
Malam hari pun tiba.
Jam dinding di kamar Zanna menunjukkan waktu pukul 08:00.
Tampak Zanna duduk di depan cermin sedang menyisir rambutnya bersiap-siap untuk pergi ke rumah Nenek Arga.
Setelah rambutnya rapi, dia meletakan kembali sisir yang dia pakai di meja, lalu mengambil lip tint.
Dia mengoleskan lip tint di bibir mungilnya, lalu mengambil bedak padat.
Setelah selesai bersiap, Zanna berdiri dari kursi riasnya, tidak lupa dia juga mengambil tasnya.
Lalu meninggalkan kamarnya turun ke lantai bawah menunggu Arga datang menjemputnya.
Dia duduk diruang tamu sembari memegang hpnya, takut kalau Arga nantinya menelpon dirinya.
Zanna tampak cantik dengan polesan make up yang natural membuatnya semakin terlihat lebih muda.
Di layar ponsel Zanna menunjukan jam pukul 8:15.
Di luar halaman rumah, terdengar suara mobil Arga.
Zanna langsung berdiri keluar menyambut kedatangan suaminya.
Dia berdiri depan teras dan mobil Arga berhenti di depan teras.
Arga keluar dari mobil.
Zanna tersenyum manis menghampiri suaminya, mencium tangan Arga.
"Ayo Mas kita pergi."
Saat Zanna pergi ke pintu depan sebelahnya tiba-tiba Clara keluar.
"Maaf tapi kursi depan sudah ada yang punya." Ucapnya dengan nada sombong sambil menaikan alis kirinya.
"Kamu duduk di belakang saja."
Arga masuk ke dalam percakapan mereka.
"Aku mengajak Clara bersama kita, tidak apa-apa kan!"
Zanna menarik senyuman di bibirnya, walaupun sebenarnya dia tidak suka kalau Clara ikut bersama mereka.
Tapi apalah dayanya, dia hanya bisa tersenyum menyimpan semua kata penolakan yang ada.
"Tidak apa-apa Mas."
Dia sadar kalau Clara juga istri Arga dan Clara punya hak yang sama, jadi dia tidak bisa melarang Clara ikut dengan mereka.
"Aku akan duduk di belakang."
"Baguslah kalau kamu tau posisimu."
"Kamu tidak akan bisa menggantikan posisiku." Sambungnya.
Clara masuk kedalam mobil dengan raut wajah sombongnya, menunjukan dirinyalah paling berhak bersanding dengan Arga.
Zanna tidak patah semangat, tekad yabg kuatnya untuk mendapatkan cinta suaminya tidak akan tergoyangkan hanya karena kalimat sindirin seperti itu.
"Zanna kenapa kamu terus berdiri disitu, ayo masuk." Ucap Arga yang mau masuk ke dalam mobil.
"Iya Mas…"
Zanna masuk dalam mobil.
Mobil Arga berbalik meninggalkan rumahnya.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba mencium pipi Arga.
Sontak membuat Arga kaget menoleh ke samping.
"Ada apa sayang?"
"Tidak apa-apa, aku cuman pengen cium kamu saja."
"Jangan begitu, aku lagi nyetir." Ucapnya kembali fokus menatap ke depan.
"Memangnya kenapa? Aku cium suamiku bukan suami orangkan."
Clara sengaja melakukan itu, biar Zanna cemburu padanya.
__ADS_1
"Padahal kita sering melakukan lebih dari itu di mobil."
"Bahkan nge.."
Belum selesai Clara bicara, Arga tiba-tiba mendadak menginjak rem.
Membuat Zanna dan Clara kaget.
"Sayang kenapa rem mendadak!" Ucapnya marah, melirik ke arah Arga.
"Berhenti bicara, apa kamu tidak malu menceritakan itu. Itu adalah privasi kita, tidak perlu kamu menceritakannya." Ucapnya dengan nada yang marah.
"Kamu kenapa sih, memang aku ini cerita sama siapa." Ucapnya kesal mendapat omelan dari Arga.
Sedangkan Zanna duduk di belakang melihat pertengkaran Arga dan Clara dengan raut wajah yang bingung.
Dia tidak tahu apa yang menyebabkan mereka bertengkar, karena Zanna memakai Earphone di kedua kupingnya jadi dia tidak mendengar percakapan mereka.
Karena Zanna tidak tau apa alasan mereka bertengkar, dia tidak mau ikut campur.
Dia menyandarkan tubuhnya ke jok mobil, menghayati musik sedih yang sedang dia dengarkan.
Zanna memakai Earphone sejak masuk ke dalam mobil, dia sengaja melakukan itu untuk mengantisipasi kalau Clara mengucapkan kalimat-kalimat yang bisa menyakiti hatinya.
"Kita tidak lagi berdua, ada Zanna di belakang."
"Terus apa masalahnya!"
"Stop Clara, jangan membuat masalah. Kita mau ke rumah Omah, jangan sampai karena pertengkaran ini kita jadi ke rumah Omah."
"Sekali ini saja kamu dengarkan aku!"
Clara akhirnya mengalah.
"Baiklah!" Ucapnya dengan terpaksa.
Clara membuang muka ke sebelah kiri karena kesal, dia tidak mau melihat Arga.
Sebelum Arga menjalankan kembali mobilnya, dia sempat melihat Zanna dari kaca spion melihat raut wajah Zanna yang tampak sedih.
"Apa dia sedih karena mendengar perkataan Clara?" Batinnya.
Ternyata Arga menegur Clara karena memikirkan bagaimana perasaan Zanna mendengar itu.
Arga kembali mengemudikan mobilnya di jalan raya.
Di sisi lain
Di kediaman rumah Tomo.
Seperti biasa semua keluarga besar Tomo akan berkumpul di meja makan tepat jam 8:30 untuk makan malam bersama.
Di meja makan tampak Nyonya Melina yang duduk di kursi utama, menunggu anggota keluarga lainnya datang.
Satu-persatu anggota keluarga muncul dari Tio yang datang dengan raut wajah yang murung disusul dengan Nyonya Elina Ibu alias Ibu Tio.
Mereka berdua duduk dimeja makan.
Nyonya Melina yang tidak melihat Sherlyn mempertanyakan kepada menantunya.
"Kemana Sherlyn?"
"Dia pergi bersama teman-temanya belanja."
"Kapan dia pergi."
"Sejak tadi pagi." Ucapnya dengan santai sambil membalikan piringnya yang telungkup di atas meja.
"Sejak pagi? Ini jam 8 lewat kenapa dia belum pulang juga."
"Biarkan saja dia menikmati masa mudanya. Lagi pula dia kan cuman pergi belanja, tidak perlu khawatir."
"Kamu sebagai ibunya harus memperhatikan pergaulan putrimu, jangan sampai dia salah jalan karena kamu selalu memberikan kebebasan."
"Aku tau ko bu bagaimana harus mendidik putra putriku." Ucapnya kesal.
Karena kesal menantunya tidak mendengarkan nasehatnya, Nyonya Melina membalikan piringnya yang telungkup, menyendok makanan.
Sedangkan Tio hanya mendengarkan percakapan ibu dan neneknya.
Saat mereka mau mulai makan malam, tiba-tiba Arga muncul di ruang makan bersama Clara.
__ADS_1
Ibu Arga yang melihat Clara muncul, sontak langsung tersenyum berdiri menghampiri menantunya itu
"Arga kapan kalian datang?"
Tio ikut berbalik mendengar Kakaknya datang.
"Baru saja bu."
Nyonya Melina berdiri dari kursinya, wajahnya tampak marah melihat Arga bersama Clara.
"Apa yang kalian lakukan disini." Ucapnya dengan tatapan sinis menatap mereka berdua.
Tio bingung dengan ibu dan Neneknya, sepengetahuanya Ibu lah yang tidak menyukai istri kakaknya, tapi kenapa sikap yang mereka tunjukan terbalik.
"Kami datang berkunjung Omah, apa Omah masih marah pada kami."
Tio semakin tidak mengerti.
"Kamu boleh datang kecuali bersama Zanna, tidak bersama wanita ini."
"Zanna?" bantinnya.
Dia kaget mendengar Neneknya menyebut nama mantan kekasihnya.
"Mungkin hanya kebetulan, tidak mungkin kan kakakku menikah dengan kekasihku." Batinya.
Ibu Arga ikut bicara membela Clara.
"Kenapa seperti itu, Clara juga menantu kita. Dia juga punya hak yang sama dengan Zanna sebagai istri Arga, walaupun dia istri kedua."
Tio terkejut mendengar kakaknya punya dua istri.
"Pergi dari sini!"
Nyonya Melina mengusir Arga dan Clara.
Tapi tiba-tiba Zanna muncul dengan senyuman manisnya.
"Omah aku juga datang."
"Aku yang meminta Mas Arga untuk membawa Clara kesini. Biar kita bisa saling akrab satu sama lain." Sambungnya, dengan senyuman manis di bibirnya menyembunyikan kebenaran.
Dia melakukan itu agar tidak terjadi keributan antara Arga dan Neneknya.
Sedangkan Zanna belum sadar kalau ada mantan kekasihnya disana.
Wajah Tio sangat shock melihat Zanna di depannya sampai tidak bisa berkata-kata.
Dia ingin memanggil Zanna tapi bibirnya seperti terkunci rapat.
Lantaran shocknya, tangan Tio tidak sengaja menjatuhkan gelas yang ada di samping kirinya.
Pyyar….
Semua orang mengalihkan pandanganya pada Tio, termasuk Zanna.
Zanna melangkah mundur setelah melihat Tio.
Wajahnya tercengkak tidak percaya melihat kekasih lama yang sangat dicintai dulu, sekarang berdiri di depannya.
"Ini Tidak mungkin!" Batinnya.
Sontak Ibunya mengahampiri Tio dengan raut wajah paniknya, takut anaknya terluka.
"Tio, kamu tidak terluka kan?" Ucapnya memeriksa seluruh bada Tio apa ada luka.
Setelah memastikan tidak ada luka di tubuh anaknya, dia berteriak memanggil Bi Darti untuk membersihkan Pecahan kaca.
"Bi Dari...." teriaknnya
Bi Darti yang ada di dapur, langsung keluar pergi ke ruangan makan.
"Iya Nyonya, ada apa?"
"Bersihkan pecahan gelas itu, pastikan tidak ada yang tersisah."
"Baik Nyonya."
Nyonya Elina dan Tio menyingkir dari sana, membiarkan Bi Darti membersihkannya.
Selama Bi Darti membersihkan pecahan kaca itu, Tio dan Zanna ternyata masih saling menatap satu sama lain, sampai Bi Darti selesai mengerjakan tugasnya.
__ADS_1
Bersambung…..