
Di apartemen Clara.
Tampak Clara yang sedang duduk di sofa memakai baju tidur yang sama dengan kemarin malam sambil memegang secangkir teh hangat.
Clara kelihatan masih marah karena kejadian semalam.
Tiba-tiba pintu apartemennya terbuka.
Clara tidak mengunci pintu apartemennya karena dia masih menunggu Arga datang.
Arga muncul membawa buket bunga mawar merah dengan satu paper bag yang dia bawa ditangan kirinya.
Arga datang dari samping mau mencium pipi Clara, tapi Clara mengelak.
"Sayang, apa kamu marah."
Arga beranjak duduk di samping Clara.
"Sayang aku membawakanmu hadiah."
Arga memberikan buket bunga dan paper bag itu dipangkuan Clara.
Clara menoleh dengan tatapan sinis menatap Arga beberapa detik.
Lalu dia meletakan cangkir tehnya di meja dan menyingkirkan hadiah yang diberikan Arga ke sofa.
Dia beranjak berdiri dari sofa pergi ke dapur.
Clara diam tidak mau bicara dengan Arga.
Arga menyusul Clara ke dapur
Saat Clara mencuci tangan di wastafel, Arga datang memeluk pinggang Clara dari belakang.
"Sayang, aku membelikan tas baru. Apa kamu tidak senang." Ucapnya meletakan dagunya diatas bahu Clara.
Clara tampak diam, dia tidak mau menjawab pertanyaan Arga.
"Sayang apa kamu masih marah padaku?"
Clara melepaskan kedua tangan Arga, menyingkir dari wastafel.
"Sayang tolong jangan marah, aku tidak datang bukan karena sengaja."
Sontak Clara menjawab ucapan Arga dengan nada suara yang tinggi dan raut wajahnya marah besar.
"Terus apa! Kamu mau bilang apa, kamu tidak bisa tinggal istrimu, atau kamu mau bilang Omah melarangmu bertemu denganku."
"Atau jangan-jangan kamu sendiri yang tidak mau datang. Biar kamu bisa berduaan sama istri pertamamu itu." Sambungnya, dengan tatapan sinis menatap Arga.
"Apa-apa sih kamu, mobilku mogok dijalan."
"Terus kenapa hpmu mati. Atau kamu sengaja matikan hp mu biar aku nggak ganggu waktu kalian berdua." Ucapnya marah.
"Bateria Hp ku lobet."
"Itu cuman alasan kamu doang kan!"
"Aku tau kamu pasti pengen berdua sama istrimu itu."
"Clara, tolong jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku sudah mengatakan alasan kenapa aku tidak bisa datang."
"Aku datang kesini bukan untuk ribut. Aku datang untuk minta maaf, tapi sepertinya kamu tidak mau mendengarkan ku."
"Sebaiknya aku pergi, aku akan kembali kalau kamu sudah bisa mengerti." Ucapnya berbalik pergi keluar dari dapur.
Clara yang marah menggeser gelas-gelas yang ada atas meja.
Semua gelas itu berjatuhan ke lantai.
Pyyaar….
Pyyaar….
Pyyaar….
"Aku membencimu!" Teriaknya marah.
Arga yang mendengar suara itu, langsung berbalik kembali ke dapur.
Dia langsung berlari menghampiri Clara.
"Apa yang kamu lakukan." Ucapnya marah
Clara jongkok menangis menundukkan kepalanya.
Arga menggendong Clara keluar dari dapur melewati pecahan gelas yang terhambur di lantai.
Dia membawa Clara duduk ke ruang tengah, menurunkannya di sofa.
Arga duduk di samping Clara dengan wajah panik.
"Tidak ada yang luka kan?" Ucapnya melihat tangan dan tubuh Clara yang masih bersih.
"Jangan sakiti dirimu!." Ucapnya memeluk Clara.
"Apa kamu sudah tidak sayang padaku?" Ucap Clara dengan dana suara yang sedih.
Arga melepaskan pelukannya.
"Aku masih mencintaimu seperti dulu, tidak ada yang berubah!"
"Tapi kenapa kamu mengabaikanku, kamu tidak seperti dulu. Saat aku marah kamu pasti akan membujukku sampai aku tidak marah lagi, tapi sekarang kamu malah mau pergi."
"Aku sudah membujukmu, tapi kamu masih keras kepala tidak mau mendengarkanku. Dari pada masalah ini semakin panjang aku memilih untuk menjauh dulu, sampai amarahmu rendah."
"Itu bukan berarti aku tidak sayang lagi sama kamu."
Arga mencoba memberikan pengertian agar Clara tidak marah lagi padanya.
"Aku tidak suka ditinggal." Ucapnya menempelnya tubuhnya dada Arga.
"Kamu juga harus mengerti sayang, aku tetap harus kembali ke rumah. Bagaimana pun Zanna juga istriku."
Clara terkejut mendengar Arga mengakui Zann sebagai istrinya di depannya.
Sebelumnya Arga tidak pernah menyebut Zanna sebagai istrinya, tapi sekarang berbeda.
"Kalau omah sampai tidak melihatku di rumah, dia bisa marah besar padaku dan amarahnya bisa berimbas dengan hubungan kita."
__ADS_1
"Tunggu sebentar, sejak kapan kamu mulai mengakui wanita itu sebagai istrimu." Ucapnya bagun dari pelukan Arga.
"Ada apa? Memang dia istriku dan kamu juga istriku."
"Bukan seperti itu, kamu tidak pernah menyebut wanita itu sebagai istrimu. Kenapa tiba-tiba status wanita itu berubah."
"Sudah jangan bahas itu lagi, masalah tadi saja belum selesai dan sekarang kamu mau menambah masalah kita." Ucapnya dengan suara yang marah.
"Tunggu, tunggu. Kenapa kamu yang jadi marah. Aku harusnya aku yang marah."
"Okey, okey. Aku minta maaf, aku yang salah." Ucapnya menghela nafas.
Arga lebih memilih untuk mengalah daripada harus berdebat panjang, karena ujung-ujungnya, dia akan tetap salah dimata Clara.
"Aku tidak mau kita ribut lagi sayang, Okey, jadi stop bahas Zanna."
"Sebentar malam aku dan Zanna akan ke rumah Omah, kamu mau ikut?"
"Gimana yah, aku takut Omah akan mengusirku. Tapi demi kamu aku mau." Ucapnya tersenyum memeluk Arga.
Clara mau ikut bukan untuk bertemu Nenek Arga, tapi dia cuman mau memastikan Arga dan Clara tidak punya kesempatan untuk berduaan selagi dia tidak bersama Arga.
Disisi lain.
Di rumah kediaman Tomo.
Taksi yang ditumpangi Tio sudah sampai di depan pintu gerbang rumah.
Tio keluar dari taksi dengan kepala yang pusing berjalan masuk ke dalam halaman rumahnya.
Pak Yanto satpam penjaga rumah mendatangi Tio karena dia melihat Tio terluka.
"Apa yang terjadi dengan Tuan Muda?"
"Kecelakaan." Ucapnya datar sambil berjalan.
"Astaghfirullah Tuan Muda, sini saya bantu." Ucapnya mau menggotong Tio masuk ke dalam rumah.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Ucapnya tegas menolak bantuan Pak Yanto.
Ini pertama kalinya Pak Yanto mendengar Tio berbicara dengan tegas dan tatapan tajam, kalau sudah seperti itu, dia sudah tidak berani melawan kata-kata Tio.
Tio yang periang jarang menunjukkan sikap dinginnya terhadap orang-orang.
Dia mempunyai sikap lebih dingin daripada Arga, saat dia dalam kondisi marah dan saat dia menghadapi orang-orang baru.
Tio melangkah masuk ke dalam rumah, saat dia mau naik ke kamarnya. Ibunya melihatnya.
Sontak Ibu yang lihat putranya terluka, langsung histeris berteriak.
"Astaga Tio, apa yang terjadi padamu. Kamu kenapa bisa luka seperti itu." Ucapnya panik menghampiri anaknya.
"Kecelakaan!" Ucapnya datar.
"Apa kecelakan?" Ucapnya kaget.
"Kita harus ke rumah sakit sayang sekarang." Ucapnya menarik tangan putran.
Tapi Tio melepaskan tangan ibunya.
"Aku tidak mau ke rumah sakit." Ucapnya menaiki tangga meninggalkan ibunya begitu saja.
Tio terus berjalan menaiki anak tangga tanpa merespon ucapan ibunya.
"Tio jangan keras Kepala." Teriaknya marah.
Walaupun ibunya sudah teriak-teriak padanya dia tetap tidak mau mendengar Ibunya.
Teriakannya membuat mertuanya keluar dari kamar.
"Kenapa kamu teriak-teriak di dalam rumah? Ini bukan hutan." Ucapnya marah.
"Bagaimana aku tidak mau marah, coba ibu lihat cucu kedua ibu."
"Ada apa dengannya."
"Dia kecelakaan tapi tidak mau pergi ke rumah sakit padahal kepalanya terluka. Dia masih bilang tidak apa-apa."
"Kecelakaan? Di Mana dia." Ucapnya kaget.
"Dia pergi ke atas."
"Anak itu terlalu keras kepala, dia tidak mau mendengarkanku."
"Aku akan pergi menelepon Dokter Adam." Ucapnya pergi.
Dokter Adam adalah Dokter pribadi keluarga Tomo, sekaligus kakak dari Ibu Tio.
------
Tio masuk ke dalam kamarnya, menaruh paper bag dan barang-barangnya di atas meja.
Dia membaringkan tubuhnya yang lemas di atas tempat tidurnya.
Pergelangan tangan kanannya menutupi kedua matanya dengan tubuhnya sangat lelah.
Rasanya dia ingin menghilang dari dunia ini seketika.
Dia belum bisa menerima kenyataan wanita pujaannya telah menikah dengan orang lain.
Nyonya Melina yang khawatir dengan cucunya, menyusul ke kamar Tio.
Sebelum Nyonya Melina masuk, dia lebih dulu mengetuk-ngetuk pintu kamar cucunya.
Tok….
Tok….
Tok….
"Tio ini Omah. Omah masuk yah."
Tio bagkit dari tempat tidurnya.
"Iya, masuk saja Omah."
Nyonya Melina membuka pintu kamar Tio, perlahan lahan melangkah masuk menghampiri cucunya yang terluka.
"Kata ibumu, kamu kecelakaan. Bagaimana ceritanya?" Ucapnya duduk di samping Tio.
__ADS_1
"Iya Omah. Tadi aku hampir menabrak seorang wanita di jalan, untung saja aku melihatnya jadi langsung membanting setir mobilku dan akhirnya mobilku menabrak pohon di pinggir jalan."
Tio tampak lebih sedikit nyaman bercerita dengan Neneknya daripada bercerita dengan Ibunya.
"Bagaimana dengan wanita itu, dia tidak apa-apa
kan?"
"Iya, kan mobilku, aku nabrakin ke pohon Omah."
"Kita ke dokter yah, Jangan sampai ada luka dalam."
"Tidak perlu Omah, aku baik-baik saja."
"Jangan seperti itu, ini juga untuk kebaikan kamu. Luka-lukamu harus diobati, Omah tidak mau tau."
"Omah, tidak perlu. Luka kecil seperti ini pasti akan sembuh sendiri."
Tio dengan lembut menolak permintaan Neneknya untuk mengobati lukanya.
"Kamu tidak bisa menolak, sebentar lagi Dokter Adam akan datang kesini."
"Kapan Omah menelpon paman?"
Tio kaget mengetahui pamannya akan datang, padahal dia sudah menolak untuk diobati.
"Bukan Omah, tapi Ibumu. Dia sangat khawatir denganmu, dengarkan saja kata Ibumu."
"Ibumu cuman mau memastikan anaknya baik-baik saja. Jangan menolak perhatian Ibumu yang akan membuatnya sedih."
Neneknya menasehati Tio agar dia tidak menolak untuk diobati, apa sampai membuat ibunya sedih, padahal ibunya hanya tidak mau anaknya terluka.
"Baiklah Omah."
Akhirnya karena bujukan Omah, Tio mau diobati.
15 menit kemudian, Paman dan Ibunya datang ke kamar Tio.
Tampak yang Tio berbaring ditempat tidur sambil menunggu paman Adam datang dan Neneknya duduk di sofa menemani Tio.
Paman dan Ibunya masuk ke dalam kamar Tio.
"Tio, ibu sudah memanggil paman Adam, kamu tidak boleh menolak diperiksa."
"Tenang saja, Tio tidak akan menolak."
"Omah yang membujuknya?"
"Tentu saja, Tio pasti akan mendengarkan Omahnya."
"Baguslah, aku tidak perlu lagi membujuknya. Ayo kak periksa Tio, pastikan dia baik-baik saja." Ucapnya khawatir.
Paman Adam pergi ke tempat tidur Tio meletakan tas dokternya ditempat tidur.
Pertama-tama dia membersihkan luka yang ada di kepala Tio, setelah bersih dia memperban lukanya.
Lalu dia memeriksa kondisi Tio, apakah ada luka dalam akibat tabrakan tadi siang.
Setelah dia memeriksa Tio dan yakin tidak ada luka yang serius, dia berbalik mengatakan pada adiknya bawa anaknya baik-baik saja.
"Tio baik-baik saja. Aku hanya akan memberikan obat untuk lukanya."
"Syukurlah,"
Paman adam memberikan resep obat itu ke adiknya.
"Kalau dia merasa ada sesuatu dengan tubuhnya, secepatnya kamu bawa ke rumah sakit. Biar bisa ditangani lebih lanjut."
"Iya kak, terima kasih kamu sudah mau datang."
"Iya sama-sama."
Setelah Paman Adam selesai, Ibu Tio mengantarkan kakaknya keluar.
Paman Adam buru-buru pergi karena dia masih harus balik ke rumah sakit lagi.
Disisi lain.
Tampak Clara yang berbaring menyandarkan tubuhnya di pelukan Arga.
Arga mengelus wajah Clara sambil memainkan rambut Clara di ujung jarinya.
Wajah Clara terlihat sangat bahagia bisa berdua dengan Arga. Dia meletakan tangan Arga diatas perutnya sambil mengengganya.
Tiba-tiba hp Arga berdering….
Sontak Arga mengeluarkan hpnya dari kantong jasnya.
Panggilan itu ternyata dari Sekretarisnya.
"Hallo Tuan."
"Ada apa?"
"Saya cuman mau mengingatkan Tuan Arga, sebentar 3 kita punya janji dengan Tuan Pak Satyo."
"Iya aku akan segera kembali ke Perusahaan." Ucapnya mematikan Hpnya.
Jari-jemari Clara yang lentik perlahan berjalan di dada Arga.
"Sayang kamu pergi?"
"Iya, sayang. Aku ada janji temu dengan Pak Setyo."
"Aku siap-siap saja, nanti malam aku akan datang menjemputmu." Ucapnya, mencium kening Clara.
Arga melepaskan pelukannya bangun dari sofa, mengambil kunci mobilnya yang ada diatas meja.
Sebelum Arga pergi, Clara mencium bibir Arga.
"Hati-hati sayang."
"Iya sayang." Ucapnya tersenyum, keluar dari kamar apartemen Clara.
Clara berdiri di depan pintu Apartemenya samabil melihat Arga yang pergi.
Saat Arga sudah meninggalkan lorong apartemennya, Clara baru masuk ke dalam kamarnya.
Bersambung….
__ADS_1