Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 74


__ADS_3

Mengetahui Tio sudah kembali ke Amerika, hatinya begitu gelisa, tidak dipungkiri dia dulu punya rasa cinta yang sangat besar untuk Tio.


“Adai ku tau dia akan pulang secepat ini, aku akan mengucapkan selamat tinggal saat terakhir kali kita bertemu.”


Ada rasa bersalah yang muncul didalam dirinya, pertemuan mereka yang tidak terduga membuka luka lama, tapi juga memberikan sedikit kebahagian bisa melihat Tio kembali setelah bertahun- tahun. Tapi kini belum sempat mengucapkan selamat tinggal, mereka kembali dipisahkan oleh waktu.


Tidak tau kapan waktu akan mempertemukan mereka kembali, semua itu rahasia takdir.


Di dalam pesawat tampak Zanna dan Arga yang duduk berdampingan, Arga terlihat tertidur memalingkan wajahnya ke samping Zanna yang juga tertidur. Kedua mata Arga perlahan terbuka melihat wajah manis Zanna tertidur pulas, seketika Arga tersenyum entah kenapa melihat Zanna yang tertidur seperti itu membuat hatinya adem.


“Wanita ini kalau dilihat-lihat ternyata cantik juga.” Batinnya, tersenyum.


Disaat saat yang bersamaan Zanna membuka kedua matanya, mereka saling menatap satu sama lain tanpa berkedip.


Tidak tau kenapa jantung Zanna berdebar begitu cepat melihat tatapan Arga.


Sontak Zanna mengedipkan matanya berbalik ke sebelah dengan jantung yang masih berdebar-debar.


"Ada apa denganku?"


****


Waktu menunjukan pukul 09:35 menit, dini hari, setelah hampir menempuh waktu 17 jam dari akhirnya mereka sampai di bandara internasional Swiss (Zurich),  tampak Arga dan Zanna yang keluar dari pintu utama Bandara sambil menarik koper mereka.


Wajah Arga tampak datar sedangkan wajah Zanna terlihat berseri-seri mengingat ini adalah awal yang baik untuk membangun kedekatan bersama suaminya tanpa ada Clara disisinya.


Zanna menarik tangan Arga "Mas, kita akan kemana sekarang."


"Ke hotel." Ketusnya.


"Kalau begitu kita pergi saja sekarang." Zanna tampak tidak sabaran mengawali hari-hari penuh kebahagian bersama suaminya.

__ADS_1


"Tidak."


"Kenapa Mas? Itu sepertinya di depan kita Taksi deh, mending kita naik sebelum ada penumpangnya."


Di depan mereka ada sebuah taksi yang baru saja datang mengantar penumpangnya.


"Tunggu sebentar lagi, baru kita pergi."


"Memang Mas tunggu apa, apa ada barang yang tertinggal."


"Bukan!"


"Terus apa?"


Tiba-tiba  muncul taksi lain, ekspresi datar Arga berubah dengan senyuman melihat Clara yang turun dari taksi.


Zanna melongo melihat Clara, "Mbak Clara." Terkejut.


"Sayang, akhir kalau sampai juga. Aku sangat merindukanmu."


"Aku juga merindukanmu." Ucapnya sembari memberi kecupan di kening Clara.


Zanna yang melihat itu melotot tidak percaya apa yang dia lihat, ternyata Clara juga ikut liburan bersama mereka.


"Apa ini mas, kenapa mbak Clara ada disini. Bukannya ini liburan untuk kita berdua." Tanya dengan nada serius meminta penjelasan Arga.


"Ini memang liburan untukmu dan Arga, tapi Arga tidak mau berlibur denganmu. Jadi dia menyuruhku ikut bersamanya."


"Liburan ini akan menjadi liburan untuk kita berdua." Tersenyum licik.


"Rasain, kau pikir Arga akan memilihmu. Tentu saja tidak." Batinnya.

__ADS_1


"Mas apa yang dikatakan Mbak Clara itu benar?" Zanna berusaha menepis perkataan Clara yang membuatnya sakit, dia berharap Arga tidak mengatakan itu.


Tapi Arga malah membuat hati Zanna kembali sakit dengan ucapannya. "Yang dia katakan benar, liburan ini sebenarnya untuk kita berdua. Aku tidak mengatakan pada Omah karena aku tau jawaban seperti apa, itu sebabnya aku menyuruhnya pergi lebih dulu, karena jika Omah melihatnya ikut bersama kita. Clara pasti tidak bisa ikut."


"Aku sengaja melakukan ini semua hanya untuk menjaga perasaan omah. Lagi pula pernikahan kita hanya sebuah formalitas saja, aku tidak pernah menganggapmu istriku. Satu-satunya istriku hanya Clara." Tegasnya.


Tubuhnya seketika bergetar seperti tersambar petir mendengarkan semua perkataan Arga yang sangat-sangat mengiris hatinya.


Dia pikir Arga sudah mulai membuka hatinya untuknya dari sikap manis yang ditunjukkannya padanya, tapi ternyata itu semua hanya sebuah kebohongan semata.


"Sayang ayo kita pergi." Ucap Clara menarik tangan Arga.


"Tunggu dulu." Ucap Arga melepaskan tangan Clara berjalan menemui Zanna yang mematung melihatnya tanpa berkedip.


"Apa Mas Arga akan membawaku juga?" Bantinnya berharap.


Arga berdiri di depan Zanna mantapnya dengan tatapan serius.


"Kamu naik taksi saja, ini nama tempat hotel. Hubungi aku kalau kamu sudah sampai disana." Ketusnya berbalik pergi kembali pada Clara.


Zanna terdiam melihat melihat brosur yang diberikan Arga.


Brosur itu merupakan brosur yang diprint Arga sehari sebelum keberangkatan.


Arga dan Clara masuk kedalam mobil meninggal Zanna seorang diri bandara. Mereka tampak menampakkan kebahagiaan di depan Zanna tanpa memikirkan bagaimana hancurnya hati Zanna saat ini.


Air matanya menetes keluar melihat kepergian mereka berdua "Dia meninggalkanku."


"Yang dikatakan Tio ternyata benar, Mas Arga tidak menganggapku ada di hidupnya."


Sebuah penyesalan seketika muncul dibenaknya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2