Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 67 Jarum Suntik


__ADS_3

Di Kamar mandi wanita.


Tampak Lendra yang berdiri sambil memperbaiki celananya, sedangkan Sherlyn duduk di kloset dengan wajah yang penuh air mata dan baju kancing yang terbuka memperlihatkan baju dalamnya.


Sherlyn menundukkan kepalanya karena malu dengan dirinya.


Setelah celana rapi, Lendra berbalik mencium pipi Sherlyn dengan senyuman bejatnya.


"Sekarang sudah cukup, nanti kita bisa bermain diwaktu lain."


"Sayang aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik." Ucapnya sambil menepuk pipi Sherlyn dua kali, lalu pergi meninggalkan Toilet itu dengan kondisi Sherlyn yang masih seperti itu.


Dia tidak mempedulikan Sherlyn yang dia pedulikan hanya hasratnya semata.


Sedangkan Sherlyn duduk menangis di dalam kamar mandi sambil memperbaiki bajunya yang berantakan.


Air matanya berjatuhan membasahi roknya dengan hati yang hancur.


Siapa yang tidak hancur diperlakukan seperti itu.


Sherlyn tidak mau melakukan seperti itu untuk kedua kalinya tapi dia melakukannya lagi karena keadaan yang memaksa.


Dia benar-benar takut dengan ocehan teman sekolahnya, belum lagi dengan lingkunganya, dan keluarganya.


Dia tidak berani menghadapi semua itu, dia lebih memilih menutupi itu semua dengan caranya. Daripada dia harus menanggung malu.


Sherlyn menghapus air matanya berdiri dari kloset membuang sapu tangan pemberiaan Lendra yang basah karena air liurnya ke samping kloset.


Dia membuka pintu Toilet keluar pergi ke depan wastafel untuk bercermin sebelum dia kembali ke kelas.


Sherlyn berdiri memandangi dirinya di depan cermin dengan wajah tidak bersemangat untuk kembali ke kelas.


"Aku tidak bisa kembali ke kelas dengan kondisi seperti ini."


Melihat matanya yang bengkak karena menangis, Sherlyn memutuskan untuk tidak kembali ke kelasnya.


Dia memutuskan akan di dalam kamar mandi sampai jam pelajaran selesai.


Tiba-tiba ada 2 perempuan yang masuk kedalam kamar mandi.


Sherlyn malu dilihat oleh mereka, langsung keluar dari kamar mandi melewati mereka berdua dengan wajah yang datar.


"Itu bukannya Kak Sherlyn yah?"


"Iya Itu Kak Sherlyn, kok dia kaya habis nangis yah." 


Kedua adik kelas Sherlyn saling melihat satu sama lain saat Sherlyn keluar dengan keadaan mata yang bengkak.


Disisi lain Sherlyn yang bingung harus pergi kemana, memutuskan untuk pergi ke kantin sampai mata pelajaran sejarah selesai.


 


...----------------...


Rumah sakit.


Tampak Dokter Tirta sedang berbicara mengenai kondisi kesehatan Zanna pada Tio.


Setelah memberitahu kondisi kesehatan Zanna yang sudah mulai membaik, tinggal penyembuhan luka operasi yang akan memakan waktu yang lama. 


Dokter Tirta keluar meninggalkan mereka berdua.


Tio duduk di samping tempat tidur Zanna, menatapnya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Zanna…"


"Ada apa?" Ucapnya menoleh.


"Apa kamu masih ingin bertahan dengan pernikahanmu yang akan terus menyiksa batinmu."


Zanna terdiam merenungkan kata-kata Tio.


"Aku tidak bermaksud mau ikut campur dalam rumah tanggamu, tapi kamu juga berhak bahagia. Kalau kamu tidak bahagia menikah dengannya, kamu berhak untuk mengakhiri hubungan itu."


"Jangan paksakan sesuatu yang memang bukan untukmu." Sambungnya.


 "Terimakasih kamu sudah mengkhawatirkan ku."


"Tapi aku tetap akan mempertahankan rumah tanggaku sampai Mas Arga yang akan memutuskan hubungan itu. Aku tidak ingin menyakiti perasaan Ibuku dan Omah."


"Kamu selalu saja begitu lebih memikirkan perasaan orang lain ketimbang perasaanmu sendiri." 


"Sekali-kali kamu pikirkan juga perasaanmu sendiri." Sambungnya.


Zanna tersenyum menganggukkan perkataan Tio.


"Kamu tidak mau pulang mengganti bajumu?" 


"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri disini." 


"Nanti aku suruh orang saja bawakan baju kesini." Sambungnya.


"Kamu pulang saja dulu, aku tidak apa-apa kok sendiri."


"Tidak, kamu jangan memaksaku."


"Bajumu bau darah, apa kamu masih nyaman memakainya." 


Tio sudah tidak mempedulikan lain, yang dia pedulikan hanya bagaimana dia masih tetap berada disisi Zanna sampai Zanna bisa kembali pulih seperti sedia kala.


"Baiklah terserah kamu saja."


Zanna menyerah membujuk Tio untuk pulang mengganti bajunya yang sudah bau amis darah.


Tiba-tiba perawat masuk membawa obat-obatan untuk Zanna.


"Selamat pagi Nona, saya datang membawa obat untuk Nona." Ucapnya senyuman ramah menghampiri Zanna.


Zanna menyambut kedatangan perawat itu dengan senyuman manis.


Perawat itu meletakan obatnya diatas meja dan memisahkan suntikan yang sudah berisikan cairan obat yang akan suntikan pada Zanna saat itu juga.


Melihat perawat itu memegang suntik, wajah Zanna tiba-tiba keringatan. Padahal ruangan itu full dengan AC, tidak mungkin Zanna kepanasan.


"Permisi Nona." Ucapnya perawat itu sambil menyentil ujung jarumnya didepan Zanna.


Saat perawat itu mau menyuntikan obat itu ke tangan Zanna yang diinfus, Zanna tiba-tiba menarik tangannya.


"Apa harus disuntik?" 


"Iya Nona, suntiknya tidak sakit kok. Cuman kaya digigit semut." Ucapnya tersenyum.


Ternyata Zanna takut dengan suntik maka dari itu tadi dia keringatan.


"Enggak apa-apa kok sus, biar sembuhnya lama yang penting tidak suntik." Ucapnya dengan raut wajah yang ketakutan bahkan bulu kudung sudah merinding duluan melihat jarum suntik.


"Nona tidak perlu takut, suntiknya tidak sakit. Saya jamin." 

__ADS_1


"Enggak apa-apa sus, nggak usaha." Ucapnya dengan raut wajah mengkerut menolak.


"Tidak boleh, kalau memang harus disuntik lakukan saja sus." Ucap Tio.


Zanna langsung menyembunyikan tangan nya ke sebelah tangan kirinya.


"Enggak aku takut!"


"Aku punya cara biar kamu tidak takut lagi."


"Bagaimana?"


"Jangan dilihat." 


"Nggak bisa, aku pasti ngintip nantinya."


"Bisa kok. Kamu peluk aku, jangan lepas sampai selesai." 


"Iya Nona, itu bisa Nona coba."


"Ayok, Nona jangan takut."


"Memang itu akan berhasil."


"Percaya padaku!"


"Baiklah." Ucapnya dengan nada suara yang terpaksa.


Zanna membalikan tubuhnya memeluk pinggang Tio dengan tangan kirinya dan tangan kanannya dia letakan ditempat tidur.


Tio juga memeluk tubuh Zanna.


Dia bisa merasakan tubuh Zanna yang gemetar karena ketakutan.


"Ini tidak akan lama, kamu pasti bisa." Ucapnya menyemangati.


"Jangan dirasakan, kamu pikirkan lain saja yang membuatmu senang." Sambungnya.


"Nggak bisa aku takut."


"Coba deh kamu bayangkan sekarang kamu dan aku lagi duduk pinggir pantai melihat Sunset dengan air laut yang dingin yang menerpa kaki dan tanganmu." 


Tio berusaha mengalihkan pikiran Zanna agar Zanna tidak memikirkan rasa sakit saat disuntik.


Saat Tio berbicara seperti itu, perawat itu ternyata mengambil kesempatan menyuntik obat itu dan akhirnya Zanna tidak merasakannya.


"Sudah selesai Nona."


Zanna masih terbawa dengan pikirannya sampai tidak sadar dengan perkataan perawat itu sampai Tio menepuk bahu nya dua kali.


Zanna sontak melepaskan pelukannya berbaring kembali seperti biasa.


"Sudah selesai?"


"Iya Nona. Kalau begitu saya permisi, jangan lupa diminum obatnya." Ucap perawat itu berjalan keluar dari kamar Zanna.


"Tidak sakitkan!"


"Iya…." Ucapnya tersenyum tipis.


"Dasar wanita penakut." Ucap Tio sambil mengusap-ngusap kepala Zanna.


Bersambung…...

__ADS_1


__ADS_2