
Arga sangat kecewa dengan Clara, tidak habis pikir Clara akan melakukan itu.
"Aku sudah percaya padamu, tapi ternyata kamu berbohong padaku. Kamu tau aku tidak suka dengan kebohongan!" Ucap Arga marah.
"Bukan seperti itu, aku hanya…."
"Hanya apa!" Teriaknya membentak Clara sampai urat-urat di wajah Arga terlihat.
"Aku cemburu padanya!" Teriak Clara marah.
Tangan Arga hampir saja melayang di wajahnya, tepat saat tangannya sedikit lagi mengenai pipi Clara dia menghentikan tangan itu.
Dia masih menahan amarahnya untuk tidak menampar Clara.
"Karena kebodohanmu itu, kita kehilangan bayi kita." Ucap Arga menarik kembali tangannya.
"Maafkan aku." Ucapnya menangis.
Clara meraih tangan Arga tapi Arga menepis tanganya dengan kasar.
"Sekarang kamu tau siapa yang salah, kalau bukan Niko yang membawa Omah kesini kamu pasti masih akan tetap menyalahkan Zanna. Padahal istri kedua mu yang kamu banggakan itu lah berbohong."
"Dasar wanita tidak tau malu, berani kamu memfitnah menantuku." Ucapnya marah.
"Aku akan menuntutmu balik."
Arga lansung memohon pada Neneknya, agar tidak menuntut balik Clara.
"Aku mohon Omah jangan tuntut Clara." Ucapnya memegang kedua tangan Neneknya.
"Dia harus dikasih pelajaran sedikit biar tidak semena-mena dengan Zanna."
"Jangan pikir karena Zanna anak yang baik, kamu bisa menindasnya. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi pada menantuku, aku yang melindunginya." Ucapnya marah.
"Aku mohon Oma, biar aku saja yang menghukumnya."
"Itu semua tergantung pada Zanna kalau dia mau melaporkan Clara aku akan membantu menempuh jalur hukum."
"Sebaiknya kamu Sekarang juga pergi jemput menantuku pulang!" Sambungnya.
"Iya Omah."
Karena Arga tidak mau Neneknya tambah marah, dia langsung pergi menjemput Zanna pulang. Sebelum pergi dia memanggil Niko.
"Niko!"
"Iya Tuan, ada apa ?"
"Aku tidak jadi memecatmu, Kamu akan tetap bekerja disini."
"Baik Tuan, terima kasih."
Arga pergi menjemput Zanna meninggalkan Clara yang menangis.
"Perempuan tidak tau malu, kamu tidak perlu memasang air mata palsu mu itu."
"Setelah kebohonganmu terbongkar, kamu masih berdiri tenang disini kalau aku sudah pasti akan pergi dari rumah ini." Ucapnya dengan sorot mata yang tajam.
Clara yang sudah kehilangan muka menghapus air matanya pergi meninggalkan rumah Arga detik itu juga.
Di dalam hatinya ada rasa demam, dia akan kembali dan membalas semua penghinaan yang dia terima.
__ADS_1
"Aku akan membalasmu Zanna." Ucapnya keluar dari pintu rumah Arga.
Di Kantor Polisi, Ketua geng yang tadi mengganggu Zanna kembali mengusik ketenangan Zanna.
Zanna ketakutan didalam Sel duduk di pojokan seorang diri sambil menundukkan kepalanya.
Zanna diam-diam menangis tanpa suara dalam kesunyian.
Tiba-tiba wanita yang memukuli Zanna kembali menarik rambutnya dengan kasar.
"Wanita bodoh kenapa kamu menangis!" Ucapnya tersenyum mengangat kepala Zanna sampai Zanna melihat wajahnya.
Zanna tampak kesakitan, rasanya semua rambutnya satu persatu akan tercabut.
"Lepaskan." Ucap Zanna mendorong tubuh wanita itu.
Wanita itu selangkah mundur kebelakang melepaskan tangannya dari rambut Zanna.
Wanita itu tiba-tiba tertawa membuat semua penghuni kebingungan.
"Kamu sudah mulai berani padaku!" Teriak wanita itu melayangkan tangannya menonjok wajah Zanna.
Bungk!!!
Zanna terjatuh terlentang ke belakang.
Para wanita lain tampak bersemangat karena Ketua mereka pasti akan menghajar Zanna habis-habisan.
Wanita itu menarik baju Zanna memberikan tonjokan keras di pipi dan mata kanan Zanna.
Semua orang di dalam sel berteriak menyemangati ketua mereka menghajar Zanna.
"Hajar dia!" Teriaknya bersamaan.
Zanna berusaha menahan pukulan wanita itu tapi tenaganya tidak sebanding. Akhirnya Zanna babak belur.
Tiba-tiba penjaga sel wanita datang membukuk Sel dengan tongkat mereka, membuat wanita itu berhenti memukul Zanna.
"Hentikan perkelahian kalian!" Teriaknya marah.
"Kamu lepaskan wanita itu."
Wanita itu bangkit sambil mengangkat tangannya menjauh dari Zanna.
Zanna sudah tidak punya tenaga lagi untuk bangkit, hanya bisa berbaring di lantai sambil mengeluarkan air matanya.
Penjaga lapas membiarkan Zanna tergeletak begitu saja, sebelum pergi wanita penjaga lapas itu sempat mengedipkan matanya sambil tersenyum ke wanita yang menghajar Zanna.
Ternyata penjaga lapas itu adalah orang yang di suap pengacara Arga untuk menyiksa Zanna didalam lapas.
Itu sebab kenapa tidak ada penjaga lapas yang menghentikan wanita itu menyiksa Zanna.
Di luar kantor polisi mobil Arga telah sampai.
Dengan raut wajah bersalah Arga melangkahkan kakinya keluar dari mobilnya, masuk ke dalam kantor polisi.
Di dalam kantor polisi sebelum Zanna dibebaskan Arga terlebih dahulu harus membuat surat permohonan pencabutan laporan setelah itu Arga baru bisa membawa Zanna pulang.
Saat Arga sedang duduk menandatangani surat pencabutan laporan.
Penjaga lapas yang menyiksa Zanna muncul menggandeng Zanna yang babak belur, bahkan Zanna terlihat tidak kuat berjalan lagi. Jadi dia harus menopangnya.
__ADS_1
Arga sontak melepaskan pulpen yang dia pegang.
"Kenapa dia bisa seperti itu, bukannya dia baru saja masuk beberapa jam yang lalu." Ucap salah satu polisi disana.
"Wanita ini berkelahi dengan penghuni lain didalam sel. Akibatnya dia dihajar habis-habisan oleh mereka."
"Kenapa kamu menghentikan mereka." Ucapnya marah.
"Saat aku datang dia sudah seperti ini."
Arga sontak berdiri dengan raut wajah marah.
"Apa-apa ini kenapa kalian membiarkan nya terluka seperti ini!" Teriak Arga marah.
"Tenang dulu Tuan Arga, kami akan mengurus masalah ini." Ucap salah satu polisi disana.
"Tuan Arga, bukannya dia orang yang memintaku menyiksa wanita ini. Lantas kenapa dia tidak terima wanita ini siksa." Batinnya, bingung karena pengacara Arga sempat memberitahu Nama Arga ke wanita itu.
"Aku tidak mau tau kalian harus memberikan hukuman pada wanita sudah memukulnya."
"Tuan Arga tenang saja, kami akan pasti akan melakukan itu."
Zanna mengangkat kepalanya melihat Arga yang marah, dia tidak menyangka Arga masih peduli dengannya.
"Mas Arga, aku percaya kamu pasti akan datang menjemputku." Batinnya.
Penjaga lapas itu melepaskan tangannya dari Zanna.
Zanna perlahan-lahan mengangkat kakinya yang berat melangkah maju menghampiri Arga.
Dia sudah tidak kuat berjalan pada akhirnya terjatuh dipelukan Arga.
"Aku percaya kamu akan datang Mas Arga." Ucapnya dengan senyuman kecil diwajahnya.
Tiba-tiba Zanna jatuh pingsan di pelukan Arga.
"Sadarlah!" Ucap Arga panik.
Dia tidak menyangka Zanna akan terluka pasrah seperti ini, padahal baru beberapa jam Zanna didalam sel.
Apa yang terjadi jika Zanna akan berhari-hari disana, mungkin Zanna akan mati tersiksa didalam.
Ini semua juga karena salahnya, dia tidak berpikir panjang sebelum memutuskan sesuatu dan pada akhirnya dia menyesalinya.
Arga menggendong Zanna keluar dari kantor polisi membawanya masuk kedalam mobil.
Dia membaringkan Zanna kursi belakang.
Sebelum menutup pintu mobil Arga sempat berdiri cukup lama menatap Zanna dengan tatapan kasihan.
"Apa aku terlalu jahat kepadanya?"
"Maafkan aku Zanna, seharusnya aku tidak bertindak sejahat ini padamu." Ucap Arga menutup pintu mobil.
Arga buru-buru masuk ke dalam mobil, menancap gas mobilnya.
Melihat luka Zanna yang parah Arga tidak bisa membawanya dalam kondisi seperti itu.
Dia memutuskan akan pergi membawa Zanna ke rumah sakit.
Bersambung…..
__ADS_1