
Di rumah Arga
Jam dinding di ruangan tengah menunjukkan pukul 04:00.
Tampak Zanna yang duduk di sofa mengenakan dres lebar bermotif kembang-kembang berwarna putih dengan model rambut kuncir kuda memperlihatkan lekukan lehernya yang cantik.
Zanna sudah siap pergi ke rumah ibunya, tinggal menunggu Arga datang.
Dia menunggu Arga hampir 1 jam, tapi Arga belum juga kunjung datang.
"Apa Mas Arga tidak jadi mengantarku?" Ucapnya, ada rasa kekecewaan di dalam hatinya.
"Mungkin Mas Arga sedang sibuk di perusahaan jadi dia tidak bisa datang."
Zanna berusaha berpikir positif.
"Apa aku minta Niko saja yang mengantarku."
Zanna beranjak berdiri dari kursinya keluar dari rumah pergi ke pos menemui Niko.
Niko yang duduk di pos sembari minum kopi buatan bi Asri, tiba-tiba tersedak.
Uhucuk..…
Niko tersendak kopinya, karena melihat Zanna yang datang dari kejauhan.
Kecantikannya yang terpancar mempesona membuat Niko tidak bisa mengedipkan matanya.
Dia terus menatap Zanna, hari ini terlihat sangat cantik.
Niko melihat Zanna seperti anak gadis-gadis manis yang masih sekolah di bangku SMA.
"Niko?" Ucapnya berdiri di depan pos.
Niko tampak melamun tidak sadar kalau Zanna memanggilnya.
"Niko…" Ucapnya melambaikan tangan, tapi Niko tetap tidak bereaksi sampai Zanna berteriak memanggil nama Niko dengan suara yang kencang.
"Niko!!!!" Teriaknya.
Sontak Niko hampir jatuh dari kursinya karena teriakan Zanna.
"Iya Nona." Ucapnya bangun dari kursinya.
"Kamu kenapa? Aku memanggilmu tapi kamu malah diam." Ucapnya bingung.
"Memangnya kamu lagi mikir apa?" Sambungnya.
"Anu Nona, tadi aku kepikiran sama anak…."
Niko menghentikan perkataannya.
"Kenapa berhenti, kamu ke pikiran anak siapa?, anakmu?"
"Bukan Nona, boro-boro punya anak. Istri saja tidak punya."
"Oh iya juga yah, kamu kan single." Ucapnya tertawa kecil.
__ADS_1
"Terus anak siapa?"
"Aku tidak mungkin bilang aku memikirkan anak-anak gadis Sma. Bisa-bisa Nona nantinya pikir aku ini pria cabul." Batinnya.
"Ouh itu, aku kepikiran dengan anak dari kakak sepupuku yang sedang sakit di kampung Nona."
"Astaga dia sakit apa?" Ucapnya, juga ikut khawatir mendengar salah satu kerabat Niko sakit.
Niko sudah dia anggap seperti kakanya sendirir yang selalu melindunginya apa lagi Zanna tidak memiliki saudara.
Jadi kalau Niko sedih, dia juga ikut sedih.
"Demam Nona."
"Semoga cepat sembuh yah. Apa dia sudah dibawa ke dokter?"
"Iya makasih doanya Nona."
"Sudah Nona tadi siang mereka membawanya ke puskesmas terdekat di kampung."
"Ada apa Nona memanggilku, apa ada sesuatu yang Nona butuhkan?" Sambungnya.
"Aku mau minta tolong, kamu bisa nggak anterin aku ke rumah Ibuku?"
"Bukannya Tuan Arga yang mau mengantarkan Nona."
"Iya, kata Mas Arga begitu, tapi Mas Arga belum datang juga. Mungkin Mas Arga sibuk jadi dia tidak jadi mengantarku."
"Baiklah kalau begitu, sekarang Nona?"
"Tentu saja bisa Nona." Ucapnya mengambil kunci mobil yang ada diatas meja di samping gelas kopinya.
"Mari Nona kita pergi."
Niko pergi mengambil mobil dan Zanna berdiri menunggu.
Saat mobil Niko datang Zanna langsung masuk, dia duduk di kursi depan.
"Nona kenapa duduk didepan?" Ucapnya kaget melihat Zanna masuk.
"Tidak apa-apa, ayo jalan nanti keburu malam."
"Baik Nona." Ucapnya menginjak pedal gasnya keluar dari pekarangan rumah.
Tiba-tiba Niko menginjak rem mobilnya mendadak sampai membuat Zanna hampir terbentur.
"Ada apa Niko? Kenapa kamu rem mendadak." Ucapnya mengangkat kepalanya menoleh ke samping.
"Ada Mobil Tuan Arga Nona!"
Zanna menoleh ke depan melihat mobil Arga ada didepan mobil mereka.
Saat mobil Niko keluar dari pagar, mobil Arga tiba-tiba muncul menghalangi mobil Niko keluar.
Arga keluar dari mobil mendatangi mobil Niko, membuka pintu mobil menarik tangan Zanna keluar dari mobil.
"Mas Arga lepasin, tanganku sakit." Ucapnya mencoba melepaskan genggaman tangan Arga.
__ADS_1
Niko yang melihat Zanna kesakitaan ikut keluar dari mobil menghampiri mereka berdua.
"Tuan, lepaskan tangan Nona Zanna, dia kesakitan." Ucapnya memegang tangan Arga yang menggenggam pergelangan tangan Zanna.
Arga melepaskan genggaman tangannya, mendorong tubuh Niko dengan kasar.
"Kamu maunya apa ha? Berkelahi denganku." Ucapnya marah menantang Niko berkelahi dengannya.
"Ada apa dengan Tuan?" Ucapnya bingung.
Melihat Arga yang marah ingin memukul Niko, Zanna langsung muncul didepan Arga, memeluk suaminya.
"Mas Arga sudah, jangan berkelahi disini." Ucapnya, takut.
Arga langsung melepaskan pelukan Zanna menarik tangan Zanna pergi masuk ke dalam mobilnya.
Dia mendorong Zanna masuk ke dalam mobilnya menutup pintu mobil dengan keras.
Dia juga ikut masuk ke dalam mobil, sebelum masuk dia sempat melihat Niko dengan tatapan tajam lalu pergi meninggalkan rumah.
Niko dari kejauhan melihat mobil Arga pergi mengepal tangannya, menahan emosinya.
Dia tidak suka Arga yang bersikap kasar pada Zanna.
Niko hampir saja kelepasan ingin memukul Arga, tapi dia tidak mau melihat Zanna menangis karena perkelahian mereka.
Di dalam mobil Arga memarahi Zanna, membentak-bentak Zanna dengan kasar.
"Aku sudah melarangmu pergi dengan Niko, kenapa kamu masih saja keras kepala. Apa kamu tuli!" Teriaknya marah-marah.
Zanna menunduk kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jawab!" Teriaknya membentak Zanna.
"Bukan seperti itu Mas, aku tadi menunggumu. Tapi kamu tidak datang, aku pikir Mas sibuk di perusahaan jadi aku minta Niko mengantarku." Ucapnya menangis dengan nada suara yang ketakutan.
Zanna tidak berani mengangkat kepalanya karena takut melihat Arga marah seperti orang kesetanan.
"Kamu kalau jadi istriku nurut kata suami, jangan membantah. Kalau aku bilang tunggu yah tunggu." Ucapnya marah.
"Iya mas, Maaf." Ucapnya menangis.
"Atau jangan-jangan kamu memang ingin pergi bersama Niko, biar kamu bisa berdua dengan dia. Iya kan." Ucapnya marah.
"Jawab!" Teriaknya marah.
"Tidak Mas, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku dan Niko tidak hubungan apapun." Ucapnya menangis.
"Nggak usah nangis!"
"Apa-apa kok nangis. Dasar cengeng." Ucapnya membentak.
Arga murka karena Zanna pergi bersama Niko.
Saat melihat Zanna bersama Niko, Arga tidak bisa mengontrol emosinya pikiranya sudah kemana-mana.
Bersambung….
__ADS_1