Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 27 Menemani Zanna di rumah sakit


__ADS_3

Rumah sakit.


Hampir 30 menit Arga berjalan-jalan di luar rumah sakit, dia masih memikirkan tingkah bodoh yang dilakukannya.


Arga yang tidak enak meninggalkan Zanna begitu lama, berniat ingin kembali.


Tapi Langkahnya tiba-tiba terhenti saat mendengar ada suara pukulan botol diiringi dengan teriak "Bubur, bubur...."


Suara teriakan penjual bubur yang melewati rumah sakit.


Arga berinisiatif membelikan bubur ayam untuk Zanna karena dia tau Zanna belum makan sama sekali.


Setelah memegang satu bungkus bubur ayam, Arga buru-buru kembali ke dalam rumah sakit.


Di tengah perjalanan menuju ke kamar Zanna, Arga melewati ruang bayi.


Seketika Arga berhenti sejenak, berbalik mendekat wajahnya ke kaca melihat bayi-bayi mungil yang ada di dalam keranjang.


Arga menempelkan tangannya ke kaca memperhatikan kepolosan murni yang mereka tampilkan.


Arga tersenyum melihat bayi-bayi itu, rasanya dia ingin menggendongnya.


"Adai saja Clara tidak terjatuh, aku pasti akan berdiri disini melihat anakku nantinya." Ucapnya sedih.


Jiwa kebapakaan yang dimilikinya keluar melihat bayi-bayi mungil itu.


Tidak dipungkiri di umurnya yang sudah berkepala tiga, Arga pasti sudah punya keinginan untuk memiliki seorang anak.


Setelah mengetahui Clara yang hamil pada saat itu, Arga begitu bahagia sampai tidak bisa berkata apa-apa.


Dia meluangkan waktunya lebih untuk Clara dan calon bayinya, tapi takdir berkata lain. Di usia kehamilan Clara yang masuk satu bulan, mereka malah kehilangan calon bayi mereka.


Itu semua karena kecemburuan semata yang membuat mereka kehilangan sesuatu yang paling berharga di dalam kehidupan mereka.


Hadia yang terhindah yang tuhan berikan, telah diambil kembali.


Arga yang tadinya hanya ingin melihat sebentar, ternyata menghabiskan 20 menit berdiri depan kaca hanya untuk melihat bayi-bayi itu.


Dia pun berbalik pergi karena mengingat bubur yang dia pegang tidak lama lagi akan dingin jika dia terus berdiri disana.


Sesampainya didepan pintu kamar Zanna, Arga menarik nafas panjang membuka pintu.


"Aku kembali membawa bubur untukmu." Ucapnya tersenyum lebar.

__ADS_1


Tapi senyuman itu tiba-tiba menciut melihat tatapan aneh Neneknya, Niko dan Zanna.


"Mas Arga ke mana saja?" 


Nenek Arga datang menarik kuping cucunya itu.


"Kamu pergi ke mana saja? Kenapa membiarkan dia sendiri. Untung Omah dan Niko datang!" Ucapnya marah menyeret Arga mendekat ke Brangkar Zanna.


Setelah Zanna ditangani Dokter Arga menghubungi Neneknya untuk memberi kabar bahwa Zanna sedang dirawat di rumah sakit.


"Omah lepaskan, aku bukan anak kecil lagi." Ucapnya kesakitan memegang tangan Neneknya.


"Ini pelajaran untukmu, karena kamu menantuku masuk ke rumah sakit." Ucapnya mengomoli Arga habis-habisan.


"Aku mohon Omah lepaskan saja, Arga sepertinya sangat kesakitan. Aku tidak tega melihatnya." Ucapnya Zanna yang sedih melihat Suaminya yang kesakitan.


"Karena ini permintaan menantuku aku mengampunimu!" Ucapnya melepaskan jewerannya.


"Lain kali kalau kamu melakukannya lagi, aku akan menghajarmu!" Ucapnya memukul kepala Arga.


"Iya Maaf Omah," ucapnya sambil mengelus kepalanya yang sakit.


"Apa kepala Mas Arga sakit?" Ucap Zanna tampak khawatir.


"Cucuku tidak boleh lemah. Bagaimana nantinya mau menjaga menantu kalau pukulan seperti itu saja sudah kesakitan." 


"Iya Omah, aku juga tidak selemah itu kok." Ucapnya mengerutkan dahinya.


"Ya sudah karena kamu sudah kembali, Omah mau pamit pulang duluan." 


"Jaga menantuku baik-baik!" Ucapnya dengan sorot mata yang tajam.


"Omah tenang saja, aku pastikan menjaganya."


"Aku pegang kata-katamu Arga." Ucapnya pergi.


Niko juga ikut pergi, tapi nenek Arga tiba-tiba menghentikannya.


"Kamu tidak perlu ikut pergi."


"Kamu disini saja menemani mereka, jangan sampai mereka membutuhkan sesuatu." Sambungnya.


"Baik Nyonya besar." 

__ADS_1


Niko mengikuti perintah Nenek Arga dia tetap disana menemani Arga dan Zanna.


"Apa kamu tidak capek berdiri dari tadi, disana ada sofa kamu bisa duduk." Ucap Zanna kasihan melihat Niko yang terus-terusan berdiri sejak dia datang.


"Tidak apa-apa Nona."


"Niko duduklah, kamu tidak perlu sesungkan itu. Kamu sudah bekerja denganku bertahun-tahun, aku sudah menganggapmu seperti keluargaku. Jadi kamu tidak perlu seformal itu."


"Iya maaf Tuan." Ucap Niko pergi duduk ke sofa.


Sedangkan Arga meletakkan bubur yang dia beli di atas meja, lalu duduk kembali di samping tempat tidur Zanna.


"Kamu makan dulu, aku sudah membelikanmu bubur Ayam." Ucapnya mengambil kontak bubur menaruhnya di pangkuannya.


"Ayo makan." Ucapnya dengan lembut menyuapkan bubur ke mulut Zanna.


"Kamu harus makan yang banyak biar cepat sembuh." Ucapnya sambil menyuapkan lagi.


"Tunggu sebentar!"


Zanna sontak langsung berhenti mengunyah, melihat wajah Arga yang sangat dekat dengannya.


Arga mengusap bubur yang ada di ujung bibir Zanna dengan ibu jarinya.


Jantung Zanna tiba-tiba berdebar kencang, dia tidak bisa mengendalikan perasaan yang canggung melihat suaminya sendiri sedekat itu.


"Kamu makannya jangan belepotan." Ucapnya mundur.


"Iya maaf Mas." Ucapnya malu.


Niko melihat Arga dan Zanna yang mulai dekat tampak ikut bahagia, walaupun ada rasa sesak di dalam dadanya.


Niko ternyata diam-diam menyimpan rasa pada Zanna, tapi dia tau itu tidak boleh, karena Zanna adalah wanita yang sudah bersuami. Untuk memiliki Zanna itu mustahil baginya.


Dia harus mengubur dalam-dalam perasaannya terhadap Zanna, melihat orang kita cintai tersenyum itu sudah membuat kita bahagia tanpa harus memilikinya.


Terkadang tidak semua yang kita inginkan bisa kita miliki, cukup melihatnya dari jauh sudah anugerah terbesar yang berikan tuhan.


Mencintai seseorang bukan sekedar memiliki dirinya, tapi juga jiwanya.


Percuma kamu memiliki raganya tapi tidak dengan jiwanya.


Itu rasanya seperti makan tanpa garam….

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2