Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 42 Arga Marah


__ADS_3

Di rumah keluarga besar Tomo.


Di kamar Tio


Tampak Tio yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah kakaknya.


Dia mengambil hpnya di meja, lalu keluar menutup pintunya pergi ke lantai bawah.


Tapi tiba-tiba dia kembali ke kamarnya karena dia melupakan sesuatu.


Dia membuka kopernya di atas tempat tidur, mengambil kotak segi empat berwarna silver.


Tia membuka kontak silver itu.


Tampak terlihat ada kalung Crystal Diamond yang  terdiri dari 32 berlian berbentuk bulat, dan berat total sekitar 90,84 karat.


Dengan bentuk berlian yang didesain seperti buah pir, serta kalung rantai yang berasal dari emas putih murni, kalung berlian ini pun memiliki daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya. 


Kalung ini sendiri telah berhasil dilelang pada acara pameran berlian yang diadakan di inggris 2 tahun yang lalu dengan tawaran akhir senilai Rp 50 miliar, dan dimenangkan oleh Tio sendiri.


Saat pertama kali melihat kalung itu, Tio langsung terpesona dengan kecantikan kalung itu.


Tio marasa kalung itu akan lebih cantik jika Zanna yang memakainya.


Dia menyimpan kalung itu untuk sebagai hadia pertemuan pertama mereka setelah berpisah 8 tahun.


"Aku sudah tidak sabar bertemu denganmu." Ucapnya menutup kembali kotak itu.


Dia mengambil kotak itu menaruhnya kembali ke dalam kopernya.


Tio kembali hanya ingin memastikan hadia Zanna tidak tertinggal apartemennya.


Tio keluar dari kamarnya turun ke bawah menemui Neneknya sudah menunggunya.


Dia menuruni tangga dengan cepat pergi ke ruang tamu dimana Neneknya sedang duduk bersama ibunya.


"Ayo Omah kita pergi…"


Neneknya bangkit menghampiri Tio.


"Ayo.." 


Neneknya jalan lebih dulu, keluar dari rumah.


Saat Tio mau pergi, Ibunya menghentikan langkahnya.


"Tio, tunggu sebentar."


"Ada apa bu."


"Kamu mau pergi ke rumah Kakakmu?" 


"Iya, ada apa memangnya." Ucapnya bingung.


"Tolong nasehati kakakmu itu agar dia menceraikan istrinya, mungkin kalau kamu yang menasehatinya dia akan mendengarmu."


Nyonya Elina meminta bantuan putra keduanya agar bisa membujuk Arga menceraikan Zanna.


"Aku tidak mau ikut campur dalam rumah tangganya, biarkan mereka menjalaninya sesuai dengan jalan yang mereka bangun."


Tapi tidak disangka Tio malah menolak permintaan Ibunya, dia malah menasehati Ibunya.

__ADS_1


"Ibu sebaiknya jangan selalu memandang seseorang dari hartanya, karena harta itu hanya titipan, bisa jadi besok ibu akan kehilangan semua dan menjadi orang yang seperti Ibu benci."


Tio punya sifat yang bertolak belakang dengan ibu dan dan adiknya Sherlyn.


Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan hartanya dan merendahkan orang lain.


"Harta tidak menjamin kebahagian seseorang. Jika Arga bahagia menikah dengan wanita pilihan Omah, kenapa kita harus memisahkan mereka."


Tio lebih mendukung Neneknya dari pada ibunya, dia tau kalau Omah yang menjodohkan Arga dengan wanita itu, berarti Omah punya penilaian tersendiri.


"Kamu masih anak-anak, tidak mengerti tentanh kehidupan yang sebenarnya." Ucapnya marah.


"Terkadang umur tidak menentukan kedewasaan seseorang." 


"Aku pamit bu, Omah sudah menungguku." Ucapnya mencium tangan ibunya, lalu pergi keluar dari rumah, masuk ke dalam mobil.


Mobil mereka meninggalkan pekarangan rumah pergi ke rumah Arga.


Disisi lain Arga dan Zanna masih saja bertengkar di mobil karena permasalah yang sama.


Arga masih tidak menerima permintaan maaf Zanna, karena Zanna yang tidak mendengarkan perintahnya.


Sedangkan Zanna masih menangis didalam mobil, karena ucapan Arga yang menyakiti hatinya.


Arga tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Berhenti lah menangis, aku tidak mau mendengar tangisanmu." Ucapnya membentak sambil memukul kemudi mobil.


Bukan Zanna berhenti menangis, dia semakin ketakutan dengan Arga yang mengamuk.


Zanna semakin kencang menangis, menahan tangisannya sampai dadanya sesak.


"Kenapa dia malah semakin kencang menangis." Ucapnya bingung harus melakukan apa.


"AAAHHHH"


Dia berbalik menyadarkan kedua tangan ke mobil menundukkan kepalanya bawah.


Memikirkan kembali sikapnya pada Zanna yang terlalu berlebihan.


"Aku seharusnya tidak membentaknya seperti itu."


Arga menyesali perlakuannya yang terlalu kasar.


Dia kembali masuk ke dalam, mencoba bersikap lembut pada Zanna dengan cara memberikan tisu.


"Hapuslah air matamu." Ucapnya menyodorkan kota tisu.


"Kita mau ke rumah Ibumu, kalau dia melihatmu menangis seperti ini. Kira-kira apa yang dia pikirkannya." Sambungnya.


"Aku sudah tidak marah, hapuslah air matamu itu." Ucapnya terus mencoba membujuk Zanna.


Zanna perlahan mengangkat kepalanya menoleh ke samping menatap Arga dengan mata yang memerah berlinang air mata.


"Mas Arga sudah tidak marah?" 


Arga menarik nafas, mengambil selembar tisu menghapus air mata Zanna dengan lembut.


"Aku sudah tidak marah."


Zanna menarik tangan Arga menggenggamnya di pangkuannya.

__ADS_1


"Aku janji padamu Mas, aku akan mendengar perkataanmu." 


"Aku tidak akan melakukan kesalahan itu lagi." Ucapnya menatap Arga penuh dengan rasa cinta dimatanya.


Arga terdiam menatap mata Zanna dengan penuh ketulusan.


Mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan waktu yang cukup lama sampai Arga tanpa sadar, tubuhnya ternyata perlahan mendekat pada Zanna.


Sampai bibir mereka hampir bersentuhan.


Zanna yang takut Arga mau mencium bibirnya menutup kedua matanya rapat-rapat dengan kedua tangannya berkuat di kursi mobil.


Bibir Arga semakin mendekat.


Tubuh Zanna tampak gemetar, 


Arga yang sadar, dia sudah terbawa nafsunya menarik tubuhnya mundur, mengusap wajahnya.


"Apa yang aku lakukan." Batinnya.


"Aku tidak boleh melakukan itu, sama saja aku menghianati Clara." Bantinya.


Arga maju memasangkan Zanna sabuk pengaman.


Zanna membuka kedua matanya perlahan-lahan melihat Arga yang memasangkan sabuk pengaman.


Arga menarik tubuhnya mundur.


"Lain kali, pasang sabuk pengaman dulu." Ucapnya mengalihkan, agar Zanna tidak berpikir dia akan menciumnya.


"Bagaimana aku bisa mau pasang sabuk pengaman, dari tadi Mas Arga marah-marah. Aku mana kepikiran."


Arga menolehkan wajahnya ke depan, merasa malu.


"Sudah jangan bahas itu lagi."


"Kita mau pergi ke rumah Ibumu atau tidak." 


"Iya-iya Mas, ayo kita pergi." 


Arga menyalakan mobilnya menginjak pedal gas, meninggalkan tempat itu.


Di tempat lain, tampak Clara yang berada di Mall dengan satu pengawal bersama yang memegang semua belanjaannya.


Pria itu adalah pengawal yang diutus Ayah Clara untuk menjaganya selama Ayah dan Ibu keluar Negeri.


Clara masuk ke dalam toko pakaian bersama pengawalnya.


Clara masuk di bagian tempat baju-baju tidur tergantung rapih dengan merek ternama.


Clara tertarik dengan baju tidur seksi berwarna merah gelap yang transparan.


Dia mengambil baju itu beserta pakaian dalam yang berwarna senada.


"Aku yakin Mas Arga pasti akan suka aku memakai baju ini." Ucapnya tersenyum membawa pakaian itu ke kasir.


Dia langsung membayar belanjanya itu dengan kartu kredit yang diberikan Arga.


"Aku akan menyambutmu dengan spesial Sayang." Bantinnya.


Clara berencana akan membuat Arga menghabiskan malam di apartemennya, karena tadi pagi Arga sudah menolak permintaannya.

__ADS_1


Dan malam ini, Arga harus memenuhi permintaannya itu.


Bersambung…..


__ADS_2