Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 31 Pulang dari Rumah Sakit


__ADS_3

Pagi hari ….


Waktu menunjukkan pukul 8:00 pagi, sinar  matahari bersinar terang menyinari bumi.


Semua orang sudah melakukan rutinitas mereka masing-masing.


Sedangkan Zanna masih di rumah sakit belum bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.


Zanna duduk bersilah di tempat tidurnya menunggu dokter yang akan datang memeriksa kondisi kesehatannya.


Sedangkan Niko duduk di sofa menemani Zanna menunggu.


Beberapa menit setelah itu, Dokter bersama suster datang ke kamarnya.


"Selamat pagi Nona Zanna." Ucap Dokter itu tersenyum ramah.


"Pagi Dok."


Zanna membaringkan tubuhnya bersiap melakukan pemeriksaan lanjutan.


"Bagaimana perasaan Nona sekarang?" 


"Aku rasa, aku sudah baikkan dok, tubuhku sepertinya sudah sehat kembali."


"Aku ingin pulang hari ini, bisakan Dok?"


"Kalau dari hasil Laporan lab tidak ada luka serius dan semua hasil kesehatan Nona normal. Kalau dilihat dari itu Nona sudah bisa pulang hari ini."


"Tapi sebelum itu kami akan memeriksa perkembangan kesehatan Nona lebih dulu, setelah itu kami akan memutuskannya."


"Baik Dok." Ucapnya tersenyum bahagia karena sebentar lagi dia akan segerah pulang.


Setelah pemeriksaan selesai, akhirnya Dokter memutuskan kalau Zanna hari ini juga boleh pulang.


Dengan catatan Zanna harus selesaikan semua biaya administrasi.


"Nanti Nona tinggal mengatakan pada Suami anda untuk mengurusnya segera."


"Baik Dok, terima kasih."


Suster melepaskan selang infus di tangan Zanna. Setelah itu Dokter dan suster keluar dari kamar.


Zanna tampak bingung karena dia tidak memegang uang sepeser pun di badannya dan dia tidak bawa dompet.


Meminta uang pada suaminya sekarang juga tidak mungkin, karena nomor Arga tidak bisa dihubungi.


Niko tiba-tiba mau pergi keluar, tapi Zanna menghentikannya.


"Kamu mau ke mana?" 


"Aku mau pergi mengurus biaya administrasinya, Nona tenang saja kita akan pulang hari ini juga." 


"Kamu tidak pergi melakukan itu, masih ada Mas Arga."

__ADS_1


"Apa Nona yakin Tuan Arga akan datang kesini?" 


Zanna seketika terdiam menundukkan kepalanya.


"Aku sudah tau jawabannya!" Ucapnya pergi.


Dengan Zanna tidak berkata apapun Niko memutuskan akan menanggung biaya administrasi rumah sakit Zanna, mereka tidak bisa menunggu Arga yang tidak jelas kapan akan datang.


Disisi lain 


Rumah sakit yang berbeda, Arga duduk tertidur menundukkan kepalanya nya di kasur Clara sambil menggenggam tangan Clara.


Semalaman Arga terus menggenggam tangan Clara, dia tidak mau melepaskannya sampai dia tertidur pun dia masih memegang tangan Clara.


Clara membuka kedua matanya, melihat sekelilingnya.


Melihat tangannya yang diinfus, dia tau sekarang dia ada rumah sakit dan berarti Arga benar-benar datang menyelamatkannya dari kematian.


Dia menolehkan wajahnya ke samping, melihat Arga yang tidur sambil memegang tangannya.


Betapa bahagia dirinya melihat Arga berada di sampingnya menunggunya semalaman.


Berarti rencana yang dijalankannya berjalan dengan mulus untuk membuat Arga berada disisinya, walaupun dia harus melakukan sedikit tindakan ekstrim untuk melukai dirinya.


Tapi dengan begitu dia bisa membuat Arga menjuah dari Zanna untuk sementara waktu.


Melukai dirinya tidak seberapa dengan sakit yang akan Zanna dapatkan melihat Arga yang lebih peduli padanya.


Dia hanya ingin membuat Zanna sakit hati, sampai dia tidak bisa lagi menangis dan bermohon pada Arga untuk diceraikan.


 


Dendam Clara semakin menumpuk setelah kandungannya yang keguguran, dia masih menyalahkan Zanna atas peristiwa itu.


Padahal jelas-jelas semua itu adalah kesalahannya.


Dia beranggapan kalau dia tidak mencoba merebut Arga darinya, dia tidak akan bertindak seperti itu. Tapi Zanna malah ingin merebutnya.


Itu semua adalah pikiran bodoh yang pikirkan Clara, tidak mau sampai Arga membagi cintanya pada wanita lain.


Apapun caranya, Clara akan memastikan Arga akan tetap mencintai satu wanita, yaitu dirinya bukan Zanna.


Clara menutup matanya.


Tiba-tiba….


"Tunggu Ibu nak…" teriaknya dengan raut wajah yang berpura-pura sedih.


"Jangan tinggal Ibu…." Teriaknya histeris.


Sontak Arga bangun yang mendengar teriakan Clara yang begitu keras.


Arga tampak sangat panik melihat Clara yang tidur berteriak-teriak memanggil anak mereka yang sudah tidak ada.

__ADS_1


Arga berusaha membangun Clara dari mimpi buruknya.


"Sayang, bangun…" Ucapnya panik.


"Aku ada untukmu disini, jangan sedih!"


Mendengar ucapan Arga, di dalam hatinya dia sangat senang.


Dia melanjutkan lagi sandiwara palsu untuk semakin membuat Arga kasihan padanya.


"Ibu akan ikut denganmu nak, tidak ada lagi yang menyayangi ibu. Ayahmu sudah tidak peduli dengan Ibumu." Ucapnya menangis.


"Sayang bangun, aku tidak mau kamu pergi!" Ucapnya menggoyang-goyangkan tubuh Clara.


Setelah beberapa kali Arga membangun Clara, akhirya Clara menghentikan sandiwaranya dan bangun.


Clara membuka kedua matanya berpura-pura seperti orang baru bangun dan kebingungan dimana dia sekarang.


"Arga? Aku dimana." Ucapnya kebingungan sambil memegang kepalanya dengan tangan kirinya.


"Kamu di rumah sakit sayang." Ucapnya bahagia melihat Clara yang sudah sadar.


Clara beranjak bangun duduk ditempat tidur.


"Aku tidak mati yah!" Ucapnya sambil melihat lukanya.


Arga tiba-tiba memeluk Clara dengan erat.


"Jangan lakukan ini lagi, aku tidak mau kamu menyakiti dirimu."


Clara tersenyum.


"Apa yang harus kulakukan, aku sudah kehilangan bayiku dan kamu sudah meninggalkanku. Aku sudah tidak punya harapan lagi untuk hidup, lebih baik aku menyusulnya." Ucapnya dengan nada yang pura-pura sedih.


Arga seketika melepaskan pelukannya.


Menghentikan Clara untuk berbicara lagi dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Clara sambil menatap kedua mata Clara dengan tatapan yang dalam penuh dengan makna.


"Jangan berbicara seperti itu, siapa bilang aku tidak peduli denganmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, jangan katakan itu lagi."


"Aku pikir kamu sudah tidak peduli denganku karena kamu tidak mencariku. Aku sempat berpikir kamu mungkin akan menceraikanku setelah menjemput istri pertama mu." 


"Aku tidak akan menceraikanmu sampai kapanpun." Ucapnya memeluk Clara.


"Maaf aku, aku tidak akan meninggalkanmu lagi."


"Aku akan disini bersamamu." Sambungnya.


"Aku khawatir Omah akan memisahkan kita berdua." Ucapnya menampakan wajah sedihnya.


"Kamu tidak perlu khawatir, biar aku yang mengurus Omah."


"Baiklah sayang aku percaya padamu, kamu tidak akan membuatku kecewakan." Ucapnya memeluk Arga dengan erat.

__ADS_1


Dengan begini dia sudah berhasil membuat Arga berpihak padanya lagi.


Bersambung…


__ADS_2