
Mata Zanna berkaca-kaca melihat Tio yang meninggalkannya tanpa kejelasan 8 tahun yang lalu kembali muncul di hadapannya.
Tio dan Zanna saling menatap satu sama lain, mata mereka berdua seperti berbicara menyampaikan kerinduan mereka yang tersimpan 8 tahun yang lalu.
"Ini tidak mungkin, itu pasti bukan Tio." Bantinnya.
Zanna mencoba meragukan penglihatan, dia berharap matanya salah.
Dia ngucap-ngucap kedua matanya, berharap di depannya adalah orang lain.
Tapi kenyataan tidak berubah, itu memang Tio.
"Mari Clara ikut kita makan malam bersama."
"Iya Bu." Ucapnya tersenyum hangat.
Ibu Arga mengajak Clara duduk bersama mereka dan Arga juga ikut duduk di samping Clara.
Sedangkan Zanna masih berdiri kaku menatap Tio.
"Zanna ada apa? Ayo duduk, kita makan bersama." Ucap Nyonya Melina memanggil Zanna.
"Omah, siapa dia?" Ucapnya menunjuk Tio dengan mata yang masih tidak percaya.
"Dia Tio, adik iparmu."
Tiba-tiba ….
Tio datang memeluk Zanna dengan erat.
"Aku merindukanmu."
Tio berbisik di telinga Zanna, membuat dirinya hampir menangis.
Tapi itu tidak mungkin dia menunjukkan air matanya di depan keluarga Arga, apa nanti kata mereka jika melihat menangis.
Tio melepaskan pelukannya.
"Selamat datang kakak ipar, perkenalkan aku Tio. Adik suamimu." Ucapnya dengan tatapan yang tajam.
Tio menarik tangan Zanna untuk salaman dengannya.
"Kakak ipar nama siapa?"
Zanna lagi-lagi diam, bahkan tangannya sampai bergetar.
"Ada apa kakak ipar? Kenapa diam."
Sontak Zanna menarik tangannya.
"Panggil saja aku Zanna."
Zanna melewati Tio pergi ke meja makan tanpa melirik sama sekali ke arah Tio.
Padahal Tio melihatnya berjalan dari ujung matanya.
Zanna duduk di samping kiri Arga yang kursinya berhadapan dengan kursi Tio.
Tio kembali duduk di kursinya.
Di meja makan Tio terus-terusan menatap Zanna.
Zanna yang merasa risih mengalihkan pandanganya ke Arga.
Melihat piring Arga yang masih kosong, Zanna berinisiatif untuk menawarkan diri mengambil makanan untuk suaminya.
"Mas Arga, mau makan apa?" Ucapnya mengambil piring Arga.
Tiba-tiba Clara juga menarik piring itu.
"Sayang, aku yang ambilin yah."
Arga diam, bingung harus memilih siapa. Kedua istrinya sekarang saling berebut.
"Iya Sayang."
__ADS_1
Dari kalimatnya itu sudah menunjukkan, kalau dia memilih Clara.
Dengan senyuman sinis Clara menarik piring Arga dari tangan Zanna sambil menaikkan satu alisnya.
Tio yang melihatnya merasa sangat marah mengepal tangan diatas meja.
Melihat dari sikap Arga yang dingin dengan Zanna, secara tidak langsung tunjukkan bahwa Arga tidak mencintai Zanna.
Dan Arga malah menyia-nyiakan perhatian Zanna yang seharusnya dia dapatkan.
"Bagaimana ceritanya Kak Arga bisa punya dua istri, dan dari kedua wanita ini, siapa istri pertama?"
Tio tiba-tiba melontarkan kalimat pertanyaan yang membuat Arga diam.
"Kalau aku jawab memangnya apa untung untukmu?" Ucapnya tanya balik.
"Ada, aku jadi tau mana kakak ipar pertamaku dan mana kakak ipar keduaku." Ucapnya tersenyum.
"Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" Ucapnya menurunkan kedua alisnya.
"Tidak, Zanna istri pertamaku dan Clara istri keduaku." Ucapnya dengan ekspresi yang santai.
"Wah hebat yah, kakak bisa dapat istri dua sekaligus. Apa pernikahan kalian dilaksanakan bersamaan?"
Tio kembali melontarkan kalimat pertanyaan.
"Sepertinya kamu ingin tau banyak bagaimana rumah tanggaku!" Ucap Arga dengan tatapan yang tajam.
"Tidak, aku hanya bertanya saja. Kalau tidak mau dijawab juga tidak apa-apa."
"Sepertinya pertanyaan itu tidak perlu dijawab." Ucapnya ketus.
"Terserah, itu pilihan Kakak."
Melihat kedua Cucunya yang beradu mulut, Nyoya Melina masuk ke tengah pembicaraan mereka.
"Jangan bertengkar di meja makan!"
Setelah ditegur Neneknya mereka berdua langsung diam.
Zanna terlihat gelisa, dia takut Tio akan bicara yang tidak-tidak terhadap keluarganya sampai dia jadi tidak fokus saat mengambil beberapa lauk yang ada diatas meja.
Tio tiba-tiba berbicara lagi menegur Zanna yang menyetok lauk.
"Kakak ipar tidak Alergi dengan Undang?" Ucapnya, membuat semua orang berhenti makan.
Semua orang bingung dengan pertanyaan Tio.
Melihat ekspresi semua orang yang bingung
Sontak Zanna menjawabnya pertanyaan Tio dengan spontan.
"Tidak!" Ucapannya mengambil udang krispi itu meletakan di piringnya.
Padahal Zanna Alergi dengan Undang, kalau dia makan sedikit saja maka dia akan gatal-gatal dan timbul bintik merah di tubuhnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Seolah-olah kamu tau." Ucap Arga dengan tatapan yang tajam melihat adiknya.
"Tidak apa-apa aku cuman tanya, siapa tau dia punya Alergi dengan makanan. Seperti aku tidak bisa makan udang."
"Terus apa hubunganya?"
"Cuman jaga-jaga, kalau dia punya Alergi aku akan memberikan obatku." Ucapnya mengeluarkan botol kecil yang berisikan obat alergi.
Tio selalu membawa obat alerginya kemanapun, karena dia punya alergi dengan udang.
Setiap Tio bicara, hati Zanna was-was. Takut Tio akan mengungkit masa lalu mereka.
"Apa yang dia inginkan." Bantinya khawatir sambil menatap Tio yang juga menatapnya.
"Sudah-susah, jangan ribut lagi." Ucapnya Neneknya.
Mereka semua lanjut makan lagi.
Saat mereka semua sedangkan makan, Arga menoleh ke samping kirinya melihat piring Zanna yang udang diambil Zanna dipisah dengan lauk yang lainnya.
__ADS_1
"Kenapa udangnya tidak dimakan? Kamu tidak suka atau kamu Alergi?" Ucapnya dengan nada suara yang kecil.
"Tidak Mas, aku makan kok." Ucapnya, sambil makan udang itu di hadapan Arga.
Tio yang melihat itu, mengerutkan dahinya.
"Bodoh, dia Alergi tapi masih saja dimakan." Batinya kesal.
Tio marah karena Zanna memakan udang itu, padahal Tio tau kalau tubuh Zanna tidak akan kuat menahan efek dari Alerginya.
Kejadian serupa ini pernah terjadi saat mereka masih sekolah.
Zanna yang masih duduk dibangku kelas 2 SMA pergi bersama teman-temannya dan Tio ke suatu warung makan di pinggir jalan.
Saat itu mereka habis pulang dari kerja kelompok di rumah salah satu rumah teman mereka. Mereka mencari warung terdekat dan menemukan warung itu.
Mereka semua memesan Nasi goreng spesial kecuali Tio, dia memesan Nasi Lalapan.
Pada saat semua makan sampai di meja, mereka semua langsung makan.
Mereka tidak memperhatikan apa saja campuran yang ada di nasi goreng mereka. Itu semua karena lantaran laparnya sampai makan pun tidak dirasa.
Saat Nasi goreng sudah setengah, Zanna baru saja di dalam nasi goreng ada campuran Udangnya.
Sontak Zanna langsung berhenti makan, keluar dari warung makan sambil garuk-garuk.
Tio yang melihat pacarnya pergi, dia juga ikut keluar dari warung makan.
"Sayang kamu kenapa?"
Tio berdiri disamping Zanna yang terus -terusan badannya menggaruk.
"Di nasi gorengnya ada udang."
"Kamu Alergi Udang?"
"Iya…"
Melihat tangan Zanna yang mulai muncul bintik-bintik merah.
Tio langsung berlari masuk ke dalam warung mengambil obat Alergi yang ada di dalam tasnya, dia juga tidak lupa mengambil sebotol air mineral.
Tio langsung berlari keluar memberikan obatnya ke tangan Zanna.
Dia juga membuka tutup botol air mineral itu, membantu menyodorkan botol itu ke bibir Zanna.
"Untung saja aku membawa obatku."
"Kamu juga Alergi udang?"
"Iya….."
Melihat Zanna yang terus menggaruk, Tio menghentikan tangan Zanna
"Jangan digaruk nanti semakin parah."
"Tapi kalau tidak digaruk gatal sayang."
Tio mengusap-usap kedua tangan Zanna membantu mengurangi rasa gatalnya sampai obatnya bereaksi.
Sejak saat itu mereka jadi tau, kalau mereka punya Alergi yang sama.
Belum berselang 5 menit Zanna makan udang itu, dia mulai merasakan gatal di tangannya.
Dia mulai menggaruk jari-jari dan pergelangannya.
Karena rasanya gatalnya yang sudah luar biasa, Zanna berdiri dari kursinya pamit ke pergi ke toilet.
"Mas, aku pergi ke toilet dulu." Ucapnya sambil menyembunyikan tangannya.
Arga mengangguk, memperbolehkan Zanna pergi ke toilet.
__ADS_1
Bersambung…..