
Malam pun tiba.
Arga dan kedua istrinya duduk di meja makan bersama menikmati makan malam yang dibuat oleh bi Asri, Zanna duduk kursi yang berhadapan dengan Arga sedangkan Clara duduk di samping Arga.
Arga tiba-tiba meletakan sendok dan garpunya di piring.
“Zanna, minggu depan kita akan pergi ke swiss.”
“Ke Swiss? Untuk apa mas kita pergi kesana. ”
“Omah sudah memesankan kita tiket honeymoon ke Swiss, jadi mau tidak mau kita akan pergi kesana minggu depan.”
“Honeymoon?”
“Iya, ada apa. Kenapa raut wajahmu seperti itu? Kamu tidak ingin pergi ?”
Zanna terlalu terkejut sampai wajahnya tampak seperti orang linglung tidak percaya dengan perkataan suaminya.
“Tidak mas. Aku mau kok.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Baguslah,”
Arga kembali melanjutkan makan malamnya.
Zanna tampak bahagia mengetahui dirinya akan pergi berbulan madu dengan Arga berduaan, itu menurut pemikiranya.
Tapi dia tau ternyata suaminya itu akan pergi berbulan madu bukan dengannya tapi dengan istri keduanya.
Clara yang melihat wajah Zanna yang terlihat senang, menarik senyuman di ujung bibirnya.
“Kasihan sekali, dia tidak tau bulan madu itu akan menjadi milikku dan dia akan menjadi penonton dari saksi bisu antara aku dan Arga.” Batinnya.
“Aku sudah tidak sabar menantikan saat saat itu nanti disana. Pasti akan sangat menarik bukan melihat istri kedua menguasai panggung pertunjukkan dan istri pertama hanya duduk menonton pertunjukannya.” Sambungnya.
Satu minggu kemudian.
Hari keberangkatan telah tiba, Zanna dan Arga sudah siap pergi dengan koper mereka masing-masing. Di ruang tamu ada Nenek Arga yang duduk menunggu mereka berdua.
__ADS_1
Zanna dan Arga muncul di ruang tengah.
“Kita sudah siap Omah.”
Arga tampak menggandeng tangan Zanna dengan senyuman palsu yang dia tujukan di depan neneknya.
“Ayo kita berangkat. Nanti kalian ketinggalan pesawat.”
Nenek Arga bangkit dari tempat duduknya, dia akan ikut menemani Arga dan Zanna ke Bandara. Mereka menggunakan mobil Arga dimana Niko yang mengantar mereka.
Niko mengambil kedua koper Arga dan Zanna membawanya masuk ke dalam bagasi, sedangkan Mereka berdua masuk ke dalam mobil duduk di kursi belakang dan Neneknya duduk di kursi depan.
Setelah dia memasukkan koper mereka ke dalam bagasi, Niko buru-buru masuk kedalam mobil membawa mobilnya meninggalkan kediaman rumah Arga.
Di tengah perjalanan Nenek Arga yang tidak melihat Clara, mempertanyakan dimana keberadaannya.
“Kemana istri keduamu, kenapa dia tidak ikut mengantarmu ke Bandara?”
“Clara pulang ke rumah orang tuanya, dia akan menginap disana sampai aku dan Zanna kembali kesini.”
“Kapan wanita itu pulang?”
“Tidak salah, tapi sedikit mencurigakan. Bukannya dia tidak pernah mau membiarkan kamu dan Zanna bisa hidup dengan damai.” Ucapnya tidak percaya dengan perkataan Arga yang seperti membohonginya.
“Omah jangan selalu berpikir negatif padanya, dia juga punya sisi baik kok. Dia bahkan mengizinkan kami pergi dan dia akan rumah orang tuanya untuk semantara waktu menemangkan pikiranya.”
“Baguslah, asal kamu tidak membawa wanita itu bersama kalian.”
Zanna tampak diam, tapi hatinya terus berbicara.
“Jadi kemarin lalu Mbak Clara bawa koper itu karena dia mau pergi kerumah orang tuanya. Tapi kok Mas Arga enggak bilang yah.” Batinnya.
“Tidak penting juga Mas Arga bilang padaku. Sudahlah jangan pikirkan itu, sekarang yang aku berpikiran bagaimana aku dan Mas Arga bisa semakin dekat dengan kita menghabiskan liburan bersama nantinya.” Batinnya.
“Jadi bagaimana dengan urusan perusahaan, siapa yang akan menghendelnya saat aku pergi.” Tanya Arga.
“Untuk sementara waktu, Omah dan ibumu yang akan menghendelnya.”
__ADS_1
“Harusnya Omah tidak perlu kerja lagi, nanti kalau Omah kecapeaan bisa sakit lagi.”
“Tidak apa-apa ada Ibumu yang akan membantu Omah.’
“Kenapa Tio tidak menggantikan sementara waktu.”
“Tio sudah kembali ke Amerika 3 hari yang lalu.”
Zanna yang mendengar hal itu terkejut “ Kenapa dia, bukannya dia baru pulang setelah bertahun-tahun.”
“Kenapa kamu bisa tau kalau Tio baru pulang setelah bertahun-tahun.” Ucap Nenek Arga dengan nada suara yang serius.
Zanna dibuat diam dengan pertanyaan itu.
“Ada apa Zanna, kenapa kamu diam. Omah sedang bertanya padamu.” Ucap Arga menoleh dengan tatapan tajam..
“I-t-u, Karena adik ipar yang cerita sendiri padaku.”
“Oooh gitu, Tio padahal bukan tipe orang suka bercerita dengan orang baru, tapi sepertinya kalian tampak sangat cepat saling mengenal satu sama lain. Omah jadi senang.”
Perkataan Zanna itu adalah bohong, Tio tidak pernah menceritakan itu padanya, dia tau kalau Tio baru pulang ke Indonesia karena sebelum dia menikah dengan Arga dia masih sempat mencari kabar tentang Tio lewat beberapa teman Smanya. Mereka mengatakan kalau Arga sudah meninggalkan Indonesia sejak kelulusan Sma dan tidak pernah ada kabar dari kalau dia kembali.
“Tio harus kembali kesana, karena ada hal yang penting mengenai dengan perusahaannya. Jadi dia terpaksa harus pulang saat itu juga.”
“Padahal Omah sudah minta padanya untuk menggantikan posisimu untuk sementara waktu, tapi disaat itu juga dia menolak karena dia harus balik kesana.”
“Apa dia benar balik ke Amerika omah?” Tanya Arga.
“Iya dia, naik pesawat pagi. Bahkan Omah, ibu dan adikmu yang mengantarnya ke Bandara.”
“Berarti Tio secara tidak langsung sudah menggap dirinya kalah dan akulah yang menang.”
Arga menarik senyuman kecil di bibir, rasa kemenangan yang dia rasa di dalam dirinya membuat begitu hepi sudah membuat adiknya kalah dan kehilangan wanita yang dicintai adiknya.
“Aku tau dia tidak akan pernah menang dariku.” Batinnya..
Bersambung……
__ADS_1