
Di Rumah Ibu Zanna.
Terlihat Ibu Zanna yang sedang menyapu di depan teras.
Tiba-tiba Ibu Zanna berhenti menyapu karena melihat ada mobil yang tidak dikenalnya berhenti tepat di depan pagar rumahnya.
"Itu siapa yah, mobil Arga kemarin bukan seperti ini. Atau mungkin Arga ganti mobil kali yah."
Saat pria itu keluar dari mobilnya.
Ibu Zanna kaget ternyata orang itu bukan Arga melainkan Tio.
Tio berjalan dengan senyuman ramah di wajahnya membawa paper bag di tangan kanannya dan ditangan kirinya ada bikisan dan beberapa hadiah untuk Ibu Zanna.
Dia masuk ke dalam halaman rumah Ibu Zanna, Menghampiri Ibu Zanna yang tampak bingung dengan kedatangan orang tidak dia kenal.
"Permisi bu, Zanna ada?" Ucapnya berdiri di depan teras.
"Kamu siapa?"
"Ibu tidak ingat denganku?"
"Tidak, kamu siapa?" Ucapnya bingung.
"Aku Tio bu, teman Zanna di sekolah. Aku sering sekali kesini bersama Zanna bahkan kami sering keluar bersama. Ibu ingat masih tidak ingat padaku?."
Saat Dia menyebut namanya, Ibu Zanna langsung ingat, kalau dulu Zanna dan Tio sangat dekat bahkan Ibu Zanna saksi kedekatan Tio dan putrinya.
Setiap hari Zanna dan Tio pasti akan datang ke rumah bermain bersama, belajar bersama bahkan Tio pernah tidur rumah Zanna.
Ibu Zanna sudah seperti Ibu Tio sendiri dan Tio sudah seperti anaknya sendiri.
"Ibu sudah ingat, kamu kan yang sering habisin lauk di rumah ibu." Ucapnya tersenyum hangat menyambut kedatangan Tio.
"Hahahah, Soalnya kalau Ibu dan Zanna yang masak pasti enak. Aku jadi ketagihan kalau makan di rumah ibu."
"Ayo duduk dulu, biar kita ngobrolnya enak."
"Iya bu."
Tio dan Ibu Zanna duduk di kursi yang terbuat dari kayu yang ada di atas teras rumah.
Tio memberikan bingkisan makan dan hadiah untuk Ibu Zanna.
"Tidak perlu repot-repot Nak."
"Tidak kok bu, ini tidak merepotkan sama sekali."
"Bagaimana kabar Ibu?"
"Alhamdulillah, baik. Kamu bagaimana kabarmu, sudah lama sekali kamu tidak pernah datang kesini, terakhir kamu datang mengantar Zanna setelah acara kelulusan. Setelah itu kamu belum pernah lagi muncul."
"Aku juga baik bu. Maaf aku baru datang sekarang, karena saat itu aku harus keluar Negeri sekolah disana. Aku tidak sempat datang untuk berpamitan pada Zanna dan Ibu."
"Kalau boleh tau Zanna mana yah bu, kok nggak kelihatan. Apa dia lagi pergi kerja?"
Ibu Zanna tiba-tiba diam dengan raut wajah tidak enak, kalau dia memberitahu Tio kalau Zanna sudah menikah.
"Ibu kok diam? Zanna mana. Aku membawa sesuatu untuknya." Ucapnya celingak-celinguk mencari Zanna.
"Zanna tidak ada disini…"
__ADS_1
"Dia lagi keluar?"
"Tidak dia sudah tidak tinggal disini."
"Kok bisa, dia kostnya dimana?"
"Dia tidak kost, Zanna sudah punya rumah sendiri. Dia tinggal dengan suaminya."
Wajah Tio berubah drastis mendengar Zanna tinggal dengan suami nya.
"Suami? Zanna sudah menikah?" Ucapnya dengan raut wajah Shock.
"Iya nak"
"Kapan?"
"Satu setengah bulan yang lalu,"
Tio seketika terdiam dengan kepala yang tertunduk.
Tubuhnya langsung lemas seperti kehilangan setengah jiwanya.
Tatapan Tio berubah menjadi kosong.
"Apa aku terlalu lama meninggalkannya." Bantinya.
Dia masih tidak percaya wanita yang akan dijadikan istri sejak dulu, ternyata sudah menjadi milik orang lain.
Tio kehilangan wanita yang sangat dia cintai setelah semua kesuksesan dan impiannya tercapai.
"Ibu tidak berbohong kan?"
Tio masih tidak percaya, dia berharap Ibu Zanna hanya sedang bercanda padanya.
Mendengar hal itu untuk kedua kalinya sontak Tio berdiri dari tempat duduknya dengan mata yang berkaca-kaca.
Tanpa dia sadari air matanya menetes keluar.
"Aku terlalu cengeng." Ucapnya menghapus air matanya.
Tio berjalan dengan hati yang hancur, tidak ada lagi harapan untuk bisa mendapatkan Zanna.
Padahal dia sudah mempersiapkan hadiah mewah untuk Zanna tapi sayangnya hadiah itu harus dibawa pulang kembali.
"Tunggu nak, kamu sudah mau pulang?"
Tio berbalik kebelakang.
"Iya bu, aku kebetulan ada urusan. Jadi aku pamit pulang bu, permisi." Ucapnya berbalik pergi.
"Tunggu nak."
Ibu Zanna mengejar Tio sambil membawa bingkisan yang dibawa Tio.
Ibu Zanna berniat mengembalikan semua itu.
Tio berdiri di depan mobilnya.
"Bawa pulang saja Nak." Ucapnya memberikan kembali bingkisan
Tapi Tio menolak.
__ADS_1
"Ini memang untuk Ibu, tidak perlu mengembalikannya padaku."
"Aku pamit bu." Ucapnya mencium tangan Ibu Zanna sebelum dia masuk kedalam mobil.
Tio meninggalkan rumah Zanna dengan perasaan yang hancur.
Di sisi lain.
Terlihat Zanna tengah berada di dapur, sedang memasak untuk Arga.
Bi Asri yang berada disamping Zanna, dia bercerita tentang Nenek Arga yang kemarin malam datang ke rumah.
"Nona kemarin malam Nyonya besar datang bersama Tuan muda."
"Omah? Ada apa."
"Dia mencari Nona, Nyonya sampai menunggu Nona tapi Nona tidak pulang. Jadi pulang."
"Astaga kalau aku tahu Omah akan datang aku tidak akan pergi ke rumah ibu."
"Aku jadi tidak enak dengan Omah."
"Tunggu tadi Bi Asri bilang Omah datang dengan Tuan muda, Siapa Tuan Muda?"
Zanna baru kali ini mendengar nama Tuan Muda selama hidup bersama dengan keluarga Tomo.
"Oh itu Nona, Tuan muda itu anak kedua dari Nyonya Elina. Kemarin Nyonya besar mengajaknya kesini untuk memperkenalkan Nona dengan Tuan muda."
"Astaga aku jadi tidak enak pada Omah, sebentar sore kalau Mas Arga bisa pulang lebih cepat aku mau mengajak Mas Arga ke rumah Omah."
"Iya Nona, sebaiknya Nona dan Tuan Arga pergi menemui Nyonya besar. Kemarin dari sore sampai malam Nyonya besar terus menunggu sampai Tuan Muda ketiduran."
Mendengar hal itu Zanna semakin tidak enak karena membuat Omah dan Tuan muda alias Tio menunggu sampai larut malam.
"Iya bi, aku tanya dulu Mas Arga."
Setelah berbincang cukup lama di dapur, Zanna memindahkan nasi goreng yang ada di wajan ke wadah dan beberapa telur dadar ke wadah lain juga.
Dia membawa semua makan itu ke meja makan sedangkan Bi Asri membawa satu piring yang berisikan ayam goreng.
Zanna duduk di meja makan tunggu kedatangan suaminya.
Tidak lama kemudian Arga muncul.
Arga menarik kursi yang berhadapan dengan Zanna.
Melihat suaminya sudah duduk, Zanna sontak berdiri menghampiri suaminya.
Zanna menyendokkan nasi goreng untuk suaminya tercinta.
"Mas mau pake apa, telur atau ayam?."
"Telur saja."
Zanna menyendokkan satu telur dadar di piring Arga.
Setelah itu dia meletakkannya kembali di depan Arga dan Zanna kembali duduk di kursinya.
Zanna duduk memperhatikan suaminya makan, ini pemandangan pertama kalinya mereka berdua duduk di meja makan bersama.
Tanpa ada keributan yang mengganggu kebersamaan mereka berdua.
__ADS_1
Ini adalah momen terindah bagi Zanna bisa duduk bersama suaminya tanpa harus ada keributan lebih dulu.
Bersambung…...