
Di apartemen Clara.
Tidak butuh waktu yang lama untuk Arga sampai di apartemen Clara apalagi dia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Saat mobilnya sampai didepan gedung apartemen, Arga berlari masuk ke dalam gedung apartemen dengan terburu-buru masuk ke dalam lift.
Di dalam lift Arga terus menelpon nomor Clara berulang-ulang, karena Clara yang tidak ada menjawab telepon Arga setelah panggilan terakhir di rumah sakit. Membuatnya terus-terusan menelpon Clara.
Lantaran teleponnya tidak diangkat Arga Menghatamkan hpnya ke diding lift dan hal hasil hpnya mati.
"Apa yang terjadi padamu Clara, kenapa kamu tidak mengangkat teleponku!" Ucapnya marah mengepal kedua tangannya.
Tidak lama kemudian pintu lift terbuka.
Arga berlari keluar dari lift ke kamar apartemen Clara.
Saat dia sudah berada di depan pintu, Arga langsung membuka pintu kamar Apartemen Clara yang ternyata pintunya tidak terkunci.
Arga berdiri di tengah pintu melihat Apartemen Clara yang gelap gulita bagaikan awan kegelapan.
Arga perlahan melangkahkan kakinya masuk kedalam.
Saat itu juga kakinya menendang sesuatu benda yang keras.
Perasaannya mulai tidak enak, dia memanggil-manggil nama Clara tapi tidak ada jawaban.
"Clara, apa kamu didalam?"
"Clara aku datang menjemputmu pulang." Sambungnya.
Arga yang sudah tau selubuk apartemen Clara, menyalahkan lampu dengan menekan tombol lampu yang ada di tembok samping kanan tidak jauh dari pintu masuk.
Raut wajah Arga tiba-tiba berubah tercengang dengan kedua pupil matanya yang membesar melihat kondisi apartemen Clara bagaikan kapal pecah.
Bukan cuman itu, dia juga melihat Clara yang tergeletak di lantai dengan kondisi penuh dengan darah.
Tubuhnya kaku tidak bisa mengeluarkan satu katapun.
Dia berlari masuk berlutut di lantai memeluk tubuh Clara yang tidak sadar diri.
Arga memeluk erat tubuh Clara menangis tersedu-sedu melihat Kondisi Clara mengenaskan.
__ADS_1
"Maaf aku sayang." Ucapnya mencium kening Clara.
"Apa yang kamu lakukan Clara kenapa kamu melakukan ini!" Ucapnya menangis menggendong tubuh Clara.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi meninggalkanku Sendiri!" Ucapnya keluar membawa Clara dari apartemen.
Arga membawa Clara ke rumah sakit terdekat.
Di sisi lain.
Niko duduk menggantikan Arga di samping tempat tidur Zanna, setelah dia mengetahui ternyata Arga pergi setelah menerima telepon dari seseorang.
Niko menikmati waktunya bisa menatap Zanna dari jarak yang sangat dekat, yang biasanya dia hanya bisa memperhatikan Zanna dari jauh. Sekarang dia bisa duduk di samping Zanna melihatnya dari dekat.
Niko begitu mengagumi kecantikan dan kesetiaan Zanna yang hanya mencintai suaminya seorang walaupun pernikahan mereka tidak didasari dengan cinta didalamnya.
Dia salut dengan ketabahan hati yang miliki Zanna menghadap suaminya yang setiap hari berteriak padanya.
Tapi Zanna masih mau berusaha menumbuhkan cinta di dalam rumah tangganya, sayangnya Tuanya itu sudah punya wanita lain yang dicintai sebelum mengenal Zanna.
Tapi Niko berharap suatu saat nanti Zanna bisa mendapatkan cinta Tuannya.
Selama Zanna belum mendapatkan cinta Tuannya, Niko berjanji padanya dirinya akan selalu ada untuk Zanna dan melindunginya.
Niko sudah bertahun-tahun bekerja sebagai bawahan keluarga Arga, tau seperti apa mereka akan bertindak menghadapi orang-orang tidak mereka sukai.
"Aku akan selalu melindungimu, walaupun nantinya aku harus menjauh darimu." Ucapnya tersenyum memandangi wajah Zanna yang bersinar di matanya bagaikan rembulan.
Tiba-tiba Zanna membuka kedua kelompak matanya perlahan-lahan.
Dengan ekspresi kaget Niko sontak beranjak berdiri dari kursinya.
"Niko?"
Zanna tampak heran melihat Niko yang ada di sampingnya, yang dia tau Arga harusnya berada di kursi itu.
Zanna beranjak duduk ditempat tidur.
"Mas Arga mana?" Ucapnya mengelilingi matanya ke seluruh ruangan mencari Arga.
"Tadi Tuan Arga keluar mengangkat telepon tapi setelah itu Tuan Arga tidak kembali lagi."
__ADS_1
"Ooh mungkin Mas Arga ada urusan penting." Ucapnya tersenyum.
Hatinya sedikit ada rasa sedih karena Arga sudah mengatakan padanya akan menemani di rumah sakit. Tapi ternyata itu tidak terjadi seperti harapannya.
"Nona baik-baik saja kan?"
"Aku tidak apa-apa." Ucapnya tersenyum kecil.
Zanna tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sedih di mata Niko.
Dari tatapan matanya, Niko bisa tau kalau Zanna sendang sedih.
Saat Niko berbalik ingin pergi duduk di sofa, Zanna memanggilnya.
"Niko…"
"Iya Nona, ada apa?" Ucapnya berbalik.
"Aku mau bilang terima kasih banyak, karena kamu sudah membantuku dengan memberikan bukti pada Mas Arga kalau aku tidak melakukan itu."
"Sama-sama Nona, aku membantu Nona karena Nona memang tidak salah."
"Aku tidak tau kenapa kamu selalu membelaku di depan Mas Arga, tapi aku cuman mau bilang terima kamu sudah membantuku membangun hubunganku dengan Mas Arga. Aku tidak tau harus membalasnya dengan cara apa."
"Nona tidak perlu pikirkan itu, selama Nona selalu bahagia. Itu sudah cukup untukku."
"Maksudnya apa?"
Zanna bingung dengan kalimat yang dilontarkan Niko.
"Maksud saya, selama Nona bisa bahagia bersama Tuan Arga, itu sudah membuat aku senang karena Tuan mendapatkan wanita yang tepat mencintainya dengan tulus. Kebahagian Nona dan Tuan adalah kebahagianku juga." Ucapnya tersenyum.
"Kamu pria yang baik, semoga kelak kamu akan mendapatkan istri yang sebaik dirimu."
"Tapi aku berharap wanita itu adalah Nona." Ucapnya dengan nada serius, menatap mata Zanna yang indah bagaikan permata.
"Kamu bisa saja, aku sudah menikah." Ucapnya tersenyum.
Zanna pikir Niko hanya bercanda padanya.
Niko mengakhiri pembicaraan mereka dengan membalas senyuman Zanna, dan dia pergi duduk di sofa.
__ADS_1
Bersambung….