
Niko dan Pak Darto yang duduk bersama-sama di pos, mereka dikagetkan dengan mobil Nenek Arga yang datang.
Bib!!!
Bib!!!
Bib!!!
Pak Darto buru-buru keluar dari pos berlari membukakan pagar.
Mobil Nenek Arga masuk di pekarangan rumah.
Niko keluar dari pos melihat Nenek Arga yang turun dari mobil.
"Bagaimana ini Nyonya besar ada disini, aku harus memberitahu Tuan." Ucapnya berbalik mengambil hpnya yang ada kursi.
Saat dia mau menelpon Arga baterai hpnya habis, hpnya mati total.
"Tidak keburu, aku harus masuk sebelum Nyonya besar masuk." Ucapnya berlari keluar dari Pos.
Disisi lain Arga dan Clara keluar dari kamar bersama-sama turun ke lantai bawah.
Mereka berdua akan pergi jalan-jalan ke Mall bersama untuk menghibur Clara yang marah.
"Nanti di mall aku mau belanja sepuasku, bolehkan Mas." Ucapnya berjalan menuruni tangga.
"Apapun yang kamu mau beli, Mas pasti belikan." Ucapnya sambil tersenyum.
"Makasih Mas." Ucap Clara merangkul tangan Arga sambil tersenyum.
Dari pintu depan Nenek Arga melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, bersamaan dengan Niko yang muncul di pintu samping dapur.
Clara yang sedang cuci piring, kaget melihat Niko yang berlari masuk kedalam dengan terburu-buru.
Dia langsung mematikan keran air dan melap tangannya yang basah di kain hijau yang tergantung di sana.
"Kenapa Niko terlihat tergesah-gesah yah." Batinnya. Zanna menyusul Niko.
Langkah Zanna terhenti tepat di tengah-tengah ruangan.
Dia kaget melihat kedatang Nenek Arga yang tiba-tiba.
Susana tampak dingin, Nenek Arga yang berhadapan dengan Arga dan Clara tampak bingung melihat Clara yang berdiri samping Arga.
Niko tidak sempat mengatakan pada Arga kalau Neneknya datang karena saat dia datang Nenek Arga sudah lebih dulu sampai dan berpapasan dengan Arga dan Clara saat turun dari tangga.
Semua orang diam dengan raut wajah yang bingung.
"Arga siapa wanita itu?" Ucap Nenek Arga dengan sorot mata yang tajam.
Clara tersenyum manis menyapa Nenek Arga.
"Dia Pembantu baru disini Omah," Ucapnya berjalan menghampiri Neneknya meninggalkan Clara.
Senyuman di wajah Clara menghilang dengan bersamaan munculnya amarah di dalam dirinya, mendengar perkataan Arga yang menyebutnya pembantu dihadapan Neneknya.
Clara pikir Arga akan memberitahu hubungan mereka pada Neneknya, tapi ternyata Arga tidak melakukan itu. Dia malah mempermalukannya dengan menyebutnya sebagai pembantu.
__ADS_1
Zanna dan Niko sama-sama terkejut mendengar ucapan Arga.
"Bukannya omah menyuruhku mencari pembantu untuk meringankan pekerjaan Zanna dirumah."
"Tapi kenapa kamu mencari pembantu yang seumuran dengan kalian!" Ucapnya dengan sorot mata yang tajam menatap Clara.
"Tidak apa-apa Omah, wanita itu juga teman Zanna. Iya kan Zanna." Ucapnya berbalik mengkode Zanna.
"Yang dikatakan Mas Arga itu benar, aku juga kok Omah yang memilihnya." Ucapnya mencoba menyakinkan Omah.
"Wanita itu tidak seperti pembantu." Batin Omah, menatap Clara dari atas sampai bawah.
"Siapa namamu?"
"Aku?"
"Iya kamu, siapa lagi."
"Clara Omah."
"Jangan sok akrab kamu, panggil aku dengan sebutan Nyonya besar." Ucapnya dengan wajah serius.
Amarah Clara semakin memuncak, rasanya dia ingin keluar dari rumah itu sekarang juga.
Tapi dia harus tetap bertahan untuk anak yang dia kandung.
"Iya maaf Nyonya besar." Ucapnya dengan berat hati.
"Kamu, buatkan aku teh hangat." Ucapnya memerintahkan Clara.
"Hey kamu kenapa diam, cepat pergi dan buatkan aku teh hangat." Ucapnya marah.
Arga langsung mengkode Clara mengedipkan matanya untuk menuruti apa yang dikatakan Neneknya
Clara terpaksa menuruti kemauan nenek Arga.
Clara pergi ke dapur dengan wajah yang mengerut.
Sedangkan Arga, Zanna, Niko, Bi Asri dan Nenek Arga pergi ke ruang tengah.
Mereka semua duduk bersama di sofa.
"Omah, kenapa datang kesini tanpa memberitahuku." Ucap Arga.
"Memang Omah harus minta izin dulu datang ke rumah cucu Omah sendiri."
"Bukan seperti itu Omah."
"Sudahlah, Omah datang mau menanyakan kondisi menantuku."
"Bagaimana kondisimu Nak?"
"Alhamdulillah Omah aku sudah baikan." Ucapnya sambil tersenyum.
"Apa Arga merawatmu dengan baik setelah Omah pergi?" Ucapnya dengan raut wajah yang serius.
Zanna sejenak diam.
__ADS_1
"Tentu saja Omah, Mas Arga tidak meninggalkanku sedetikpun. Dia terus menemaniku di kamar." Ucapnya tersenyum.
"Mas Arga meninggalkan semua pekerjaannya demi menjagaku." Sambungnya.
"Baguslah kalau begitu."
"Wanita ini malah tersenyum dengan kebohongannya, tapi baguslah. Dia tidak mengatakan yang sebenarnya." Batin Arga.
Clara datang membawa segelas cangkir teh hangat, meletakkannya di atas meja.
"Kenapa tehnya cuman satu? Kamu tidak lihat kita ada berapa orang!" Ucap Nenek Arga marah.
"Sana buatkan lagi!" Sambungnya.
Clara yang berdiri didepan meja rasanya ingin membuang teh itu ke wajah Nenek Arga.
"Clara kamu duduk saja, biar aku yang membuat tehnya." Ucap Zanna beranjak berdiri.
Omah tiba-tiba menarik tangan Zanna.
"Biarkan dia yang membuat tehnya, memangnya kamu pembantu disini."
"Tapi Omah…."
"Itu sudah tugasnya sebagai pembantu." Ucapnya ketus.
Sejak datang Nenek Arga memang tidak menyukai Clara, dia tidak tau kenapa, tapi setiap melihat Clara rasanya dia ingin marah.
Clara yang emosi langsung pergi ke dapur.
Dia membuang nampan yang dia pegang ke tempat cuci piring.
"Dasar nenek peot, sudah bau tanah tapi mulutnya tajam sekalih." Ucap marah-marah.
"Rasanya aku ingin mencabik-cabik mulut wanita tua itu." Ucapnya menahan amarah.
Tiba-tiba ada seseorang yang memegang bahu Clara.
Clara berbalik.
"Mas Arga!" Ucapnya terkejut.
"Jangan sampai Arga mendengar ucapanku." Batinnya panik.
"Sayang maaf aku yah, tadi aku menyebutmu pembantu karena tidak ada jalan lain. Kalau Omah sampai tau aku menikah lagi bisa-bisa penyakit jantung Omah kambuh lagi." Ucapnya memohon.
"Sepertinya dia tidak mendengar perkataanku." Batinnya.
"Aku tidak terimah diperlakukan seperti ini, lebih baik aku dan anakku pergi dari sini dari pada harus dihina seperti ini."
"Jangan marah dulu sayang, ada bagusnya kalau kamu berpura-pura menjadi pembantu disini. Kamu tidak perlu membuat alasan untuk bisa berada didalam rumah ini." Mencoba memberikan pengertian pada Clara.
"Tapi bukan dengan cara ini, kamu malah menjatuhkan harga diriku sebagai istrimu." Ucapnya marah.
"Bersabarlah dulu, aku akan memberitahu Omah setelah aku mendapatkan waktu yang pas." Ucapnya memeluk Clara.
Bersambung….
__ADS_1