Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 15 Arga Membawa pulang Zann


__ADS_3

Arga berdiri di depan para pria itu dengan raut wajah marah mengepal tangannya.


Pria ditendang Arga bangkit.


"Siapa kamu ? Beraninya,menghentikan mi. Sudah bosan hidup kamu!" Teriak pria itu marah.


Zanna langsung bangun berlari dibelakang Arga dengan wajah penuh air mata menutupi tubuhnya.


"Kembalikan wanita itu pada kami." Ucap pria itu mau menarik tangan Zanna.


Arga menarik tangan pria itu, mematahkan tangannya.


Crunk…


Bunyi suara tulang patah.


Pria itu berteriak histeris dengan raut wajah yang kesakitan.


Arga menonjok wajah pria itu dengan tangan satunya sampai membuat pria itu melangkah mundur.


"Bajingan!" Teriaknya marah memegang wajahnya.


"Apa yang kalian lihat, serang dia!" Teriaknya.


Ketiga pria itu menyerang Arga bersamaan, sontak Zanna mundur ke belakang. 


Pria yang berdiri di samping Arga mengkhatamkan botol yang dipegangnya ke arah kepala Arga.


Tapi Arga menghalau dengan sikunya, menarik botolnya pria itu sambil menendang tubuh pria itu sampai terjatuh.


Pria yang berada di depan Arga menyerang bersamaan dengan pria yang berada di belakangnya.


Arga menghantamkan botol yang dia pegang di kepala pria yang ada di depannya, lalu berbalik menarik pria di belakangnya membantingnya ke tanah.


Brungk !!!


Melihat teman-temannya yang tumbang pria itu mengeluarkan belati dari saku celananya, berlari menyerang Arga.


"Mati kau bajingan!" Teriaknya, mengarah pisau itu ke dada Arga.


"Mas Arga." Teriaknya kaget melihat Arga menangkap belati itu dengan tangan kosong.


Arga memegang belati itu erat-erat dengan sorot mata yang menakutkan menatap pria pria itu, bersamaan darah yang menetes keluar dari genggaman tangannya.


Arga menarik pisau itu, membuat pria itu ketakutan. Dia menjatuhkan pisaunya ke tanah.


Arga menghajar pria itu tanpa memberi ampun sedikitpun.


Mereka berdua bergelut di tanah saling tonjok satu sama lain.


Arga menonjok hidung pria itu sampai darahnya bercucuran keluar.

__ADS_1


Arga kembali mengambil pisau yang berlumuran darah, tidak jauh dari tempatnya.


Dia jongkok diatas pria itu mau menusuk pria itu.


Tiba-tiba Niko muncul bersama empat orang polisi.


Para polisi menangkap para penjahat itu dan Niko pergi menahan Arga membunuh pria itu.


Dia menahan tangan Tuan Arga dengan kedua tangannya bersamaan dengan hujan mulai redah.


"Hentikan Tuan, jangan sampai Tuan mengotori tangan anda." 


Arga langsung membuang belati itu ke tanah.


"Kalau mereka tidak datang, aku jamin kau tidak akan bisa melihat matahari lagi esok." Ucapnya berdiri.


"Tangkap mereka Pak." Ucap Niko minta para bapak polisi mengamankan mereka semua.


Saat mengetahui wanita itu adalah Zanna, Arga langsung menelepon Niko mintanya datang bersama polisi sebelum Arga masuk ke dalam lorong gelap itu.


Arga dan Niko menghampiri Zanna yang berdiri gemetar ketakutan dengan raut wajah yang pucat.


"Nona Zanna baik-baik saja kan." Ucap Niko panik.


"Mas Arga."  


Tiba-tiba Zanna kehilangan kesadaraan jatuh pingsan, sontak Niko mau menangkap Zanna, tapi Arga lebih dulu menangkap Zanna.


Arga yang panik, menggendong Zanna.


Saat Arga mau membawa Zanna, Niko menghentikan Arga.


"Tunggu sebentar Tuan."


"Ada apa?" Ucapnya berbalik.


Niko melepaskan Jasnya menutupi baju Zanna yang hampir memperlihatkan seluruh bagian pahanya.


"Maaf aku tidak bermaksud apa-apa, tapi aku hanya ingin menjaga harga diri Nona Zanna." Ucapnya mundur selangkah.


Arga berbalik pergi dengan terburu-buru sedangkan Niko tidak ikut bersama mereka, dia akan ke kantor polisi mengurus para penjahat itu.


Arga membawa Zanna masuk ke dalam mobil, duduk di depan. Dia juga memasangkan sabuk pengaman di tubuh Zanna.


Dia berlari masuk ke dalam mobil, menginjak gas mobilnya buru-buru kembali rumah.


Sepanjang perjalanan, Arga terus melirik ke arah Zanna.


Ada rasa kasihan muncul di dalam dirinya, melihat apa yang dialami Zanna malam ini.


"Wanita ini benar-benar bodoh, kenapa dia harus mengejarku." Ucapnya menatap Zanna.

__ADS_1


"Kalau dia tidak mengejarku, ini pasti tidak terjadi padanya." Ucapnya kasihan.


Di rumah.


Clara begitu gelisa menunggu kepulangan Arga.


Dia mondar mandir di depan teras sambil melipat kedua tangannya di bawah dada.


"Arga benar-benar keterlaluan, dia meninggalkanku karena wanita itu." Ucapnya marah, mondar-mandir.


"Awas saja kalau wanita itu sampai pulang, aku pasti akan memberinya pelajaran."


Tiba-tiba ada suara klakson mobil.


Mobil Arga telah tiba…


Arga keluar dari mobil.


Clara langsung datang memarahi Arga.


"Kamu keterlaluan, bisa-bisanya kamu meninggalku sendiri rumah, demi mencari wanita itu."


"Kamu bisa diam dulu enggak." Ucapnya melewati Clara begitu saja pergi sebelah menggendong Zanna keluar dari mobil.


Clara melongo kaget melihat Arga berani menggendong Zanna di depannya.


Arga masuk begitu saja melewati Clara tanpa menoleh padanya, membuat Clara naik pitam.


Arga membawa Zanna di kamar tamu.


Dia membaringkan Zanna ke tempat tidur sambil menyelimuti tubuh Zanna dengan selimut.


Clara datang menarik Arga ke luar dari kamar.


Clara melepaskan tarikanya tepat didepan pintu.


 "Kamu sudah tidak menganggapku ada dirumah ini." Ucapnya marah dengan tatapan penuh emosi.


"Aku lebih baik balik ke apartemenku lagi begini." Sambungnya.


Arga langsung memeluk Clara sambil mengelus kepala Clara.


"Aku tidak mau kamu pergi, tetap disini bersamaku."


"Aku tidak mau tinggal dirumah di mana aku tidak dianggap. Kamu sekarang lebih peduli pada wanita itu dari padaku yang sedang mengandung anakmu." 


Arga melepaskan pelukannya memegang kedua bahu Clara.


"Aku hanya membantunya saja, tidak lebih dari itu."


"Kamu akan tetap menjadi satu-satunya wanita yang aku cintai." Ucapnya mengecup kening Clara dengan lembut.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2