
Di hotel….
Ruang CCTV
Niko bersama manajer hotel dan memeriksa rekaman CCTV dari jam 9 malam.
Di dalam rekaman menit ke 24, Niko meminta manager itu menghentikan rekamannya.
Karena di depan toilet wanita setelah Zanna masuk ke dalam ada 2 orang pria datang memakai baju yang rapi layak seorang tamu undangan tapi kedua pria itu memakai topi hitam yang memperlihatkan setengah dari wajah mereka.
Niko kembali meminta agar rekaman Cctv itu putar sampai salah satu pria itu masuk ke dalam kamar mandi.
Di menit 52 pria yang masuk itu keluar dengan terburu-buru sambil memegang pisau yang sangat jelas dia pegang ditangan kanannya.
Pisau itu dilumuri dengan darah yang masih segar berjatuhan di lantai.
Saat pria itu keluar wajahnya terlihat lebih jelas di menit 53:10 detik.
Niko meminta manajer itu menghentikan rekaman itu.
"Perbesar gambarnya."
Manajer memperbesar gambarnya memperlihatkan wajah pria itu dari samping.
Niko sudah menemukan orang sudah melukai Zanna.
"Kalian tidak akan bisa lari!" Ucap Niko mengepal tangan merasa sangat marah melihat kedua pelaku itu.
Niko mengambil rekaman Cctv itu untuk dijadikan sebagai barang bukti nanti nya dan untuk dia gunakan mencari kedua pelaku itu.
Setelah rekaman Cctv sudah diambil Niko mengucap terima kasih pada manajer Hotel.
"Terima kasih atas bantuan anda, sekarang kami bisa mencari pelakunya."
"Sama-sama Tuan, kami akan membantu menangkap pelaku itu dengan melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian."
"Tidak perlu, Tuan Arga sendiri yang akan mengurus masalah ini."
"Baiklah, kalau begitu tolong sampaikan permohonan maaf kami pada Tuan Arga atas kejadian yang menimpah istrinya."
"Iya, nanti saya sampaikan."
Niko keluar dari ruang keamanan meninggalkan hotel.
Di rumah sakit.
Semua orang masih menunggu ruang operasi, mereka berdoa yang terbaik untuk keselamatan Zanna.
Tapi tidak untuk Clara dan Ibu Arga.
Arga berdiri disamping neneknya sambil merangkul nya.
Nenek Arga benar-benar gelisah menunggu ruang operasi terbuka.
"Kapan operasinya selesai?" Ucap Neneknya cemas.
__ADS_1
"Aku tidak tidak tau Omah, Dokter tidak bilang berapa lama operasi akan berlangsung."
Sudah hampir 2 jam mereka berdiri di sana tapi ruang operasi juga belum terbuka.
Sedangkan Tio yang khawatir selalu melihat ke kaca pintu ruang operasi.
"Kapan operasinya selesai!"
Niko berbalik kembali.
Clara yang melihat tingkah Tio, membuatnya berpikir kalau Tio sepertinya menyukai Zanna.
Bagaimana tidak, Tio benar-benar menunjukkan kekhawatirannya ke semua orang. Bahkan ekspresi wajahnya dan tingkah melebih dari kekhawatiran dari Arga.
Saat semua orang cemas dengan keselamatan Zanna Clara datang menarik Arga menjauh dari keluargannya.
"Sayang kamu merasa tidak aneh melihat Tio?" Ucapnya dengan nada suara yang kecil.
"Memangnya kenapa dengan adikku."
"Coba kamu lihat, dia itu khawatir dengan Zanna seperti khawatir dengan kekasihnya."
"Bukanya itu aneh? Terus tadi kamu bilang Tio yang menemukan Zanna di kamar mandi. Kok bisa dia pergi ke kamar mandi wanita, tidak mungkin kan dia datang mencari Zanna."
"Atau jangan-jangan dia memang datang ke kamar mandi untuk bertemu dengan Zanna."
"Tio sepertinya menyukai Zanna." Sambungnya berusaha menghasut Arga untuk membenci Zanna. Tapi dia tidak tau kalau Arga sebenarnya sudah tau.
Arga melepaskan tangan Clara dari tanganya.
"Sekarang semua orang lagi khawatir dengan keselamatan Zanna, jangan membuat masalah dengan berpikir yang tidak-tidak. Mungkin saja itu hanya kebetulan." Ucapnya berbalik kembali pada Neneknya.
Saat Arga kembali Dokter membuka ruang operasi keluar menggunakan baju operasi berwarna hijau.
setelah memakan waktu hampir 2 jam lebih, akhirnya operasi selesai.
Tio melihat dokter keluar, langsung menanyakan bagaimana dengan keberhasilan operasinya dan kondisi Zanna.
"Dokter bagaimana apakah Operasi berhasil dan kondisinya?" Ucapnya cemas.
Seluruh keluarga Arga mendekat, mendengarkan penjelasan Dokter Tirta.
"Operasinya berjalan lancar."
"Syukur, alhamdulilah…." Ucap Tio, Arga dan Neneknya secara bersamaan.
"Lalu bagaimana kondisi menantuku sekarang."
"Nyonya tenang saja karena operasinya berjalan dengan lancar maka menantu anda sudah selamat dari bahaya. Sekarang tinggal pengobatannya saja."
Mendengar hal itu Clara dan Ibu Arga tampak kesal karena keinginan mereka tidak terjadi.
Zanna masih diberikan keselamatan dari Tuhan.
Tiba-tiba Hp Arga berdiri.
Kring…
__ADS_1
Kring…
Kring….
Arga menjauh dari keluarganya mengangkat telepon dari Niko.
"Bagaimana apa kamu sudah tau siapa pelakunya?"
"Sudah Tuan, sekarang saya sudah memegang identitas mereka berdua." Ucapnya sambil menyetir mobil.
"Berdua! Jadi pelakunya ada dua orang?"
"Iya Tuan, satu bertugas menjaga diluar dan satunya masuk kedalam untuk melukai Nona Zanna."
"Segera temukan mereka berdua dan pastikan mereka masih hidup saat bertemu denganku!"
"Baik Tuan." Ucapnya mematikan teleponnya.
Setelah mendapat rekaman itu, Niko langsung mencari identitas kedua pria itu lewat temannya yang paham bagaimana caranya mendapatkan identitas seseorang dengan mudah hanya menggunakan foto dan jejak digital.
Di rumah sakit, Zanna dibawa keluar dari ruang operasi dipindahkan ke ruang rawat inap.
Semua ikut pergi ke ruang inap terkecuali Ibu Arga.
Nyonya Elina pergi ke tempat lain, dan disana dia menelpon seseorang.
Di dalam telepon Nyonya Elina berbicara dengan seorang pria.
"Aku mau malam ini juga kamu melenyapkan kedua pria itu. Pastikan sebelum kedua pria itu mati jangan tinggalkan tempat itu."
"Baik Nyonya." Ucapnya mematikan teleponnya.
Nyonya Elina ternyata menyuruh orang untuk membunuh kedua pria itu, karena tadi dia mendengar percakapan putranya di telepon kalau Arga ternyata sedang mencari mereka.
Sebab itu, untuk menjaga namanya tidak terserat nantinya, dia harus melenyap kedua pria itu sebelum Arga menemukan mereka.
Nyonya Elina berbalik pergi kembali ke kamar Zanna. Tapi tiba-tiba putrinya Sherlyn muncul.
"Ibu bicara sama siapa tadi, kenapa ibu tadi sebut-sebut melenyapkan orang. Siapa yang ibu mau lenyapkan?"
Ternyata Sherlyn mendengar setengah dari pembicaran ibunya di telepon.
"Apa yang kamu dengar itu, tidak boleh sampai kamu ceritakan pada orang lain."
"Dengar!" Ucapnya mencengkram lengan Sherlyn.
"Iyaa bu, tapi kenapa ibu mau membunuhnya." Ucapnya penasaran.
"Itu bukan urusanmu. Kamu tutup sama mulutmu itu, jangan banyak bertanya."
"Baiklah Bu."
Karena ibu sudah melarang untuk bertanya, Sherlyn pun melupakan semua pertanyaannya itu dan kembali ke kamar Zanna.
Nyonya Elina juga kembali kesana, tidak mau sampai orang-orang curiga karena dia tidak ada disana.
__ADS_1
Apa lagi dengan mertuanya yang selalu mengawasinya, tidak melihatnya di sana bisa-bisa Ibu mertuanya curiga kalau dia ada hubungannya dengan penusukan yang dialami Zanna. itu akan berbahaya baginya.
Bersambung….