
Semua orang menatap Sherlyn dan Lendra dengan tatapan tidak percaya.
Lendra dan Sherlyn yang dikenal suka saling menjatuhkan sama lain, sekarang berpacaran. Itu seperti sebuah keajaiban bagi mereka.
Neta langsung berlari menghampiri Sherlyn dibangku nya.
"Kamu serius? Sejak kapan kalian jadian."
Tiba-tiba teman sekaligus sahabat Lendara datang dari belakang merangkul Neta.
"Sejak tadi pagi. Bagaimana kalau kita juga jadian, pasti seru. Nanti kita bisa couple date." Ucapnya tersenyum lebar menatap Neta.
Sontak Neta melepaskan tangan Bian dari lehernya.
"Jangan mimpi, aku tidak akan mau jadian sama orang kaya elu." Ucapnya marah.
"Aku ganteng loh, kok kamu enggak mau sih."
"Karena itu aku tidak mau, kamu sok kegantengan jadi orang." Ucapnya pergi.
Brunk....
Sherlyn yang pusing dengan kebisingan mereka, memukul mejanya dengan keras sampai membuat teman-temanya kaget.
"Kalian bisa enggak tidak ribut disini. Kepalaku sakit mendengar suara kalian." Ucapnya marah.
Semua teman-teman Sherlyn sontak diam, kaget Sherlyn akan bereaksi seperti itu, padahal maksud mereka baik tidak mau temannya jatuh ke orang yang salah.
"Santai dong, enggak usah kaya gitu." Ucap Della kesal melihat Sherlyn yang marah-marah.
Jessi menenangkan Della yang marah.
"Sherlyn pasti sedang ada masalah, dia tidak akan bersikap seperti itu pada kita." Ucapnya mencoba berpikir positif.
Tiba-tiba Ibu guru yang mengajar pagi itu sudah berdiri di depan pintu, membuat para murid dan teman-teman Sherlyn langsung mencari tempat duduk yang kosong membiarkan Sherlyn dan Lendra duduk bersama.
Della terus melihat kearah Sherlyn dan Lendra, dia tampak tidak menyukai kedekatan mereka.
"Selamat pagi anak-anak!" Ucap Ibu itu sambil meletakkan bukunya diatas meja guru.
"Pagi Bu…." Ucap serentak seluruh siswa.
"Hari ini kita mulai pelajaran Sejarah, buka buku kalian halaman 127 samapai 135."
Semua orang langsung mengambil buku cetak mereka dari dalam tas terkecuali Lendra, dia hanya duduk diam memandangi Sherlyn yang sibuk membaca.
Tiba-tiba Ibu guru melihat Lendra tidak membaca seperti murid lain datang memukul kepala Lendra dengan buku.
Bang….
"Ibu suruh kamu baca buku, bukan ibu suruh kamu lihatin Sherlyn." Ucapnya marah berdiri di samping kursi nya.
"Aku tidak bawa buku bu, daripada melamun, mendingan juga liatin Sherlyn kan." Ucapnya dengan santai.
"Kamu sudah tidak bawa buku, masih bisa bicara dengan santai."
Amarah Ibu gurunya mulai melonjak tinggi dengan sikap Lendra yang tidak menghargainya sebagai orang guru.
"Terus gimana dong bu?"
__ADS_1
"Sepertinya kamu memang tidak niat masuk ke dalam kelas Ibu. Kamu keluar sekarang juga!" Teriaknya marah sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
"Ibu bilang keluar sekarang juga!" Teriaknya.
"Okey, okey," Ucapnya berdiri dari kursinya keluar.
Lendra meninggalkan kelas dengan senyuman lembar sambil melambaikan tanganya ke teman-teman kelasnya tanpa ada rasa bersalah sama sekali didalam dirinya.
Sherlyn tampak terlihat lebih tenang saat Lendra tidak ada disampingnya.
"Lanjutkan bacaan kalian, 5 menit lagi ibu akan memberikan pertanyaan."
Ibu guru kembali memperingatkan pada semua muridnya untuk fokus dengan bacaannya mereka.
Waktu sudah berjalan 2 menit masih ada 3 menit lagi untuk mereka mengingat semua isi halaman itu.
Sherlyn yang fokus menghafalkan kalimat-kalimat penting di halaman tersebut, tiba-tiba hpnya bergetar.
Sebuah pesan Whatsapp masuk.
Sherlyn tampak tidak mempedulikan pesan itu sampai ada sesuatu gambar yang muncul setelah pesan itu.
Wajahnya tiba-tiba terkejut mengambil ponselnya yang ada di atas meja, melihat gambar apa itu.
Setelah melihat itu, Sherlyn langsung berdiri dari kursinya keluar dari kelas tanpa pamit. Dia keluar dengan terburu-buru.
Membuat keempat temannya kebingungan melihat sikap Sherlyn yang aneh.
Teman-teman Sherlyn saling melirik satu sama lain seperti memberikan isyarat kalau mereka berempat penasaran apa yang membuat Sherlyn mendadak meninggalkan kelas.
Di dalam kamar mandi wanita.…
Tiba-tiba Sherlyn muncul dengan raut wajahnya tidak menyenangkan datang menghampiri Lendra sambil menunjukan layar hpnya ke depan wajah Lendra.
"Apa maksudmu mengirim ini padaku!" Ucapnya marah dengan pupil matanya yang membesar.
"Kamu terlihat sangat cantik di foto itu, tadi aku mau mengirimnya ke teman-teman kelas agar mereka juga bisa menikmatinya." Ucapnya dengan senyuman kecil.
"Apa maksudmu!" Ucapnya menarik baju Lendra.
"Aku akan mengirimnya jika kamu tidak datang kesini, tapi karena kamu sudah aku tidak akan mengirimnya."
"Fotomu aman bersamaku." Ucapnya tersenyum lebar menatap Sherlyn dengan tatapan tajam.
"Bajingan."
Sherlyn berusaha mengambil hp Lendra, tapi Lendra tidak membiarkan Sherlyn mengambilnya.
"Berikan!" Teriak Sherlyn.
Lendra menaikan tangan kanannya ke atas setinggi mungkin sampai Sherlyn tidak bisa menggapainya.
Sherlyn terus berusaha untuk mengambilnya, tapi itu sia-sia saja, karena tubuh Lendra lebih tinggi darinya membuatnya susah meraih hp itu.
Lendra tiba-tiba merangkul pinggang Sherlyn masuk ke dalam Toilet, menyadarkan tubuh Sherlyn ke dinding.
Sherlyn sontak mendorong tubuh Lendra karena Lendra hampir menciumnya.
"Kamu mau ngapain?"
__ADS_1
Sherlyn tampak ketakutan melihat tatapan Lendra yang tajam seperti ingin menerkamnya.
"Menurut kamu?" Ucapnya perlahan mendekati Sherlyn.
Sebelum Lendra semakin dekat dia langsung menahan tubuh Lendra dengan kedua tangannya.
"Jangan macam-macam ini sekolah, aku bisa teriak dan orang-orang akan datang memukulimu." Ucapnya dengan nada suara yang gemetar.
Bukannya menghentikan langkahnya, dia semakin mendekati Sherly. Berbisik dengang kata-kata yang menjijikan sampai membuat Sherlyn murka dan menamparnya.
Plank…
"Kamu sudah gila, nggak bisa !" Ucapnya dengan raut wajah yang marah.
"Kenapa? Kita sudah pernah melakukannya!"
"Kalau kamu tidak mau melakukanya, foto ini akan aku sebar ke seluruh anak sekolah sekarang juga." Sambungnya.
Lendra tidak terimah Sherlyn yang menolak permintaanya untuk melakukan hal yang sama seperti malam itu, mengancam akan menyebarkan foto-foto bugil nya.
"Enggak!" Ucapnya dengan spontan.
"Okey, berarti kamu pilih aku sebar foto ini."
Sherlyn melihat Lendra yang benar-benar mau mengirim foto itu ke seluruh anak sekolah.
Merubah penolakan dengan setuju melakukan apa yang diminta Lendra.
Dia pikir Lendra hanya ingin menggertaknya tapi ternyata tidak.
"Okey aku setuju!" Ucapnya menundukkan kepalanya tidak ingin melihat nya.
"Pless jangan kirim foto itu." Ucapnya memohon.
Lendra menarik senyuman di ujung bibirnya sambil memasukkan hpnya ke dalam kantong celananya.
Dia perlahan-lahan maju mendekati Sherlyn.
Lendra mengangkat dagu, membuat Sherlyn melihat kedua matanya yang menatap Sherlyn seperti budak.
"Selama kamu nurut, tidak ada satupun fotomu yang akan keluar dari hpku!"
Lendra menurunkan bibirnya mencium bibir Sherlyn dengan lembut.
"Kamu sekarang milikku!" Ucapnya berbisik di telinga Sherlyn.
Bibir Lendra perlahan-lahan turun ke leher Sherlyn.
Sherlyn menutup kedua matanya dengan kedua tangannya berkuat mengepal tangannya menahan amarahnya ingin mendorong Lendra menjauh dari tubuhnya.
Kedua tangan lendra memulai membuka kancing baju Sherlyn satu persatu sambil mencium bibir Sherlyn dengan ganas.
Air mata Sherlyn berjatuhan membasahi pipinya tidak kuat menahan semuanya.
Sekarang yang bisa dia lakukan adalah menangis dan menangis dengan segala perbuatan Lendra yang menguasai tubuhnya.
Dia tidak tau harus berbuat apa sekarang….
Untung saja saat mereka melakukan itu tidak ada seorang pun yang masuk kedalam kamar mandi dan Lendra juga menyuruh Sherlyn untuk menggigit sapu tangan diberikannya agar suara d*sahan Sherlyn tidak terdengar dari luar.
__ADS_1
Bersambung…..