Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 48 Tio pergi ke Rumah Zanna


__ADS_3

Di kediaman rumah besar Tomo.


Tampak di dalam kamar, Tio baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di bawah perutnya.


Memperlihatkan dadanya yang besar dan perutnya yang berotot membentuk kontak-kotak.


Tio berjalan ke lemari pakaiannya mengambil pakaian yang akan dia gunakan untuk bertemu Zanna.


Tio tampak kebingungan mencari pakaian apa yang bagus untuk dikenakan di hari spesialnya ini.


Dia mengeluarkan beberapa pakaian nya, mencoba melihatnya di depan cermin, mana pakaian yang membuat aura ketampanan semakin bersinar.


Setelah hampir 15 menit menghabiskan waktu hanya memilih pakaian.


Tio memutuskan memakai sweater coklat dengan dalaman kemeja putih.


Dia memilih pakaian itu agar terlihat simpel dan tidak terlalu formal.


Tio memilih Celana berwarna hitam dan memakai Jam tangan berwarna silver untuk menambah kesan lebih keren.


Setelah selesai berpakaian Tio mengambil kotak kado untuk Zanna, dia menaruhnya di paper bag.


Tio keluar dari kamarnya, menuruni tangga dengan raut wajah gembira.


Neneknya yang melihat Tio turun dari tangga sontak menghentikannya.


"Tio…."


Tio berhenti di depan tangga menoleh ke samping.


"Iya Omah, ada apa?"


"Pagi-pagi begini Kamu sudah rapi, memangnya mau pergi kemana?"


"Aku mau pergi menemui seseorang Omah."


"Emmm jangan-jangan wanita yang kemarin malam kamu sebut yah." Ucapnya senyum-senyum menggoda cucunya.


"Siapa sih wanita itu, Omah jadi penasaran seperti apa wanita yang membuat cucuku sampai seperti ini."


"Ada deh, pokoknya wanita itu cantik, baik, pintar, sopan. Pokoknya paket lengkap. Omah sabar dulu, nanti aku juga pasti akan membawanya kesini memperkenalkannya pada Omah." 


"Aku pergi dulu Omah." Ucapnya menghampiri Neneknya, mencium kedua pipi neneknya.


"Hati-hati…"


Tio pergi keluar dari rumah menggunakan Mobil BMW 8 Series.


Saat Tio keluar, Ibunya ternyata melihatnya pergi.


Ibunya pergi menghampiri Mertuanya, menanyakan kemana perginya putranya itu pagi-pagi.


"Ibu, Tio pergi kemana?"


"Dia mau pergi menemui seseorang." Ucapnya berbalik pergi kembali ke kamarnya.


"Menemui siapa?"


"Tanya saja padanya, aku juga tidak tau."


Nenek Arga masuk ke dalam kamarnya.


"Menemui seseorang? Siapa yang mau ditemuinya aku jadi kepo." 


Ibu Tio penasaran dengan orang mau ditemui putranya, setahunya Tio tidak punya banyak teman disini.


Rata-rata teman sekolahnya dulu semua ada di luar Negeri dan ada beberapa yang berada di luar kota.


"Mungkin temanya ada yang sudah balik kali yah." 


Ibu Tio pergi ke meja makan duduk disana.


"Bi Darti…."


Bi Darti sedang mencuci piring didapur, melepaskan pekerjaannya mendengar suara Nyonya Elina.


Bi Darti keluar dari dapur buru-buru menghampiri Nyonya Elina.

__ADS_1


"Iya Nyonya, ada apa?"


"Buatkan saya kopi." 


"Baik Nyonya." 


Bi Darti kembali ke dapur membuatkan kopi Untuk Nyonya Elina.


Nyonya Elina membuka kontak hpnya, menelpon seseorang.


Kring….


Kring…..


Kring…..


Tidak lama kemudian orang dia hubungi mengangkat teleponnya.


"Hallo Nyonya." Ucap pria itu yang sedang berada di warung makan.


"Bagaimana dengan pekerjaan kalian, sudah beberapa hari ini kalian tidak menginformasikan padaku."


"Maaf Nyonya, kami belum melaksanakannya. Sejak malam itu kami belum kembali ke rumah itu, mencari tahu wanita yang Nyonya suruh lenyapkan."


"Bodoh! Aku tidak mau tau pekerjaan kalian harus secepatnya kalian selesaikan. Kalau tidak, aku yang akan melenyapkan kalian berdua." Ucapnya mematikan teleponnya.


Nyonya Elina kelihatan sangat marah, karena dua orang suruhannya ternyata belum bergerak untuk melenyapkan Zanna.


Di sisi lain


Rumah Zanna.


Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, akhirnya mereka sampai di rumah.


Arga meminta pria itu mengantarkan mereka sampai di rumah.


Zanna dan Arga keluar dari mobil secara bersamaan dengan jalur pintu yang berbeda.


Saat Zanna mau pergi, Pria itu keluar dari mobil.


Arga juga menghentikan langkah berdiri di depan pagar melihat pria itu bicara didepan Zanna.


"Ada apa Tuan?"


Pria itu tiba-tiba memegang tangan Zanna.


"Kalau boleh tau  Nona cantik ini namanya siapa?" Ucapnya pria itu, tersenyum.


"Oh namaku…." 


Tiba-tiba Arga menarik tangan Zanna melepaskan tangan Zanna dari pria itu.


Arga lagi-lagi merangkul Zanna sambil tersenyum lebar menyebut nama zanna.


"Namanya Ate, masih ada yang anda ingin tanyakan?" Ucapnya dengan sorot mata yang tajam.


"Ate?" Ucap pria itu tampak heran.


Zanna bahkan ikut heran, saat Arga menyebut Nama Zanna dengan Ate.


"Sejak kapan aku ganti nama." Batinnya


"Ada yang salah dengan nama istriku!" Ucapnya tatapan tajam.


"Tidak Tuan, namanya cantik seperti orangnya." 


Arga melepaskan tangannya dari pinggul Zanna, menghampiri pria itu.


Pria berjalan mundur dengan raut wajah yang ketakutan Arga akan memukulnya.


Tapi ternyata Arga hanya memasukkan tumpukkan uang seratus ribu ke dalam saku baju pria itu.


"Pergi dari sini sekarang juga sebelum aku mengeluarkan isi otakmu dengan pistolku. Mengerti!" Ucapnya ber berbisik sambil menepuk punggung pria itu.


Arga melangkah mundur.


Pria itu langsung berlari ketakutan masuk ke dalam mobilnya meninggalkan rumah Zanna.

__ADS_1


"Mas Arga, kamu bicara apa dengannya. Kenapa dia ketakutan seperti itu." Ucapnya heran.


"Tidak ada, aku cuman bilang hati-hati sama berikannya sedikit ongkos pulang." Ucapnya menarik tangan Zanna masuk.


Mereka berdua berdiri didepan pintu pagar, 


"Pak Darto buka pintu nya." Teriaknya.


Di pos penjaga, tidak ada pak Darto cuman ada Niko disana.


Jadi Niko yang keluar membuka pintu pagar.


"Tuan?" 


Niko kaget melihat Arga dan Zanna yang pulang tanpa membawa mobil.


"Mobil Tuan di mana?"  


Arga menarik tangan Zanna masuk melewati Niko.


"Mobilku mogok dijalan. Kamu tolong pergi ambil mobil itu." Ucapnya melemparkan kunci mobilnya pada Niko.


Niko menangkap kunci itu 


"Dimana tempatnya Tuan?"


"Ada di pinggir jalan Taruna." Ucapnya membawa Zanna masuk.


"Baik Tuan."


Wajah Niko tampak terlihat sedih, dia tidak tau kenapa melihat Arga yang memegang tangan Zanna, hatinya seperti remuk seketika.


Di dalam rumah Arga menyuruh Zanna duduk di sofa.


Dia berdiri menatap Zanna dengan tatapan yang tajam.


"Ada apa Mas Arga, kenapa kamu melihatku seperti itu." Ucapnya bingung.


"Oouh kamu masih tanya ada apa!" 


Arga tampak kesal dengan pertanyaan yang diajukan Zanna.


"Mas Arga kenapa sih, aku nggak ngerti." 


"Kamu itu istriku, ngapain kamu kecentilan di depan pria tadi. Kamu mau mempermalukanku." Ucapnya melototi Zanna.


"Apa sih Mas."


Zanna bangun dari tempat duduknya.


"Aku tidak pernah kecentilan yah." Ucapnya dengan suara yang marah.


"Terus tadi kamu ngapain pegang-pegangan tangan, apa itu bukan namanya kecentilan."


"Dia yang pegang tanganku, lagipula aku mau melepaskan tangannya tapi kamu keburu datang." 


"Mas Arga dari tadi marah-marah terus, aku bingung." Sambungnya.


"Kalau kamu mau aku tidak marah, makanya jadi istri jangan centilan. Ada suaminya tapi masih cari laki-laki lain di luar."


"Mas Arga aneh deh, aku tidak pernah kecentilan sama pria tadi."


"Mas Arga Cemburu?" Ucapnya spontan menatap Arga.


Arga langsung memalingkan wajahnya.


"Buat apa aku cemburu, memangnya kamu siapa!"


"Terus kalau Mas tidak cemburu, kenapa Mas tiba-tiba menciumku saat pria itu mau mengajakku masuk ke mobilnya dan tadi kenapa Mas tiba-tiba menganti namaku jadi Ate di depan pria itu." Ucapnya dengan nada serius berdiri dibelakang Arga.


Arga terdiam tidak bisa berkata apa-apa.


"Lupakan saja masalah tadi, kamu siapkan aku makanan sekarang juga." Ucapnya pergi.


Arga yang malu tidak mau menjawab pertanyaan Zanna dia langsung pergi ke kamarnya untuk bersih-bersih sebelum dia pergi ke perusahaan.


Bersambung…..

__ADS_1


__ADS_2