku tidak apa-apa, kamu tidur saja."
"Nona masih mau menunggu Tuan Arga?"
"Tidak, aku sudah tau Mas Arga tidak akan pulang jika sudah bersama Clara."
Setelah berbicara seperti itu dia berbaring membelakangi Niko sambil menarik selimut menutupi setengah badannya.
Tanpa dia sadari air matanya menetes di bantal.
Dia pikir Arga akan menemaninya sesuai dengan perkataannya sebelumnya tapi dia mengetahui Arga pergi menemui Clara.
Dia sadar istri Mas Arga sekarang bukan cumannya dirinya tapi ada wanita lain yang lebih diprioritaskan Mas Arga.
Zanna menguatkan hatinya bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
Apapun itu Zanna sudah meyakinkan dirinya untuk tetap mempertahankan rumah tangganya dan menggapai cinta suami nya.
__ADS_1
Bersambung…..