Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 80


__ADS_3

Lamunan Zanna yang memikirkan Tio dipecahkan dengan suara pelayan yang datang membawa makan untuknya.


Sebuah sup berwarna putih dan satu gelas air mineral diletakan diatas meja.


Zanna melirik ke troli yang dibawa pelayan itu, dimana banyak makan  jauh lebih kelihatan enak. Pelayan itu membawa makan itu ke meja Arga Clara.


Zanna menoleh, tidak ingin membuatnya sedih. Dengan sup ini sudah cukup baginya.


Dengan senyuman Zanna menyendok satu suap ke mulutnya.


Tiba-tiba Zanna merasakan sup ini, seperti ada rasa udang yang pekat.


Dia langsung mengambil air minumnya, menghabiskan dengan sekali teguk.


Ternyata Clara sengaja memesan Sup itu, karena tau sup itu menggunakan bahan dasar udang sebagai bahan utamanya.


Karena dia tau Zanna Alergi dengan udang, dia sengaja memesannya untuk mengerjai nya


Clara yang melihat gerak-gerik Zanna yang aneh tersenyum licik.


Walaupun hanya satu sendok, tapi tubuhnya mulai beraksi, rasa gatal hampir menguasai dirinya.


"Aku tidak bisa bertahan, aku harus pulang sekarang juga." Ucapnya berdiri kursinya pergi meninggalkan mejanya, ia tidak memperdulikan Arga dan Clara lagi.


Arga yang melihat Zanna pergi, ikut berdiri. Tapi Clara menarik tangan Arga menghentikan langkah suaminya itu.


"Sayang ada apa, kamu mau kemana?"


"Aku mau mengejar Zanna, kenapa dia terlihat terburu-buru pergi."


"Tidak perlu mengejarnya, makanan kita sudah sampai. Mungkin dia tidak kuat melihat kemesraan kita jadi dia pulang duluan."

__ADS_1


"Ayok duduk sayang." Sambungnya meminta Arga menuruti perkataannya.


Arga sebenarnya ingin pergi mengejar Zanna tapi dia tidak bisa menolak permintaan Clara jadi dia terpaksa kembali duduk walaupun sebenarnya pikiran bertanya-tanya ada apa dengan Zanna.


Di luar hotel Zanna berjalan di pinggir jalan sambil menggaruk-garuk tangannya merah.


Reaksi gatalnya luar biasa, dia benar-benar tidak bisa menahannya lagi.


Kepalanya tidak berhenti menoleh mencari taksi ada di sekitar sana sambil menggaruk-garuk tangannya.


Beberapa tetesan air jatuh di pipinya,  Zanna sontak mengangkat wajahnya melihat ke atas langit. Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan atas wajahnya.


"Astaga hujan..."


Tiba-tiba Zanna jatuh dengan kaget,  seorang pria jaket tebal menjambret tasnya.


Zanna bangkit berlari mengejar pria itu sambil berteriak "Kembalikan tasku." Teriaknya.


Tapi Zanna terus berlari mengejarnya dibawah rintik-rintik hujan.


Zanna harus mendapatkan tasnya karena semua barang-barang identitas dan uangnya ada di dalam sana. Dia bisa kembali ke hotel kalau tas itu hilang.


"Kembalikan tasku." Teriaknya, sambil mengejar pria itu yang berlari begitu kencang.


Pria itu karena takut tertangkap dengan Zanna berlari ke jalan besar untuk menghindarinya dimana kendaraan melaju dengan cepat.


Suara klakson mobil saling bersahut-sahutan di tengah jalan akibat pria itu tiba-tiba berlari ditengah jalan.


Zanna tidak mau kehilangan jejak pria itu ikut berlari ke jalan tidak memperdulikan suara klakson mobil.


Bib....

__ADS_1


Bib.....


Bib....


Zanna terus berlari sampai ada satu mobil putih terus melaju dengan cepat ke arahnya.


Zanna melihat mobil itu langsung berhenti,  dia melangkah mundur dari sana, dan untung saja Zanna tidak tertabrak.


Dia menarik nafas panjang, dengan wajah masih syok hampir saja ditabrak mobil kalau tidak menghindar dia sudah pasti akan ditabrak.


"Hampir saja." Ucapnya dengan nafas yang tidak beraturan memegang dadanya berdebar.


Brungk.....


Tubuh Zanna terlempar ke jalan, semua lampu mobil mengarah padanya yang terkapar di aspal dengan kepala yang meneteskan darah begitu banyak.


Saat Zanna menghindari dari mobil ternyata ada mobil lain melaju kencang, dan dia tidak menyadari kedatangan mobil itu.


Matanya masih terjaga melihat ke atas langit, tapi tidak lama matanya perlahan menutup dengan tetesan hujan yang semakin deras membasahi wajah dan tubuhnya.


Darahnya merah pekat bercampuran dengan air hujanya mengalir di jalan seperti aliran sungai deras.


Semua orang-orang yang ada disana berlari berkerumun membentuk lingkaran melihat Zanna yang terbaring tak berdaya dengan luka disekujur tubuhnya.


Disisi lain Arga yang berada di restoran memandang ke kaca besar melihat hujan turun deras dengan para pejalan kaki yang lalu lalang mengenakan payung.


Dia jadi teringat dengan Zanna yang pergi tiba-tiba.


"Apa dia sudah sampai di hotel." Batinnya merasa cemas.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2