Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 81


__ADS_3

Sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung IGD seorang pria berlari keluar membuka pintu belakang.


Satu pria lain keluar sambil menggendong Zanna yang terluka parah. Pria itu berlari masuk ke dalam berteriak meminta pertolongan.


"Tolong kami..."


Pria itu berteriak dengan wajah yang berlinang air mata.


Seorang suster yang berada di sana melihat pria itu, para suster itu langsung menarik brankar berlari ke arah pria itu.


Air mata pria itu terus menetes di wajah Zanna, dia memeluk tubuh dingin Zanna begitu erat dalam pelukkan.


Brankar datang, pria itu perlahan membaringkan Zanna disana, menggenggam tangan Zanna.


"Kamu akan baik-baik saja." Ucap pria menangis mengelus wajah Zanna yang dipenuhi darah.


Para suster berlari mendorong brankar Zanna dan pria itu ikut berlari sambil menggenggam tangan Zanna.


Pria itu sesekali menghapus air matanya yang tidak berhenti keluar melihat Zanna terbaring tak berdaya.


Tubuh gemetar melihat luka-luka di tubuh Zanna, mata memerah karena tak berhenti menangis. Sepanjang jalan pria itu terus menangis tanpa henti.


Saat brankar Zanna akan didorong masuk ke dalam ruang IGD, para suster menghentikan pria itu depan.


"Tuan tidak bisa masuk, tolong lepaskan tangannya."


"Tidak bisa, aku harus masuk ke dalam!" Teriak pria itu marah memaksakan dirinya mau masuk menemani Zanna didalam.


"Tolong Tuan mengertilah, Wanita ini harus segerah ditangani kalau tidak, Tuan bisa kehilangannya untuk selamanya."

__ADS_1


Jantung pria itu seketika seperti berhenti berdetak, sama seperti saat dia menyaksikan Zanna yang ditabrak mobil. Dia melirik ke arah Zanna, air matanya kembali menetes tidak kuat melepaskan tangan Zanna.


Tangannya perlahan melepaskan jari jemari Zanna, membiarkan suster itu menarik Zanna masuk kedalam. Pintu IGD yang terbuka lebar ditutup.


Pria yang berdiri mematung di depan ruang IGD itu, dia seperti kehilangan setengah jiwanya. Tubuhnya begitu kuat dan kokoh, roboh jatuh ke lantai tidak kuat kehilangan Zanna.


"Aku tidak bisa kehilangan dirimu. Jangan tinggalkan aku."


Pria itu menangis bersandar di tembok dengan kaki lurus lemas tak kuat berdiri lagi. Kakinya seperti mati rasa.


Seorang dokter muda tampak berjalan sedang menuju kesana, melihat pria itu langsung berlari secepat mungkin.


"Tio, apa yang terjadi?"  Dokter itu jongkok memegang pundak Tio, tubuh Tio yang gemetar bisa ia rasakan.


"Tolong selamatkan dia, aku mohon padamu. Aku akan memberikan semua yang aku punya untukmu." Ucapnya sambil menggenggam tangan tangan temannya.


Tangan Dokter itu dipenuhi darah akibat tangan Tio yang berlumuran darah Zanna.


Pria itu kasihan melihat Kondisi Tio seperti orang kehilangan arah hidup.


Seorang suster keluar membuka pintu ruang IGD.


"Dokter wanita itu banyak kehilangan darah, denyut nadinya juga semakin melemah."


Dokter itu langsung berdiri memerintah suster itu pergi mengambil cadangan darah, karena mereka harus segera melakukan transfusi darah.


Suster itu  berlari keluar pergi ke bank darah rumah sakit.


Mendengar itu Tio langsung berdiri "Biarkan aku masuk." Ucapnya panik memaksa masuk.

__ADS_1


"Hentikan Tio, kamu tidak boleh masuk." Teriak Dokter.


Tio yang marah menarik kerah baju temannya itu, berteriak di depan wajah nya. "Dia membutuhkanku !!!!" Melotot dengan mata yang merah.


"Tenangkan dirimu Tio, kamu sekarang tidak bisa berpikir jernih. kamu masuk kedalam hanya akan membuat proses penangan untuknya terganggu. Aku tidak bisa mengizinkan kamu masuk. Tolong mengerti lah."


Tubuh Tio kembali melemas duduk di lantai "Aku membawanya kesini karena percaya kamu bisa menyelamatkannya, jadi tolong jangan hancurkan harapku. Dia satu-satunya paling berharga didalam hidupku, selamatkan dia. Aku mohon." Ucapnya sedih menundukkan kepalanya.


"Dia akan baik-baik saja."


Dokter itu memegang pundak Tio menguatkan temannya itu. Suster yang pergi mengambil cadangan darah untuk Zanna kembali.


Dokter Itu langsung buru-buru masuk ke dalam. Zanna tampak terbaring lemah dengan bantuan alat pernafasan dengan selang infus yang terpasang  di tangannya.


Para suster tampak sibuk membersihkan luka-luka di tubuh Zanna.


Di layar monitor pendeteksi jantung, terlihat garis yang bergerak zig zag memperlihat kondisi Zanna yang kritis.


Dengan pakaian lengkap dokter itu berdiri di depan brankar Zanna.


Salah suster memulai memasangkan selang transfusi darah saat Dokter mulai menangani luka di kepala Zanna.


Di luar sana Tio tidak henti-hentinya menangis berdoa untuk keselamatan Zanna.


"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang, kalau sampai terjadi sesuatu padanya." Ucapnya mengepal tangannya.


Matanya yang berlinang air mata dipenuhi dengan kemarahaan saat ini.


Tio rasanya ingin membunuh orang-orang membuat Zanna sampai seperti ini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2