Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 37 Pulang


__ADS_3

Di rumah Zanna.


Nenek Arga duduk di sofa yang berhadapan dengan Zanna menunggunya bangun.


Hampir 15 menit dia duduk disana.


Sampai akhirnya Zanna bangun dari tidur siangnya. 


Dia membuka kedua matanya, kaget melihat Nenek Arga.


"Omah?"


"Omah kapan datang kesini?" Ucapnya, bangun duduk di sofa.


"15 menit yang lalu."


"Maaf Omah aku ketiduran, aku jadi tidak tau kalau Omah datang."


"Tidak apa-apa, kamu memang harus banyak istirahat dulu."


"Iya Omah, tapi aku rasa perasaanku sudah membaik."


"Syukurlah kalau begitu." Ucapnya tersenyum.


Zanna beranjak berdiri dari kursinya. 


"Kamu mau kemana Zanna?"


"Pergi ke dapur, aku mau membuatkan Omah air minum." 


"Tidak perlu, kamu duduk saja disitu."


"Omah datang kesini bukan untuk dilayani, kamu duduk saja. Kesehatanmu lebih utama untuk Omah."


Tiba-tiba bi Asri muncul membawa segelas teh panas dan air putih.


"Kok bi Asri ada disini, kapan datangnya?" Ucapnya bingung.


"Iya Nona, Nyonya besar menyuruh bibi datang kesini tadi."


"Omah yang memintanya datang. Mulai hari ini bi Asri akan tinggal bersama kalian, dia akan membantumu mengurus pekerjaan rumah."


Nenek Arga menyuruh bi Asri datang untuk tinggal rumah Zanna agar bisa merawat Zanna dan meringankan pekerjaan menantunya.


"Omah tidak perlu-repot seperti ini, tapi terima kasih Omah sudah menghawatirkan ku."


"Kalau Bi Asri disini, yang urus Omah nanti di rumah siapa?"


"Omah masih punya pelayan yang lain, tidak perlu pikirkan masalah sepele seperti itu."


"Baiklah terserah Omah saja." Ucapnya tersenyum kembali duduk.


Nenek Arga tiba-tiba menanyakan Arga tidak ada di rumah.


"Ke mana Arga? kenapa aku tidak melihatnya."


Zanna sejenak terdiam lalu menjawab pertanyaan Nenek Arga dengan senyuman di wajahnya.


"Ouh Mas Arga pergi ke perusahaan ada rapat penting, jadi Mas Arga tidak bisa menemaniku di rumah sakit semalam." Ucapnya sambil tersenyum menutupi kesedihannya.


"Kenapa kamu selalu melindungi Arga, Omah sudah tau kalau Arga menikah lagi dengan wanita lain yang bernama Clara."


"Jadi Omah sudah tau." Ucapnya sedih.


"Aku cuman tidak mau Omah dan Mas Arga bertengkar, itu saja."


"Kamu harusnya cerita pada Omah! Jangan menyembunyikan masalah besar seperti ini, dan kamu malah membantu menutupi kebohongannya." Ucapnya dengan nada suara yang marah.


"Maaf Omah, itu semua aku lakukan hanya untuk menjaga rumah tanggaku."


"Omah mohon padamu tetap berjuang untuk mendapatkan hati Arga, jangan menyerahkan Arga pada wanita itu, Omah tidak yakin dengan wanita itu." 


Nenek Arga memohon pada Zanna agar dia tetap mempertahankan hubungan mereka berdua.


"Iya Omah, aku akan tetap mempertahankan pernikahan kami apapun itu, walaupun Mas Arga telah menikah dengan wanita lain." Ucapnya penuh dengan keyakinan dia akan bisa mendapatkan hati suaminya.


"Omah akan selalu mendukungmu, kamu tidak perlu takut ada Omah yang akan membantumu."


"Terima kasih Omah." Ucapnya tersenyum bahagia.


Di rumah sakit.

__ADS_1


Arga dan Clara tampak bersiap-siap untuk pulang ke rumah setelah Arga meminta kepada Dokter agar Clara diperbolehkan pulang lebih cepat.


Saat Arga dan keluar dari kamar, Clara menghentikan langkah menarik tangan Arga.


"Sayang, kamu yakin akan membawaku pulang ke rumahmu? Bagaimana jika Omah mengusirku lagi."


Clara memperlihat wajahnya sedihnya, takutkan bertemu dengan Nenek Arga.


"Itu tidak akan terjadi, kamu juga istriku kamu berhak untuk tinggal disana." 


"Rumah itu milikku, aku yang berhak menentukan siapa yang boleh tinggal dan siapa yang harus pergi dari sana." Sambungnya.


Arga mencoba menyakinkan Clara agar mau ikut bersamanya pulang.


"Tapi bagaimana dengan Omah nanti."


"Aku yang akan bicara pada Omah, kamu tidak perlu cemas."


"Baiklah." 


Arga mengecup kening Clara.


"Kamu jangan khawatir aku akan membelamu mati matian di depan Omah." 


"Kamu tidak akan menceraikanku walaupun Omah yang menyuruhmu?"


"Tentu saja tidak!"


Clara memeluk Arga dengan penuh kebahagian, legah mendengar jawaban Arga, dia tidak perlu memikirkan perkataan Omah tempo hari.


"Ayo kita pulang." Ucapnya melepaskan pelukan Clara.


Mereka berdua berjalan berdampingan sambil bergandeng tangan melewati lorong-lorong rumah sakit.


Malam hari…


Waktu menunjukkan pukul 07:00.


Terlihat Zanna dan bi Asri yang berada di dapur tengah memasak makan malam untuk mereka bertiga.


Nenek Arga ternyata belum pulang, dia masih ingin menemani menantunya disana sampai Arga pulang.


"Bi tolong ambilkan garam halus." Ucap Zanna sambil mengaduk sup yang masih duduk di atas kompor.


Bi asri yang sedang memotong sayur melepaskan pisaunya pergi mengambilkan garam halus.


"Ini Nyonya." 


"Terima kasih bi." Ucapnya tersenyum.


"Sama-sama Nona,"


Bi asri kembali melanjutkan pekerjaannya.


Setelah menambahkan garam ke dalam subnya, rasanya sudah pas dengan lidahnya.


Zanna meninggal panci supnya, lanjut memasak menu makan lain.


Saat Zanna menyalakan koper, 


Tiba-tiba Zanna mendengar ada suara teriakan Omah yang marah-marah.


Zanna langsung mematikan kompornya, melepaskan celemek meletakan di samping kompor.


Bi Asri yang kepo, juga ikut meninggalkan pekerjaannya pergi melihat Omah.


Saat Zanna sampai disana. 


Ternyata Arga dan Clara berdiri di depan Omah yang marah-marah pada mereka berdua.


"Berani kamu membawa kembali wanita itu kesini. Suruh dia pergi sekarang juga." Ucapnya marah.


Arga merangkul bahu Clara erat-erat menunjukan pada Nenek nya dia tidak akan melepaskan Clara.


"Dia juga istriku, tidak boleh ada yang mengusirnya." Ucapnya dengan tegas.


Melihat pertengkaran antara Arga dan Nenek Arga, Zanna langsung menghampiri Nenek Arga, mencoba menenangkannya.


"Omah tenang dulu, jangan marah-marah, penyakit jantung Omah nanti bisa kambuh lagi." Ucapnya merangkul Nenek Arga sambil mengusap-ngusap bahunya.


"Mereka berdua sudah keterlaluan. Omah tidak mau kamu terus-terusan disakiti oleh wanita itu." Ucapnya marah-marah menunjuk Clara.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa kok Omah."


"Tidak ada yang menyakitiku, kita hidup rukun koh didalam." Ucapnya mencoba memberikan pengertian pada Nenek Arga, agar membiarkam Clara dan Arga masuk.


"Omah dengar sendirikan Zanna saja mengizinkan Clara tinggal, kenapa Omah tidak setuju."


"Zanna terlalu baik, itulah kenapa Omah tidak mau wanita itu tinggal disini."


"Auranya negatifnya bisa merusak ketenangan rumah ini." Sambungya dengan tatapan yang tajam menatap Clara.


"Dasar nenek peot, kenapa sih dia nggak mati aja. Umur sudah tua masih saja urusin urusan orang." Batinnya, 


Clara yang sakit hati mendengar ucapan Nenek Arga, meminta Arga untuk pergi dari sana.


"Sayang kita pergi saja dari sini. Keberadaanku tidak diinginkan disini." 


"Aku lebih baik kembali apartemenku, dari pada harus direndahkan disini." Ucapnya menarik tangan Arga.


"Baguslah kalau kamu sudah sadar! Tapi jangan kamu mengajak cucuku pergi, kamu saja yang pergi dari sini." Ucapnya dengan ketus.


"Okey, aku akan pergi!" Ucapnya berbalik pergi melepaskan tangan Arga.


Arga tiba-tiba menarik tangan Clara menghentikan langkahnya.


"Kalau dia pergi aku akan ikut bersamanya." Ucapnya menantang neneknya.


Arga ikut Clara keluar dari rumahnya


"Arga…." Teriaknya marah.


"Maaf Omah, kali ini aku tidak bisa mengikuti perintahmu." Ucapnya pergi.


Arga kali ini benar-benar menentang perintah Neneknya.


Sebelumnya dia tidak pernah menentang perintah Omahnya, tapi kali ini berbeda karena berhubungan dengan Clara.


Arga dan Clara masuk ke dalam mobil meninggalkan rumah.


Di dalam Zanna membawa Nenek Arga duduk.


"Bi Asri tolong ambilkan air." Ucapnya.


Bi Asri langsung berlari ke dapur mengambil segelas air minum, buru-buru membawanya ke ruang tamu.


"Ini Nona." 


Zanna mengambil gelas itu memberikan pada Nenek Arga.


"Omah ayo minum dulu." Ucapnya panik melihat Nenek Arga yang duduk bengong.


Nenek Arga tidak menyangka cucunya tidak pernah membantah, berani membantah perintahnya.


"Omah baik-baik sajakan, apa jantung Omah sakit lagi." Ucapnya panik.


"Apa perlu kita ke rumah sakit sekarang." Sambungnya.


"Omah tidak apa-apa."


Tiba-tiba raut wajah Nenek Arga berubah, dia seperti kesakitan sambil memegang dadanya, ternyata jantungnya sakit lagi. 


"Zanna tolong ambilkan obat di tas Omah." 


Zanna yang panik langsung mengobrak-abrik tas Nenek Arga sampai dia mendapatkan botol obat berwarna putih.


Dia langsung membuka tutup botol itu, memberikan satu biji obat ke tangan nenek Arga.


Nenek Arga langsung menelan obatnya dan Zanna memberikan segelas air putih.


Setelah meminum obat itu, Rasa sakit di Jantungnya berangsur-angsur berkurang.


"Bagaimana perasaan omah?" Ucapnya takut terjadi sesuatu.


"Omah sudah tidak apa-apa."


Nenek Arga tersenyum menutupi rasa sakit walaupun sebenarnya dadanya masih amat terasa sakit.


"Syukurlah." Ucapnya memeluk Nenek Arga meneteskan air matanya.


Zanna benar-benar ketakutan, jika terjadi sesuatu. Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu yang buruk menimpah Nenek Arga


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2