Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 21 Penjara


__ADS_3

Wajah Zanna merah dengan setetes demi setetes air mata yang mengalir pipinya melihat mata Arga dipenuhi amarah yang ingin membunuhnya karena perbuatan yang tidak dia lakukan.


"Aku tidak bisa bernafas Mas." Ucapnya suara terputus-putus.


Melihat Zanna yang kesakitan Arga bukannya melepaskan cengkraman tangannya, dia malah semakin kencang mencengkik leher Zanna.


Di dalam dirinya saat ini hanya ada kemarahan dan keinginan untuk membunuh Zanna saat itu juga.


Clara tiba-tiba datang menarik tangan Arga.


Uhuck….


Zanna sontak lemas jongkok sambil batuk-batuk mencoba mengatur nafas yang sudah tidak beraturan.


"Apa yang kamu lakukan!" Ucap Arga marah.


"Aku tidak mau dia mati secepat itu, setelah membunuh anakku." Ucapnya dengan tatapan tajam menatap Arga.


"Apa yang kamu mau lakukan padanya?"


"Wanita ini harus dipenjara! Dia tidak boleh pergi dengan tenang begitu saja setelah menghilangkan nyawa calon bayiku."


"Penjara?" Batin Zanna.


"Aku mau kamu menelpon polisi sekarang juga!" Ucapnya dengan raut wajah yang serius.


Arga yang termakan dengan ucapan istri keduanya langsung menelpon kantor polisi melaporkan Zanna atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadapan Clara.


Zanna bangkit mencoba meraih tangan Arga.


"Dengarkan aku dulu Mas." 


Plank!!!


Plank!!!


Plank!!!


Arga lagi-lagi menampar Zanna untuk kedua kalinya.


"Tutup mulut kotormu itu, aku tidak mau mendengar satu kata pun kebohongan darimu!"


"Sebentar lagi polisi akan datang menangkapmu, pikirkan saja bagaimana nasibmu nanti."


"Aku aku pastikan akan tersiksa didalam penjara." ucapnya dengan tatapan yang tajam.


"Aku tidak bersalah Mas." Ucapnya sedih.


"Aku mohon percayalah padaku Mas, aku tidak melakukannya." 

__ADS_1


Zanna terus berusaha mencoba menjelaskan semuanya pada Arga, tapi Arga tidak percaya satu katapun yang dikatakan Zanna.


"Dasar wanita tidak tau diri! Jangan harap aku akan percaya padamu!" Ucapnya marah.


"Kamu masih bisa berbohong wanita sialan!" Teriak Clara menampar wajah Zanna.


Plank!!!


Plank!!!


Plank!!!


"Aku tidak berbohong, kamu lah yang berbohong!" Ucapnya tegas menatap Clara.


"Aku membawamu ke rumah sakit berharap kamu dan anakmu selamat, tapi kamu memfitnahku membunuh anakmu."


"Akan ada saatnya kebohongan mu pasti akan terbongkar, Tuhan tau siapa yang berbohong." Sambungnya, raut wajah serius menatap tajam Clara.


Clara seketika terdiam beberapa detik.


"Dasar wanita ******!" Teriak Clara menarik rambut Zanna.


"Kamu sudah membunuh calon bayiku, tapi masih bisa bicara omong kosong." 


"Aku tidak akan mengampunimu wanita ******, aku akan membuat hidupmu tersiksa sehingga kamu hanya ingin kematian datang menjemputmu." Ucapnya menarik rambut Zanna dengan keras.


Zanna dan Clara terlibat pertikaian cukup lama menarik rambut satu sama lain.


"Sudah hentikan!" Ucap Arga mencoba menenangkan Clara.


Tiba-tiba dua pihak polisi yang dihubungi Arga masuk ruangan.


"Pak tangkap wanita itu!" Ucap Arga.


"Ayo ikut kami ke kantor polisi!" Ucap kedua polisi itu sambil memborgol kedua tangan Zanna.


"Tolong Tuan dan Nona juga nanti ikut kami ke kantor untuk membuat laporan."


"Baik Pak, Aku akan mengirim pengacaraku ke sana. Istriku masih dalam keadaan syok berat kehilangan bayi kami jadi aku harus selalu ada disampingnya pak." 


"Baik kalau begitu, Tolong segera kirimkan pengacara Tuan, kami permisi."


Kedua polisi itu membawa Zanna pergi dari rumah sakit.


Zanna tidak bisa berbuat apa-apa selain ikut bersama mereka.


Dia sempat menoleh ke belakang menatap Arga dengan mata yang berkaca-kaca. Tapi Arga tampaknya tidak peduli sama sekalih dengannya.


Dia malah memeluk Clara dengan erat memperlihatkan apapun yang dikatakan Zanna tidak akan merubah apapun, Arga hanya akan percaya dengan apa yang dikatakan Clara.

__ADS_1


Zanna berjalan dengan kepala yang tertunduk sedih meneteskan air matanya.


Sedangkan Clara terus berusaha menghasut Arga untuk semakin membenci Zanna.


"Aku mau kamu pastikan wanita itu akan dihukum berat! Dia sudah membunuh anak kita." 


"Kamu tidak perlu cemas, aku pastikan wanita itu akan menderita tinggal dipenjara!" Ucapnya yang dipenuhi dengan amarah di dalam dirinya.


Di rumah Ibu Zanna


Tampak Ibu Zanna yang sedang mencuci piring di wastafel. Tiba-tiba perasaannya tidak enak memikirkan Zanna.


Dia seketika menghentikan pekerjaannya berbalik memegang dadanya yang sakit.


"Ada apa ini kenapa aku tiba-tiba kepikiran dengan Zanna. Apa terjadi sesuatu yang buruk padanya." Ucapnya cemas.


Semenjak beberapa hari yang lalu setelah bicara di telepon dengab putrinya, ibu Zanna tidak pernah tenang memikirkan putrinya itu.


"Apa putriku baik-baik saja disana?" Batinya bertanya-tanya.


Sebagai seorang ibu, pastinya punya ikatan batin yang kuat terhadap anaknya walaupun mereka tidak mengatakan masalahnya. Tapi batin seorang ibu bisa merasakan apa yang sedang dialami oleh anaknya.


Itu lah yang sekarang dirasakan oleh ibu Zanna.


Hatinya tidak bisa tenang terus memikirkan putrinya. 


Ibu Zanna buru-buru pergi ke kamarnya mencari hpnya.


Dia ingin menelepon putri semata wayang itu.


"Dimana ponselku." Ucapnya mencari di seluruh ruangan kamarnya.


Dia lupa dimana meletakan hpnya.


Ibu Zanna berusaha mengingat dimana terakhir kali dia memegangnya.


Ibu Zanna tiba-tiba berbalik keluar pergi ke ruang tengah mencari di disamping meja televisi.


Ternyata dia meletakkannya di sana.


Dia langsung menghubungi nomor putrinya.


Nomor putrinya aktif tapi tidak ada jawaban sama sekali.


Ibu Zanna terus mencoba menghubungi nomor putrinya mungkin ada hampir 10 panggilan yang dilakukannya tapi hasilnya sama saja.


Disisi lain hp Zanna terus berdering atas meja di kamar tamu.


Di malam itu Arga meletakkan semua barang-barang Zanna dikamar itu dan Zanna juga tidak memikirkan hpnya disaat Clara jatuh dari tangga.

__ADS_1


Yang dia pikirkan bagaimana caranya agar dia bisa membawa Clara secepat mungkin ke rumah sakit.


Bersambung….


__ADS_2