Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 84


__ADS_3

Hujan turun begitu deras, terlihat orang-orang yang lalu-lalang memakai payung melintas di depan hotel, setelah berkeliling mencari Zanna, Arga kembali ke hotel dengan kondisi basah kuyup memasuki hotel.


"Semoga saja Zanna sudah ada di hotel." Ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam lobby hotel.


Seorang pria duduk di kursi menunggu menatap tajam ke arah Arga.


Pria yang dari tadi menunggu Arga itu, langsung berdiri saat melihat pria brengsek itu masuk.


Wajah Arga tercengang melihat adiknya yang berjalan menghampiri dengan kedua tangan yang dikepal.


"Kamu ada disini." Ucapnya bingung.


"Bukanya…." 


Bung…..


Belum selesai dia bicara, Tio langsung menghantam wajah Arga, menarik kerah baju kakak dengan kasar menatapnya penuh dengan amarah.


"Suami macam apa kamu, kalau kamu tidak bisa membuat Zanna bahagia setidaknya jangan membuat menderita!" Teriaknya marah memukul hidung Arga sampai membuat Arga jatuh ke lantai.


Bung...


Tio yang sudah kehilangan akal sehatnya, menghajar Arga sampai wajah Arga babak belur, para security yang melihat pertengkaran mereka berlari masuk menarik Tio dari atas tubuh Arga.


"Bajingan kamu!" Teriak memberontak, berusaha melepaskan kedua security yang memegang tangannya.


Arga bangkit mengusap hidungnya berdarah.


"Ada apa denganmu? Apa kau sudah kehilangan otakmu karena Zanna memilih untuk bersamaku." 


"Iyaa, aku kehilangan Otakku karena Zanna koma, karena pria brengsek sepertimu! Kalau kamu tidak bisa menjaganya dengan baik. Serahkan dia padaku. Aku akan menjaganya jauh lebih baik dari mu." Teriaknya melotot dengan penuh amarah.


"Apa maksudmu? Apa yang terjadi padanya."


"Kamu masih peduli dengannya?"


"Ada apa dengannya?" 


"Lepaskan tanganku, aku tidak akan berbuat keributan." Ucap Tio melepaskan kedua tangan security itu.


Tio memperbaiki Jasnya pergi melewati Arga begitu saja.


Arga yang tidak mengerti dengan perkataan adiknya itu, menghentikan langkah Tio.


"Dimana Zanna, apa yang terjadi padanya."


Tio menoleh dengan tatap yang tajam. "Kamu tidak pantas tau dimana Zanna, dia lebih baik jauh darimu." 

__ADS_1


"Aku suaminya! Kamu tidak pantas melarangku bertemu dengannya."


Mendengar perkataan Arga itu membuat kepala Tio mendidih.


"Suami katamu? Apa kau pernah memperlakukan Zanna seperti istrimu. HA" teriaknya marah.


"Kamu menganggapnya tidak lebih dari sampah dimatamu!"


"Jangan pernah berpikir kamu suaminya!"


"Satu hal yang harus kamu ingat, membuat Zanna menderita, maka aku yang membalas semua rasa sakitnya!" Tegasnya memperingati Arga.


Tio melangkahkan kakinya meninggalkan hotel itu dengan semua kemarahannya pada Arga.


Arga tidak bergeming dari tempatnya, matanya fokus menatap Tio pergi.


"Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" Arga mengkhawatirkan keadaan Zanna diluar sana.


Clara duduk sofa dengan wajah suntuk melipat kedua tangannya di bawah dadanya menunggu kedatangan Arga.


Arga masuk kedalam kamar dengan kondisi wajah babak belur dan basah kuyup. Melihat suaminya, Clara yang tadinya ingin memarahinya langsung ibah


"Sayang, apa yang terjadi padamu? Kenapa wajahmu seperti ini."


Clara berdiri di depan Arga, mengusap wajah suaminya yang babak belur.


"Ada apa dengan Arga, kenapa dia tiba-tiba dingin padaku?"


.


.


.


.


.


Langit cerah di pagi hari dengan hembusan angin pagi yang begitu sejuk. Tampak di sebuah rumah mewah bertingkat dua, bergaya Eropa dengan tiang-tiang besar yang ada disekeliling dan halaman hijau yang luas membentang mengelilingi rumah mewah berwarna putih tulang itu. 


Sebuah mobil hitam merek mercedes benz s-class maybach s 560 terparkir di halaman depan.


Seorang pria mengenakan setelan Jas biru tua dengan dalam kemeja warna putih keluar dari rumah mewah itu bersama seorang pria yang membawa tas dan beberapa dokumen di tangannya.


Pria yang keluar dari rumah itu adalah Tio, sejak kejadian 6 bulan yang lalu. Dia kembali ke Amerika dan menetap di rumah mewahnya yang sudah ditinggalkannya.


"Hari ini kita punya jadwal apa Luke?" Tanya pada sekretarisnya yang berjalan di sampingnya.

__ADS_1


"Hari ini kita ada pertemuan dengan Tuan Beni pukul 10 pagi."


Seorang supir yang berdiri di depan mobil membukakan pintu belakang untuk Tio


Tio pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam, tiba-tiba.


"Tunggu…."


Suara itu membuatnya menghentikan langkahnya, dia berbalik ke belakang.


Seorang wanita yang masih memakai baju tidur berlari ke arahnya, wanita itu memeluknya begitu erat.


"Kenapa kamu tidak membangunkanku." Gerutu wanita itu masih memeluk Tio.


"Aku tak tega membangunkanmu."


"Kamu ingin pergi sebelum menciumku?" Ucap wanita itu menunjukkan wajah sedihnya dengan mata yang berbinar-binar.


Tio tersenyum melihat wajah imutnya, dia mengecup kening wanita itu dengan lembut sebelum wanita itu marah.


"Aku sudah menciummu sebelum berangkat." Ucap tersenyum kecil.


"Itukan saat aku tidur." Upanya mengembangkan senyuman di pipinya.


"Dasar Manja." Ucap Tio tersenyum mengusap kepala wanita itu.


"Ayolah, kalian melakukan ini setiap hari, bisa kalian berhenti sekali saja. Jiwa kesendirianku meronta-ronta." Ucap Luke mengeluh.


"Makanya kamu cepat cari istri biar hari harimu yang suram itu menghilang." Wanita itu masih memeluk Tio.


"Aku tidak pandai mencari wanita, bagaimana kalau Nona Zanna yang mencarikannya untukku?"


"Kamu pikir, istriku biro jodoh. Cari sendiri!" 


"Iyaaa Tuan, maaf."


"Sudahlah, jangan marah-marah. Kamu mau ke kantor kan."


"Iyaa sayang, kamu dirumah baik-baik yah. Jangan kerja yang berat-berat. Suruh saja pelayan."


"Siap Boss." Zanna mengangkat tangannya jejer dengan kepala, hormat sebagai tanda perintah siap dijalankan.


Sekali lagi Tio mengusap kepala Zanna dengan senyuman sebelum pergi.


Zanna berdiri di depan halaman melambaikan tangan ke mobil Tio yang pergi.


Bersambung …..

__ADS_1


__ADS_2