
"Why?"
"Kita pergi bersama artinya kita juga pulang bersama tapi kenapa kalian membiarkan aku pulang sendiri!"
Sherlyn sangat kecewa dengan teman-temanya yang meninggalkannya, jika temannya bersamanya mungkin dia tidak akan terjebak didalam hubungan yang mengerikan ini.
Neta, Jessi dan Tias memandang Della dengan tatapan bingung.
"Bukannya Della yang mengantarmu pulang." Ucap mereka serentak.
"Iya, memang aku yang mau mengantarnya."
"Lalu kenapa aku tidak pulang denganmu!" Ucap Sherlyn dengan nada yang serius mempertanyakan kenapa dia tidak pulang bersama Della seperti yang dikatakan ketiga temannya itu.
"Jadi gini, saat malam itu aku membawa Sherlyn ke mobilku akan mengantarnya pulang tapi kunci mobilku tertinggal di meja bar. Jadi aku harus balik lagi ke dalam untuk mengambil kunciku, dan saat aku kembali ke mobil Sherlyn sudah menghilang dari sana."
"Aku pikir Sherlyn pulang naik taksi karena terlalu lama menungguku."
"Memangnya ada apa? kamu pulang dengan siapa? kenapa wajahmu tampak tidak begitu senang." Sambungnya.
"Sudah tidak perlu dibahas lagi. Kalian memang tidak lapar?"
Sherlyn mencoba mengalihkan pembicaraan agar teman-teman tidak membahas kejadian malam itu yang membuat hatinya sakit jika dia mengingatnya kembali.
"Iya pesan dulu, perutku sudah keroncongan nih." Ucap Gita sambil memegang perutnya dengan raut wajah yang mengkerut.
"Uuuh dasar luh, kalau masalah perut aja cepat banget bunyinya." Ucap Freya meledek.
"Biarin..."
"Aku manusia wajar kalau lapar, kecuali aku bukan manusia." Ucapnya membalas ledekan Freya.
"Terserahlah." Ucap Freya menaikkan kedua alisnya.
Teman-teman Keyla memesan beberapa menu makanan, dari Nasi goreng, Bakso, Bakmi Ayam, Batagor dan 4 minuman es Jeruk di warung Ibu Desi.
Saat mereka semua makan Sherlyn tampak melamun memikirkan bagaimana dia bisa tidak mengingat kenapa dia bisa bersama Lendra.
__ADS_1
Dia benar-benar lupa, apakah itu karena pengaruh Alkohol atau ada sesuatu yang lain?
Setelah mereka selesai makan, Sherlyn dan teman-temannya kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran berikutnya.
Tapi ditengah jalan menuju kelasnya Sherlyn dan teman-temannya berpapasan dengan Lendra dan Bian.
Sherlyn memalingkan wajahnya dan terus berjalan melewati Lendra.
Lendra yang melihat itu menarik tangan Sherlyn mendorong tubuh ke tembok.
"Kenapa kamu tidak mau melihat pacarmu ini." Ucapnya mengangkat dagu Sherlyn.
Lendra tidak senang dengan sikap Sherlyn masih mengacuhkan setelah apa yang mereka lakukan bersama.
"Lepaskan, aku harus kembali ke kelas." Ucapnya ketus, melepaskan tangan Lendra dari dagu nya pergi dari sana begitu saja.
Keempat teman Sherlyn menatap Lendra dengan sinis berjalan mengikuti Sherlyn dari belakang.
Lendra mengepal tangan menampakan bahwa dia sangat marah diacuhkan seperti itu oleh Sherlyn.
Dia pikir setelah membuat Sherlyn menjadi pacarnya dan merebut kesucian nya akan membuat kesombongannya itu menurun tapi ternyata tidak.
"Bukan nanti tapi detik ini juga, dia harus membiasakannya. Kalau tidak Video dan fotonya akan kusebar ke anak Sekolah." Ucapnya dengan sorot tajam.
"Kamu yakin akan melakukan itu?"
"Dia juga harus tau rasanya dipermalukan seperti apa. Aku akan mematahkan kesombongannya itu!"
"Setelah semua apa yang aku mau terjadi, aku akan membuangnya seperti sampah!"
Di mata Lendra dipenuhi dengan kemarahan dan kebencian pada Sherlyn karena penolakan yang diterimanya dan bukan cuman itu rasa dipermalukan didepan umum masih membekas hatinya.
Karena goresan luka yang diberikan Sherlyn membuat Lendra ingin membuat Sherlyn merasakan apa yang dia rasakan.
Lendra dan Bia berbalik pergi, tapi tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
"Lendra!"
__ADS_1
Mereka berdua sontak berbalik ke belakang melihat siapa yang memanggilnya dan ternyata itu adalah Della.
"Kamu duluan saja, aku akan menyusul."
"Okey, aku tunggu di kantin." Ucap Bian meninggalkan Lendra.
"Ada apa kamu mencariku?" Ucapnya dingin.
"Kenapa kamu pacaran dengan Sherlyn? Kamu menganggapku ada atau tidak!" Ucapnya dengan nada yang marah.
Della dan Lendra ternyata selama ini punya hubungan spesial yang tidak diketahui teman-temannya.
"Aku sudah bosan denganmu!" Ucapnya sambil memajukan wajahnya menatap Della dengan sorot mata yang dingin.
"Bosan!"
Della yang tidak menerima menampar wajah Lendra, tapi tangannya dihentikan.
"Dengan semudah itu kamu bilang bosan setelah apa yang kita lakukan." Ucapnya marah.
"Jangan terlalu banyak berharap padaku. Semua yang kita lakukan tidak ada artinya bagiku!"
"Tidak ada? Aku sudah membantumu membawa Sherlyn padamu, tapi kamu bilang tidak ada artinya? Aku sudah menghianati teman-temanku. Kamu pikir itu tidak ada artinya!" Ucap marah.
Della ternyata orang yang membantu Lendra, itu sebabnya kenapa Sherlyn bisa pulang bersama Lendra karena semua itu sudah direncanakan oleh mereka berdua.
Bahkan ajakan untuk pergi ke bar adalah saran dari Della.
"Aku tidak peduli!"
"Kamu sebenarnya tidak layak dipanggil seorang teman, karena seorang teman tidak akan menghianati temannya sendiri." Ucapnya berbalik pergi meninggal Della begitu saja.
"Aku seharusnya tidak melakukan itu."
Della menyesali penghiantanya karena cuman lelaki pria seperti Lendra membuat dia harus menghianati pertemanannya yang sudah bertahun-tahun.
Karena kebodohan itu temannya sudah terjebak ke hubungan yang akan menghancurkan kehidupan temannya.
__ADS_1
Bersambung...