Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 6 Pernikahan Kedua


__ADS_3

Mobil Arga masuk di pekarangan rumahnya.


Arga turun dari mobilnya buru-buru masuk ke dalam rumah.


Saat Arga masuk dia tidak melihat siapapun di ruang tamu maupun di ruang tengah.


Arga pun buru-buru menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Di Depan pintu sudah Ada Niko yang berdiri depan pintu.


"Dimana Omah?" 


"Nyonya besar ada didalam Tuan."


Arga langsung masuk ke dalam, melihat Omah yang sedang duduk di samping ranjang sambil mengobrol dengan Zanna.


"Omah panggilkan dokter yah, Omah takut kamu kenapa-kenapa." Ucapnya sambil memegang kedua tangan Zanna.


"Tidak perlu Omah, aku baik-baik saja." Ucapnya sambil tersenyum. 


“Mas Arga sudah pulang.”  Ucap Zanna, beranjak berdiri mau menyambut kedatangan suaminya.


Zanna merai tangan Arga, mencium tangan Arga.


“Mas Arga mau aku ambilkan air minum?”


“Tidak perlu, kamu istirahat saja. Aku tidak mau membuatku tambah sakit.” Ucapnya lembut mengajak Zanna duduk di pinggir sofa sambil memegang kedua tangan Zanna.


“Andai saja Mas Arga bisa bersikap lembut seperti ini tanpa harus ada Omah.” Batinnya.


“Kamu kemana saja Arga, Kenapa Zanna bisa pingsan di perusahaan dan kamu malah tidak pulang bersamanya.”


“Aku tadi meeting Omah, jadi aku tidak tau kalau Zanna pingsan. Kami juga tidak sempat bertemu di perusahaan, iya kan Zanna.” Ucapnya sambil merangkul bahu Zanna,


Bukannya merangkul Zanna dengan lembut Arga malah mencengkram lengan Zanna dengan kasar.


Sampai Zanna menoleh ke arah Arga.


“Iyakan Zanna.” Ucapnya dengan tatapan tajam.


“Apa yang dikatakan Arga itu betul ?” Ucap Omah penasaran apa yang dikatakan cucunya itu yang sebenarnya.


“Iya Omah, aku tadi keperusahaan Mas Arga tapi aku tidak bertemu dengan mas Arga.”


“Lalu bagaimana ceritanya kamu bisa pingsan?”


“Sebaiknya masalahku dan mas Arga tidak perlu Omah tau.” Batinnya.


“Mungkin Zanna terlalu kecapeaan, beberapa hari ini Zanna terlalu sibuk mengurus rumah baru kami.” Ucapnya mengalihkan.


“Iya Omah, kamikan baru saja pindah disini satu bulan yang lalu jadi kami masih mengatur beberapa barang yang masih belum tertata rapi.”


“Ya Ampun kamu seharusnya tidak perlu melakukan itu, kamu bisa meminta Arga untuk mencari pembantu.”


“Tidak perlu Omah, aku sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.”


“Tidak kali ini kamu harus mendengarkan perkataan Omah.”


‘“Arga, Omah tidak mau tau kamu harus mencari pembantu. Jangan biarkan Zanna sampai seperti ini lagi.”


“Iya Omah, tenang saja aku tidak mungkin membiarkan istriku tersiksa.” Ucapnya tersenyum palsu sambil mengelus kepala Zanna.


"Kalau begitu Omah balik dulu, kamu jaga Zanna disini jangan tinggalkan Zanna sendirian."


"Iya Omah." Ucapnya tersenyum sambil merangkul bahu Zanna.


"Niko antarkan Omah ke bawah."


"Baik Tuan."


"Zanna Omah balik dulu."


"Iya Omah Hati-hati di jalan." Ucapnya sambil tersenyum.


Omah dan Niko meninggalkan Arga dan Zanna berduaan dikamar.


Saat Niko mengantar Nenek Arga kedepan, Nenek Arga tiba-tiba bertanya sesuatu padanya yang membuatnya sampai terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan itu.


“Apa Arga memperlakukan Zanna dengan baik dirumah ini?”


Niko diam, dia tidak bisa mengatakan apa yang dia lihat di rumah ini sejak Zanna menjadi istri Tuannya.


“Tuan Arga sangat menghormati Nona Zanna.”


“Tuan Arga juga selalu bersikap baik.” Sambungnya.


Niko mengatakan yang terbalik dari kenyataannya, dia tidak bisa memberitahu yang sebenarnya pada nenek Arga, karena dia pikir dia tidak punya hak untuk ikut campur dalam masalah rumah tangga Arga dan Zanna.


“Aku harap kamu mengatakan yang sebenarnya.” Ucapnya melangkah keluar dari rumah Arga.


Disisi lain 


Di dalam kamar setelah melihat Neneknya pergi dari jendela kamar.

__ADS_1


Arga tiba-tiba datang menarik tangan Zanna yang berbaring bersandar di sandaran kasur. Dia menarik Zanna dengan kasar sampai Zanna bangun berdiri dari kasur.


“Lepaskan mas, tanganku sakit.” Ucap Zanna menjerit kesakitan karena genggaman tangan Arga yang begitu keras.


“Apa yang kamu katakan pada Omah.” Ucapnya marah dengan tatapan yang tajam.


“Aku tidak mengatakan apa-apa pada Omah.” Ucapnya dengan raut wajah yang kesakitan.


“Jangan bohong kamu!” teriaknya marah.


“Aku tidak bohong Mas.” Ucapnya menahan sakit.


“Kamu sengajakan pingsan, biar aku pulang menemanimu di rumah!”


“Tidak Mas.” Ucapnya menjerit kesakitan.


“Bohong!” Ucapnya menampar wajah Zanna.


Plank !!!


Plank !!!


Plank !!!


Zanna menatap Arga dengan tatapan yang sedih, matanya sudah berkaca kaca.


“Aku tidak mau tau, kamu tidak boleh mengatakan pada Omah apa yang kamu lihat diperusahaan tadi siang. Sampai kamu memberitahu Omah, jangan salahkan aku kalau aku akan bersikap lebih kasar daripada ini.” Ucapnya dengan tatapan yang tajam.


Saat Arga mau pergi dari kamar, Zanna menghentikan Arga.


“Tunggu Mas, kamu mau ke mana.” Ucapnya menarik tangan Arga.


Sontak Arga menepis tangan Zanna.


“Bukan urusanmu!” Ucapnya marah keluar dari kamar.


Arga meninggalkan rumah pergi kembali ke Perusahaan.


Niko yang mendengar pertengkaran mereka tidak bisa berbuat apa-apa, selain mendengarkan Arga yang setiap harinya memarahi Zanna tanpa sebab.


Zanna kembali menangis meratapi nasibnya pernikahannya yang tidak seharmonis yang diperlihatkan pada Nenek Arga.


Ini adalah hal yang paling menyedihkan yang pernah dialami seumur hidupnya, diperlakukan buruk dengan suaminya sendiri. bukan cuman fisik tapi batin Zanna juga ikut tersiksa dengan perlakuan buruk yang dia terima dari Arga.


Di malam harinya.


Jam di ruangan Arga menunjukkan pukul 08:00 malam, tampak Arga yang sedang duduk kursi kerja sambil melihat beberapa berkas yang perlu dia tanda tangani.


Arga tampak terlihat terburu-buru masuk kedalam lift seperti ada sesuatu, ternyata Arga sudah berjanji pada Clara akan datang ke apartemennya tepat jam 8. Karena kesibukan di perusahaan Arga jadi lupa dengan janjinya.


Arga lebih dulu meninggalkan perusahaannya dari pada karyawannya, Arga langsung buru-buru pergi ke mobilnya.


Mobil Arga keluar dari halaman parkir perusahaan melaju dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di depan gedung apartemen Clara, Arga buru-buru turun dari mobilnya  sambil membawa buket bunga mawar besar. Di tengah jalan Arga sempat singgah membelikan buket bunga untuk Clara.


Arga masuk ke dalam gedung apartemen dengan raut wajah yang bahagia akan bertemu dengan Clara.


Arga masuk ke dalam lift.


Sesampainya di lantai 20, pintu lift terbuka. Arga melangkah keluar dari lift menuju ke kamar apartemen Clara.


Saat sampai di depan pintu kamar apartemen Clara, Arga mengeluarkan kunci apartemen.  


Dia membuka pintu apartemen, bergegas masuk mencari Clara di ruang tengah dimana Clara bisanya duduk nonton TV.


Tapi saat dia pergi kesana Arga tidak melihat Clara disana.


Dia langsung pergi ke kamar Clara, saat dia membuka pintu kamar Clara. Arga tiba-tiba menjatuhkan buket bunga yang dia pegang ke lantai.


“Apa yang kau lakukan Clara.” Ucapnya berlari masuk kedalam kamar.


Arga terkejut melihat Clara yang berdiri didepan kasur sambill memegang pisau dapur mau menusuk perutnya.


Arga berlari mengambil pisau yang dipegang Clara.


“Berikan pisau itu.” Ucapnya merampas pisaunya.


Arga melempar pisau itu ke lantai.


“Ada apa denganmu, kenapa kamu mau melukai dirimu.” Ucapanya marah.


“Aku hamil!” Ucapnya dengan nada yang serius sambil memegang perutnya .


Arga sejenak terdiam.


“Hamil?” Ucapnya kaget.


“Iya, aku hamil anakmu.”


Arga yang kaget duduk pinggir kasur sambil mengusap wajahnya.


“Kenapa, kau diam?”

__ADS_1


“Ini yang aku takutkan, kamu pasti tidak mau bertanggung jawabkan. Mana janji yang kamu katakan padaku saat kamu melamarku, kau bilang kamu akan menikahiku!”


“Jawab Arga” teriaknya marah.


“Kalau kamu tidak mau menikahiku, lebih baik aku dan bayiku pergi dari dunia ini.” Ucapnya berbalik mau mengambil pisau yang dibuang Arga di lantai.


Arga menarik tangan Clara.


“Aku akan menikahimu malam ini juga!”


“Aku tidak mau sampai kehilangan kamu dan bayi kita. Aku tidak sanggup harus kehilangan kalian berdua.” Ucapnya berdiri memeluk Clara.


“Lalu bagaimana dengan istri dan keluargamu?”


“Kamu tidak perlu pikirkan mereka, walaupun Zanna tidak setuju dengan pernikahan kita. Aku tetapkan akan menikahimu tanpa seizinnya.”


🌻🌻🌻


Keesokan paginya.


Setiap matahari terbit adalah undangan bagi kita untuk bangkit, ini yang Zanna rasakan.


Walaupun kemarin Zanna menghadapi masalah yang berat, hari ini Zanna bangkit, dia tidak mau sampai terlarut dalam kesedihan.


Seperti biasa setelah Zanna bangun dia akan membereskan rumah dan menyiapkan sarapan pagi untuk Arga.


Walaupun Arga tidak dirumah dia tetap menyiapkan sarapan, setelah semua makanan siap di meja makan.


Zanna beralih pindah ke ruang tamu menunggu kepulangan Arga yang tidak pulang kemarin malam.


"Mas Arga kemana yah kemarin malam." Ucapannya khawatir.


"Apa Mas Arga sedang bersama wanita yang kemarin." Batinnya cemas.


"Aku tidak boleh berpikir seperti itu, mungkin Mas Arga lembur di perusahaan." Ucapnya mencoba menepis pikiran negatifnya.


Dari luar dengar suara mobil Arga yang baru saja tiba.


Wajah Zanna terlihat sumberingan mendengar Arga sudah pulang.


Dia tidak sabar menyambut kepulangan suaminya itu.


Zanna berdiri dari sofa mau menyambut kedatangan Arga di depan pintu.


Tapi tiba-tiba Arga sudah muncul di depan pintu.


Zanna datang menghampiri Arga dengan senyuman yang manis.


"Mas Arga sudah pulang." Ucapnya tersenyum.


"Mas lembur lagi?" Sambungnya.


"Minggir kamu aku mau masuk!" Ucapnya datar.


Tiba-tiba Clara muncul dari samping, Arga menggandeng tangan Clara masuk ke dalam rumah mereka.


Zanna berdiri dengan ekspresi wajah terkejut tidak percaya Arga membawa wanita lain pulang ke rumah mereka.


"Apa ini mas, kamu membawa wanita lain dirumah kita!" Ucapnya dengan nada yang serius.


Arga menghentikan langkahnya berbalik.


"Kamu tidak punya hak untukku melarangku!"


"Aku punya hak mas, aku ini istrimu. Kamu tidak boleh membawa wanita ini masuk kerumah kita!" Ucapnya tegas.


Zanna yang marah datang menarik tangan Clara.


"Pergi kamu dari sini!"


Clara melepaskan tangan Zanna dari tangannya.


"Aku tidak akan pergi dari sini, karena aku juga sama sepertimu."


"Apa maksudnya sama sepertiku." Ucapnya bingung.


"Aku juga sama seperti dirimu, istri Mas Arga!"


Zanna melongo dengan ekspresi wajah terkejut.


"Mas apa yang dikatakan wanita ini, kapan kalian menikah ?" Ucapnya kebingungan meminta penjelasan pada Arga.


"Kemarin malam!" Ucapnya datar.


"Ini tidak mungkin, kalian pasti bohongkan!"


Clara mengeluarkan buku nikah mereka dari tasnya melemparkannya ke tubuh Zanna.


"Aku dan Mas Arga sudah resmi menikah dan saat ini aku sedang mengandung anaknya!"


"Apa, hamil!" 


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2