
Arga memberikan pengertian pada Clara, agar Clara tidak pergi dari rumah.
"Kenapa harus kamu yang menggendongnya, aku tidak suka kamu melakukan itu."
"Dia pingsan sayang, kamu harus mengerti. Aku tidak mungkin membiarkan dia tidur didalam mobil kan."
"Emangnya dia kenapa bisa pingsan dan kamu tadi menelepon Niko kenapa?."
"Ceritanya panjang, Intinya Zanna hampir saja dilecehkan oleh beberapa pria jalanan. Untung saja aku datang tepat waktu, kalau tidak Zanna pasti sudah kehilangan kehormatannya."
"Kamu sepertinya sangat peduli dengan wanita itu, apa jangan-jangan kamu sudah mulai suka padanya!"
"Dengarkan aku sayang, aku hanya tidak mau nama keluargaku sampai tercemar karena wanita itu. Aku wajib menjaga nama keluargaku dengan menolongnya dari kejadian yang akan merusak nama keluargaku."
"Kenapa juga Arga harus datang tepat waktu, harusnya dia datang semua pria itu sudah melecehkan wanita siala itu, dengan begitu Arga pastikan menceraikannya." Batinnya.
"Kamu tidur saja duluan, aku akan menyusul ke atas."
"Memangnya kamu mau kemana. Kenapa kita tidak naik sama-sama saja."
"Aku masih menunggu temanku, sebentar lagi dia akan sampai."
"Teman? Teman siapa?" Ucapnya bingung.
"Kamu ingatkan dengan Lendra, dia adalah Dokter yang bekerja di rumah sakit terbesar di jerman. Sekarang dia lagi ada di indonesia."
"Terus apa hubunganya, ini sudah jam 11 malam, suruh saja dia datang besok pagi."
"Ayo kita balik ke kamar kita sekarang." Ucap Clara menarik tangan Arga.
Tiba-tiba didepan pintu yang terbuka lebar, ada seorang pria tampan tengah berdiri tersenyum ke arah Arga dan Clara sambil memegang tas kecil.
Arga melepaskan tangan Clara menyambut kedatangan Lendra.
Arga dan Lendra saling berpelukan menepuk punggung mereka satu sama lain.
"Bagaimana kabarmu bro selama di jerman." Ucapnya sambil melepas pelukannya.
"Alhamdulillah baik, pekerjaanku berjalan seperti biasanya bergelut dengan alat-alat rumah sakit." Ucapnya mengerutkan dahinya.
"Katamu ada orang yang aku harus tangani?"
"Oh iya aku sampai lupa, dia ada dikamar." Ucapnya mengajak Lendra ke kamar tamu.
Clara lagi-lagi melongo kebingungan melihat sikap Arga yang peduli dengan Zanna.
"Dia tadi pingsan, aku tidak tau kenapa. Jadi menyuruhmu kesini untuk memeriksa kondisinya."
"Kenapa dia basah kuyup? Apa dia habis kehujanan." Ucap Lendra duduk disamping tempat tidur.
"Iya dia kehujanan."
Lendra menempelkan telapak tangannya diatas kepala Clara.
"Wanita ini akan demam tinggi, kita harus mengganti baju nya. Kalau tidak, ini akan memparah demam nya nanti."
"Kalau boleh tau wanita ini siapamu!"
__ADS_1
"Dia istriku,"
"Istri..?" Ucapnya kaget berbalik.
"Terus wanita yang diluar itu siapa?"
"Dia adalah istri mudaku."
"Gila hebat lu, sekaligus dapat dua."
"Sudah, tidak usah komen. Aku menyuruhmu memeriksanya."
"Iya, sorry, sorry."
"Sebaiknya kita gantikan bajunya dulu setelah itu aku akan periksa."
"Aku akan menunggu di luar, kamu gantikan saja dulu bajunya."
"Aku?" Ucap kaget.
"Tidak mungkin aku kan, kamu kan suaminya."
Clara yang berdiri didepan pintu sontak masuk mencela percakapan mereka.
"Biar aku saja, kalian berdua keluar!" Ucapnya menarik Arga dan Lendra keluar, menutup pintu kamar.
Beberapa detik kemudian tiba-tiba Clara membuka kembali pintu kamar.
Arga dan Lendra berdiri kebingungan.
"Dimana kamar istri pertamamu?" Ucap Clara.
"Ada disebelah kiri di samping kamar kita."
"Kalian berdua tunggu disini!" Ucap Clara pergi mengambil baju ganti untuk Zanna.
Lendra heran sambil senyum-senyum melihat kecemburuan istri kedua temannya itu.
Clara kembali membawa baju, berjalan menuruni tangga dengan terburu-buru.
Clara masuk ke dalam kamar, membanting pintu dengan keras di depan Arga dan Lendra
"Aku tidak akan membiarkan Arga menyentuh wanita itu. Lebih baik aku yang menggantikan pakaian wanita siala itu." Ucapnya berbalik.
Sepuluh menit kemudian Clara membuka pintu kamar.
Arga dan Lendra berdiri dari tempat duduk mereka menghampiri Clara.
"Aku sudah mengganti bajunya. Kalian berdua sudah boleh masuk."
Lendra langsung masuk ke dalam kamar memeriksa keadaan Zanna.
Sedangkan Arga dihentikan oleh Clara masuk ke dalam.
"Ada apa?" Ucap Arga bingung.
"Kamu tidak punya perasaan apapun pada Zanna kan?" Ucapnya sambil memegang tangan Arga.
__ADS_1
"Berhentilah bertanya dengan pertanyaan tidak masuk akal itu, aku capek mendengar pertanyaanmu itu." Ucap Arga melepaskan tangan Clara.
"Dasar wanita sialan, kamu membuat Arga tidak mempedulikanku." Batinnya.
Arga pergi menyusul Lendra ke kamar tamu.
Arga melihat Lendra memeriksa Zanna dari jarak dekat.
Wajah Zanna tampak sangat pucat dengan keringat yang terus-terusan muncul di dahi dan leher Zanna.
"Bagaimana keadaannya?" Ucap Arga berdiri disamping Lendra.
"Dia baik-baik saja tidak ada luka serius di tubuhnya, tapi dia sedang demam tinggi. Ini mungkin karena pengaruh hujan."
"Aku juga sudah menyuntikan obat untuk menurunkan demamnya dan sementara kamu harus disini menemaninya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu dan kamu harus melaporkannya padaku." Sambungnya.
"Dan satu hal lagi, wanita ini baru saja mengalami kejadian buruk. Lebih baik kamu tidak bersikap buruk padanya, aku takut dia bisa stress dan malah akan bunuh diri karena dia tidak sanggup menanggung beban derita yang sedang dialaminya."
"Aku akan mengingatnya."
"Terimakasih kamu sudah mau datang membantuku."
"Sama-sama, kita kan teman harus saling bantu."
Arga pun mengantarkan Lendara sampai ke depan teras.
Setelah Lendra pergi, Arga baru masuk kedalam mendatangi Clara yang duduk di sofa dengan raut wajah cemberut.
"Sayang sebaiknya kamu naik tidur sekarang, ini sudah larut malam. Tidur tengah malam tidak baik untuk kesehatanmu dan calon bayi kita nantinya."
"Aku tidak mau tidur kalau kamu tidak tidur denganku."
Arga yang tidak mau ribut, terpaksa mengikuti kemauan istrinya itu.
"Baiklah, ayo kita tidur."
"Menggendong sayang." Ucap Clara masang wajah manjanya.
Dia tidak mau kalah dengan Zanna.
Arga menggendong Clara naik tangga menuju ke kamar mereka,
Arga membaringkan Clara di tempat tidur, tapi Clara tiba-tiba merangkul leher Arga dengan kedua tangannya sampai kedua bibir mereka hampir bertemu.
"Sayang, apa kamu tidak ingin?" Ucapnya dengan lembut sambil mengedipkan matanya.
Arga melepaskan kedua tangan Clara.
"Kamu lagi hamil muda, sebaiknya kita tidak melakukannya." Ucapnya berjalan ke sisi sebelah kasur.
Arga naik ketempat tidur menarik selimut menutupi tubuh mereka.
Sebelum tidur Arga memberikan kecupan di kening Clara untuk mengganti permintaan Clara.
"Selamat malam sayang."
Bersambung….
__ADS_1