
Tanpa pikir panjang Tio akan mengatakan semuanya pada kakaknya, karena dia tidak kuat melihat Zanna yang terluka dan tersiksa bersama kakaknya.
Apa lagi kakaknya tidak mencintai Zanna seperti dirinya mencintai Zanna dengan sepenuh hatinya.
Membuat hatinya semakin sakit.
"Zanna adalah mantan pacarku di SMA, kami sudah berpacaran 3 tahun dan aku masih mencintainya."
Arga diam tidak bisa berkata-kata. Dia tidak percaya istrinya adalah mantan adiknya.
"Kamu cerai Zanna biarkan dia bersamaku."
"Dia juga berhak bahagia dengan pria yang mencintainya bukan dengan pria tidak akan pernah mencintainya." Sambungnya dengan nada suara yang serius.
Dari nada bicara dan raut wajahnya Arga melihat adiknya tidak berhobong.
Arga yang merasa barang yang dimiliki tidak pernah dia berikan pada siapapun, tidak mempedulikannya pengakuan adiknya.
"Aku tetap tidak akan menceraikan!"
Dia tidak akan memberikan sesuatu yang memang miliknya pada orang lain.
Setelah dia mengakuinya di depan kakaknya, dia pikir kakaknya itu akan menceraikan Zanna tapi ternyata pikirannya salah.
Tio yang marah dengan jawaban kakaknya menarik kerah baju kakaknya.
"Aku tidak peduli kamu mau menceraikan nya atau tidak, aku pastikan akan mengambil yang seharusnya menjadi milikku." Ucapnya nada serius menatap Arga dengan tajam.
"Lakukan saja, aku juga akan pastikan yang menjadi milikku tidak akan pernah menjadi milik orang lain." Ucapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Aku menantangmu dengan terbuka. Kita lihat apa kamu bisa membawa kembali Zanna disisimu!"
Disisi lain.
Di hotel.
Setelah kepergian Arga dari hotel secara mendadak tanpa memberitahu satupun keluarganya maupun karyawannya membuat semua orang bingung mencari Arga.
Padahal arga belum menyapa para tamu dan para tamu mencari Arga.
Sekretaris Arga datang ke meja keluarga besar Tomo.
"Permisi Nyonya besar, Tuan Arga dimana?" Ucapnya berdiri disamping kursi Nyonya Melina.
Nyonya Melina yang tidak tau dimana Arga bertanya pada Clara, karena Clara duduk di samping cucunya.
"Dimana Arga ?"
Clara yang masih minum meletakan gelasnya di meja.
"Tadi Arga bilang mau pergi, karena ada sesuatu yang harus dia urus."
"Coba kamu cari saja di para tamu, mungkin dia sedang ngobrol dengan teman bisnisnya." Ucap Nyonya melina.
"Kami sudah mencari Tuan Arga di para tamu, tapi Tuan Arga tidak ada dimanapun Nyonya."
"Memangnya ada apa kamu mencarinya?"
"Tuan Arga meminta saya untuk memanggilnya jika Tuan Garrett sudah datang."
"Siapa Tuan Garrett?"
"Teman bisnis baru Tuan Arga, dia sekarang sedang menunggu disana." Ucapnya menunjuk ke arah meja Garrett.
Tampak meja Vip seorang pria yang seumuran dengan Arga sedang duduk ditemani seorang wanita.
Wanita itu adalah sekretaris Tuan Garrett.
"Kemana pergi Arga, acara belum selesai tapi dia sudah menghilang." Ucap Nyonya Melina bingung.
"Tio juga pergi dan Zanna belum kembali dari kamar mandi. Mereka bertiga tiba-tiba menghilang bersamaan." Sambungnya.
Mendengar ucapan Nyonya Melina, Clara khawatir Arga menyusul Zanna.
Berinisiatif untuk menelepon Arga.
"Biar aku menelpon Arga." Ucap Clara sambil mengambil hpnya dari dalam tas.
__ADS_1
Sedangkan Nyonya Elina tampak sedikit gelisa memikirkan orang suruhannya berhasil membunuh Zanna atau tidak.
Arga dan Tio masih saling berdebat tidak mau mengalah.
"Aku terima tantanganmu!"
Kini Tio dan Arga menjadikan Zanna sebagai bahan taruhan mereka.
Tio melepaskan tangannya dari kerah baju Arga.
"Kali ini aku pasti akan menang darimu!" Ucap Tio menjauh dari kakaknya.
Dia kembali berdiri di depan pintu ruang operasi berdoa untuk keselamatan Zanna.
Hp Arga tiba-tiba berdering…..
Kring….
Kring….
Kring….
Arga mengambil hpnya yang ada di kantong celana nya.
Di layar hpnya ada panggilan tertulis Sayang, itu adalah nomor Clara.
"Hallo…."
"Sayang kamu dimana, semua orang sedang mencarimu sekarang."
"Aku ada di rumah sakit."
"Ruman sakit, kamu tidak apa-apakan sayang?." Ucap Clara membuat semua orang kaget.
"Ada apa dengan Arga." Ucap Nyonya Elina panik mendengar putra di rumah sakit.
"Sayang kamu kenapa bisa ada rumah sakit?" Ucap Clara.
"Aku tidak apa-apa, Zanna dilukai dengan orang dan sekarang dia sedang menjalani operasi."
"Astaga….."
"Aku akan memberitahu yang lainnya. Kami akan segera kesana" Ucap Clara mematikan teleponnya.
"Ada apa dengan Arga, kamu bilang dia tadi di rumah sakit." Ucap Nyonya Melina.
"Iya Clara ada apa dengan Arga."
"Kakak Ipar kenapa dengan kakak."
"Arga di rumah sakit karena Zanna diluka seseorang dan sekarang Zanna sedang menjalani operasi di rumah sakit."
"Astaga kita harus ke rumah sakit sekarang juga." Ucap Nyonya Melina berdiri dari kursinya.
"Iya Omah, aku akan meminta Arga mengirimkan alamat rumah sakitnya."
Clara dan Sherlyn berdiri dari kursi mereka sedangkan Ibu Arga masih duduk kaget ternyata Zanna berhasil diselamatkan.
"Nyonya besar bagaimana dengan acaranya?"
"Berhentikan saja acaranya. Menantu lebih penting." Ucapnya marah meninggalkan meja.
Clara dan Sherlyn ikut Nyonya melina meninggalkan aula acara disusul dengan Nyonya Elina yang ikut berdiri dari kursinya menyusul mereka..
Arga dan Tio masih berdiri di depan ruang operasi, mereka berdiri saling berpisah.
Hampir satu jam mereka berdiri di sana tapi operasi juga belum selesai.
Arga tiba-tiba berpikir untuk bertanya pada Tio penyebab Zanna terluka karena tadi Tio belum menjawab pertanyaannya.
Arga berjalan mendekati Adiknya.
"Tio…"
"Ada apa lagi kamu ingin bertengkar lagi."
__ADS_1
"Tidak, aku mau tau kenapa bisa Zanna terluka, apa kamu melihat orang yang melukainya."
"Aku tidak melihat siapapun saat datang kesana. Saat aku masuk ke dalam, Zanna sudah terluka seperti itu.."
"Apa kamu dan Zanna punya musuh?"
"Aku tidak punya musuh."
"Terus siapa yang menginginkan Zanna mati." Ucapnya dengan raut wajah serius.
"Aku akan menyuruh Niko yang akan menyelidikinya."
Arga berbalik pergi, tiba-tiba keluarga datang dengan terburu-buru.
Hanya Nyonya Melina yang tampak khawatir dengan Zanna dan yang lain tampak biasanya saja.
Nyonya Melina langsung menghampiri Arga menanyakan seperti apa kondisi menantunya itu.
"Apa yang terjadi pada Zanna kenapa dia harus menjalani operasi? Bukanya tadi dia baik-baik saja di hotel."
"Omah tenang dulu, nanti penyakit Jantung Omah kambuh."
"Bagaimana bisa Omah mau tenang melihat menantu Omah sekarang ada di dalam ruang operasi."
"Apa yang sebenarnya yang terjadi."
"Zanna ditikam orang saat dia ada di kamar mandi. Aku juga tidak tau kronologinya seperti apa karena Tio lah yang menemukan Zanna di kamar mandi, sudah tergeletak dilantai dengan luka tusuk di perutnya."
"Astaga…" Ucapnya kaget.
Nyonya Melina tidak menyangka dalam acara besar seperti itu ada orang yang berani melakukan kejahatan.
"Adik ipar?"
Clara terkejut yang menemukan Zanna adalah Tio bukan Arga.
"Adik ipar, tidak mungkin tiba-tiba mencari Zanna tanpa ada alasan, atau tiba-tiba tidak sengaja melihatnya." Bantinnya.
Tio tidak mempedulikan keluarganya yang datang, dia masih berdiri berdoa untuk keselamatan Zanna.
Sedangkan Ibu Elina berharap Zanna tidak akan selamat, jadi mertuanya tidak akan memberikan setengah aset keluarga Tomo pada Zanna.
Saat semua orang menunggu operasi Zanna selesai Arga pergi meninggalkan tempat itu.
Dia pergi menjauh dari keluarganya untuk menelpon Niko.
Setelah menjauh dia langsung menelpon Niko.
Kring …..
Kring…..
Kring…..
"Hallo Tuan."
"Kamu dimana?"
"Di rumah Tuan, ada memangnya Tuan?"
"Sekarang kamu pergi ke hotel tempat aku mengadakan acara ulang tahun perusahaan. Cari rekaman CCTV di kamar mandi yang berdekatan Di Aula."
"Memangnya ada kejadian apa sampai Tuan mencari rekaman CCTV?"
"Zanna ditusuk orang saat dia di dalam kamar mandi hotel dan kami sekarang sedang berada di rumah sakit."
"Temukan pelakunya. Aku yang akan mengurusnya nanti."
"Baik Tuan." Ucapnya memastikan teleponnya.
"Nona Zanna terluka?"
Mengetahui Zanna terluka, Niko juga ikut khawatir dengan keadaan nya.
"Semoga Nona Zanna baik-baik saja."
Niko langsung pergi mengambil mobilnya, meninggalkan kediaman rumah Arga.
__ADS_1
Bersambung….