Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 54 Ciumanan Mantan


__ADS_3

Zanna pergi ke dapur mencari kamar mandi. Dia belum tahu dimana kamar mandi di rumah itu.


Terakhir kali dia datang hanya makan malam saat pertama datang ke rumah itu, setelah itu dia tidak pernah lagi datang.


Dia langsung pergi ke rumah Arga yang terpisah dari keluarganya.


Untung saja dia melihat Bi Darti yang sedang membuang pecahan gelas ke tempat sampah.


"Bi…"


Bi Darti berbalik ke belakang.


"Iya Nona. Ada yang bisa saya bantu." 


"Bi Dari bisa tunjukan dimana kamar mandi?".


"Tentu saja Nona, mari saya antar." 


Bi Darti mengantarkan Zanna ke kamar mandi yang ada di dapur.


"Terima kasih Bi." 


"Sama-sama Nona."


Setelah mengantar Zanna, Bi Darti kembali tempatnya dan Zanna masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Zanna mencuci tangannya sambil menggosok-gosok berharap gatalnya akan berkurang.


Tapi hasilnya sama saja.


"Apa yang harusku lakukan sekarang."


Zanna tampak bingung harus berbuat apa biar gatalnya bisa diatasi.


Seandainya dia tidak berbohong, Alergi tidak ada kambuh.


Dia memilih berbohong untuk mematahkan kalimat Tio.


Zanna takut mereka akan curiga, kalau dia membenarkan perkataan Tio.


Apa dia mau katakan jika Arga dan Neneknya bertanya padanya.


Apa dia harus mengatakan bahwa Tio adalah mantan pacarnya di SMA. Baginya itu tidak mungkin, dia terlalu takut mengakui masa lalunya dan takut masa lalunya akan merusak rumah tangganya.


Percuma juga dia terus berdiri didalam kamar mandi, itu tidak akan membuat gatalnya berhenti tapi malah akan membuat Arga curiga kalau dia terlalu lama di kamar mandi.


Zanna memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.


Zanna berjalan keluar dari ruangan dapur, menuju ke ruangan makan. Dimana dia harus melewati satu ruangan baru akan masuk ke ruangan makan.


Tiba-tiba, mulut Zanna dibekap dari samping. Dia ditarik masuk ke dalam kamar yang berdampingan dengan kamar Bi Darti.


Orang itu menyadarkan tubuh Zanna ke dinding sambil menutup mulut Zanna.


Mata Zanna melotot melihat orang yang ada di depannya adalah Tio.


--------


Sejak Zanna mulai rasa gatal di tubuhnya, Tio sudah memperhatikan sampai Zanna meminta Izin ke kamar mandi.


Saat Zanna pergi, tidak berselang lama Tio berdiri dari kursinya.


Pergi meninggalkan meja makan, tidak ada yang mempertanyakan kepergiannya.


Tio pergi ke dapur mencari Zanna, dia dipertemukan dengan Bi Darti yang habis mengantar Zanna ke kamar mandi.

__ADS_1


"Bi….."


"Iya Tuan muda, ada apa?"


"Bibi lihat Kakak ipar Zanna?"


"Nona Zanna pergi ke kamar mandi Tuan, memangnya ada Tuan?"


"Tidak apa-apa."


"Bisa minta tolong bibi, bersihkan kamarku. Soalnya tadi aku lihat lantai masih kotor, terus tolong gantikan dengan sprei. Aku rasa sprienya belum diganti."


"Untuk masalah sprei, kemarin sebelum Tuan muda datang saya sudah mengganti spreinya."


"Oh gitu yah, ganti aja deh bi. Soalnya aku tidak suka warna sprei. Terlalu jelek!"


"Baik Tuan muda." Ucapnya pergi.


"Sejak kapan Tuan muda memperhatikan warna spreinya?" Bantinnya.


Bi Darti bingung, karena ini pertama kalinya mendengar Tio mengeluh dengan warna sprei yang dipasang ditempat tidurnya.


"Atau mungkin semejak tinggal di luar Ngeri Tuan Muda punya selera baru. Tidak mungkin Tuan Muda 8 tahun lalu akan sama, pasti ada perubahan di dalam diri Tuan." Bantinnya, sambil melangkah menaiki anak tangga.


Tio sengaja menyuruh Bi Darti membersihkan kamarnya agar dia bisa ketemu Zanna setelah keluar dari kamar mandi.


Untuk menjaga keamanan dari orang-orang, Tio memutuskan untuk menunggu Zanna di kamar kosong yang bersebelahan dengan kamar Bi Darti.


Dia tau Zanna pasti akan lewat disitu, Karena tidak ada tempat lain selain jalan itu yang menuju ke ruang makan.


-------


Zanna melepaskan tangan Tio dari mulutnya.


"Diam, tidak ada akan melihat kita."


Tio langsung m mengunci pintu agar mereka berdua lebih aman dari orang-orang.


Dia mengambil kunci itu memasukan ke kantong celananya.


"Berikan kunci itu padaku!" Ucapnya marah mencoba mengambil kunci itu dari kantong Tio.


Tapi Tio menahan tangan Zanna.


"Aku ingin bicara padamu."


"Tidak perlu, kita sudah tidak punya hubungan apa-apapun. Sejak kamu meninggalku tanpa alasan 8 tahun yang lalu."


"Dengarkan dulu penjelasanku." 


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, aku sekarang bukan pacarmu lagi tapi kakak iparmu." Ucapnya marah melototi Tio.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau mendengarkanku setidaknya ambillah obat ini." Ucapnya mengeluarkan satu biji obat dari botolnya.


Dia memberikan obat itu ke tangan Zanna.


"Minumlah, aku tau tubuhmu sekarang seperti terbakar karena efek dari gatal mu." 


"Aku tidak butuh belas kasihanmu!" Ucapnya marah melempar obat itu ke lantai.


Tio yang kesal dengan karena Zanna yang memilih menahan sakitnya daripada menerima obat darinya.


Dia mengeluarkan lagi obat dari botol obatnya.


"Baiklah kalau kamu tidak mau, aku akan memaksamu." Ucapnya

__ADS_1


"Apa yang kamu mau lakukan?" Ucapnya bingung melihat Tio memasukan obat itu ke dalam mulutnya.


Tio sontak mencium bibir Zanna dengan paksa memasukan obat itu ke dalam mulut Zanna dengan menggunakan lidahnya.


Zanna tidak bisa memberontak, karena Tio menahan kedua tangannya di dinding.


Zanna bertahan tidak membiarkan obat itu masuk ke dalam bibir Zanna, tapi Tio tidak berhenti dia terus berusaha sampai dia berhasil melakukannya.


Saat obat itu sudah masuk ke dalam mulut Zanna, Tio langsung melepaskan bibirnya dari bibir Zanna.


Dia menutup mulut Zanna.


"Kalau kamu tidak menelan obat itu, aku tidak akan membiarkanmu keluar."


"Aku akan membiarkan orang-orang tau kalau kita punya hubungan." Sambungnya.


"Tentukan pilihanmu sekarang, telan obat itu atau orang-orang akan datang kesini mencarimu!" 


Karena takut orang-orang akan datang, Zanna menelan obat itu.


"Apa susahnya sih tinggal telan obatnya, kalau kamu lakukan itu dari tadi. Aku tidak akan memaksamu." Ucapnya melepaskan tangan dari mulut Zanna.


Plank!!!


Zanna menampar wajah Tio dengan mata yang berkaca-kaca menahan air mata.


"Kamu sudah puas?"


"Atau kamu masih ingin menyakitiku!" Ucapnya marah.


Tanpa dia sadar air matanya mulai menetes membasahi pipinya.


"Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya tidak bisa melihatmu menahan sakit itu."


"Sakit itu tidak seberapa dengan sakit yang kamu tinggalkan 8 tahun yang lalu!"


"Aku minta maaf untuk itu, aku tidak punya niat sedikitpun untuk meninggalkanmu." 


"Kenyataanya kamu meninggalkanku kan!" Ucapnya marah.


"Sekarang buka pintunya, aku mau keluar!"


"Tunggu sebentar." Ucapnya menarik tangan Zanna.


Sontak Zanna melepaskan tangan Tio.


"Mana yang lebih sakit, dimadu atau ditinggalkan?"


"Tidak keduanya!"


"Lalu kenapa kamu mau dimadu?" Ucapnya dengan tatapan tajam.


"Itu bukan urusanmu! Aku memohonmu buka pintunya sekarang." Ucapnya sambil menyatukan kedua tangannya di dada.


Dia tidak bisa melihat Zanna yang menangis, mengeluarkan kunci, lalu membuka pintu kamar itu.


Zanna langsung pergi sambil menghapus air matanya.


"Aku seharusnya tidak membuatnya menangis!" Ucapnya marah menghantamkan tangannya di dinding.


Bung…


Dia mengepal tangan nya dengan raut wajah yang marah, karena sudah membuat air mata wanita yang dia cintai jatuh.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2