Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 55 Tio


__ADS_3

Di meja makan, tampak semua orang sudah selesai makan.


Nyonya Melinda yang tidak melihat Zanna kembali, meminta Arga untuk pergi melihat istrinya


Tapi saat Arga mau berdiri, Zanna muncul.


Zanna langsung kembali duduk, mengambil gelas minumnya.


Dia menghabiskan air minum itu dengan sekali teguk.


Arga yang melihat tangan Zanna gemetar saat minum bertanya.


"Kenapa kamu gemetar?"


Zanna meletakkan gelas itu kembali ke atas meja.


"Tidak apa-apa Mas."


"Bagaimana tidak apa-apa tubuhmu juga gemetar." Ucapnya merangkul bahu Zanna.


Clara yang melihat itu merasa kesal.


Nyonya Melinda ikut bertanya pada Zanna.


"Kamu kenapa nak?"


"Tidak apa-apa, cuman perutku sakit."


Zanna lagi-lagi berbohong menutupi yang sebenarnya.


Tubuhnya gemetar karena pertemuannya dengan Tio, bukan karena sakit perut. Dia tidak mungkin menceritakan kejadian tadi.


"Omah panggilan dokter yah?"


"Jangan!" Ucapnya panik.


"Kenapa?"


"Perutku sudah mendingan, sebentar lagi sakit pasti berhenti."


"Kamu benar tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa Mas."


Clara menarik tangan Arga, kesal melihat Arga yang terlalu peduli dengan Zanna.


"Sayang, dia bilang tidak apa-apa. Berarti tidak apa-apa!" Ucapnya merangkul tangan Arga.


Tiba-tiba Tio datang, kembali duduk di kursinya.


Arga tiba-tiba menatap Tio dengan tatapan tajam.


Tidak tau kenapa dia rasa Tio ada hubunganya dengan Zanna yang gemetar.


"Kamu dari mana?" 


"Aku?"


"Iya kamu, siapa lagi baru datang kesini."


"Aku pergi menemui bi di dapur. Memangnya kenapa Kak?"


"Tidak apa-apa." Ucapnya datar.


Sebenarnya dia ingin bertanya apa Tio ada hubunganya dengan Tubuh Zanna yang gemetar. Tapi dia berpikir lagi, itu tidak mungkin.


Zanna dan Tio baru kenal, jadi tidak mungkin.


Nyonya Melina ikut berbicara tapi dengan topik yang berbeda.

__ADS_1


"Bukannya besok hari ulang tahun perusahaan, Kamu tidak membuat perayaan?"


Perasaan Zanna sedikit legah, karena Nyonya Melina mengubah topik pembicaraan. Jadi Arga tidak banyak bertanya dengan Tio.


"Iya Omah, aku sudah menyuruh sekretaris ku untuk mengurus semuanya."


"Omah tenang saja, semua pasti beres."


"Nanti Omah tinggal tunggu beres, tidak perlu pikirkan masalah acaranya. Sudah ada yang mengurusnya."


"Baguslah kalau begitu."


"Kamu akan membawa Zanna kan?" 


"Bukan cuman Zanna tapi Clara juga. Keduanya istriku tentu mereka berdua akan ku bawa." Ucapnya dengan tatapan serius.


Clara menempelkan kepalanya dibahu Arga, karena merasa senang dengan perkataan Arga yang membelanya di depan Nenek Arga.


Saat Nyonya Melina mau bicara, Menatunya ikut membela Clara.


"Jangan bilang Omah mau melarang Clara datang. Kalau Clara tidak datang, Zanna juga tidak boleh datang. Omah harus adil. Mereka berdua istri Arga dan punya hak yang sama." 


Nyonya Melina yang kesal dengan ucapan menantu itu berdiri dari kursinya.


"Terserah pada Arga, yang penting Omah tidak mau Arga hanya mengajak Clara dan Zanna ditinggalkan."


"Kalau sampai Omah tidak melihat Zanna di acara itu, lebih baik tidak usah ada perayaan ulang tahun perusahaan." Ucapnya berbalik, meninggalkan meja makan.


Melihat Neneknya berdiri, Tio pun ikut berdiri.


"Biar aku antar Omah." Ucapnya sambil merangkul bahu Neneknya.


Tio mengantar Nenek masuk ke dalam kamar. 


Sedangkan Arga, Zanna, Clara dan Nyonya Elina masih duduk di meja makan sambil melihat satu sama lain.


"Sayang ayo kita pulang, tiba-tiba kepalaku pusing. Sepertinya aku butuh istirahat."


"Tunggu dulu kita pamit dulu dengan Omah."


"Kamu saja sayang, kepalaku sakit sekali." Ucapnya beranjak berdiri dari kursinya.


"Aku tunggu di mobil." 


Clara meninggalkan meja makan tanpa berpamitan, baik dengan nenek Arga ataupun Ibu Arga.


Dia tidak memperdulikan keluarga Arga, yang pedulikan hanya suaminya saja.


Sedangkan Zanna sebelum meninggalkan meja makan, dia pergi berpamitan pada Ibu Arga.


"Aku pamit bu." Ucapnya mau meraih tangan Ibu Arga tapi Ibu Arga menepis tangannya, pergi dari meja makan tanpa bicara sekata-kata pun.


Arga datang, berdiri disamping Zanna.


"Tidak perlu dimasukkan ke hati."


"Kita pergi ke kamar Omah saja." Ucapnya menarik tangan Zanna.


Di kamar Nyonya Melina.


Tio membantu Neneknya duduk di tempat tidur.


"Omah aku ingin tanya sesuatu."


"Iya tanya saja, selagi Omah tau. Pasti Omah jawab."


"Apa Kakak ipar setuju dengan pernikahan kedua Arga?"


"Untuk apa kamu bertanya seperti itu?"

__ADS_1


"Tidak, aku hanya penasaran saja." Ucapnya sambil tersenyum.


"Omah juga tidak tau, yang Omah tau Arga diam-diam menikahi wanita itu karena saat itu wanita tengah mengandung anak dari Arga."


"Mengandung?"


"Jadi kakak ipar kedua sekarang sedang mengandung?" Ucapnya kaget, mengetahui kakaknya punya anak dari wanita lain, dan kakaknya telah menghianati Zanna.


"Tidak, wanita itu baru saja keguguran beberapa hari."


Tio semakin penasaran dengan kehidupan pernikahan Arga dan Zanna.


"Apa yang terjadi padanya?"


"Dia kehilangan anaknya karena kesalahannya sendiri. Wanita itu punya hati yang jahat, itulah kenapa Omah tidak menyukainya."


"Kenapa omah mengatakan dia wanita yang jahat?" 


Tio semakin bingung, dia tidak mengerti dengan perkataan Neneknya.


"Wanita itu ingin mencelakai Zanna dengan cara mau mendorong Zanna dari tangga, tapi dia malah terjatuh karena terpeleset. Akibatnya kehilangan anaknya."


"Parahnya wanita itu sengaja memfitnah Zanna didepan Arga kalau Zanna sengaja mendorongnya dari tangga dan Arga percaya, akhirnya Zanna dijebloskan ke penjara."


"Untung saja Niko memberitahu Omah semuanya, kalau tidak mungkin Zanna akan di dalam penjara sampai kebohongan wanita itu terbongkar."


"Apa Omah yang menjamin Zanna keluar?"


"Tidak, Arga sendiri yang mencabut laporanya karena Omah dan Niko menunjukkan rekaman Cctv yang memperlihatkan semua kebohongan wanita itu."


"Karena kejadian itu, Zanna harus dirawat di rumah sakit."


"Kenapa bisa?" 


"Karena saat Zanna jemput di kantor polisi, Zanna dipukuli dengan tahanan lain, menyebabkan Zanna harus dilarikan ke rumah sakit."


Wajah Tio tampak kelihatan sangat marah mengetahui Zanna hidup tersiksa bersama kakaknya.


"Beraninya mereka menyakiti Zanna." Batinya.


Tiba-tiba Arga dan Zanna muncul di depan pintu.


Zanna yang melihat Tio melirik ke arahnya, sontak merangkul tangan Arga.


Arga dan Zanna berjalan masuk ke dalam kamar.


"Sepertinya obrolan Omah dan Tio sangat serius? Apa yang kalian bahas ?"


Tio tiba-tiba berdiri meninggalkan kamar Neneknya dengan tatapan mata yang dingin melirik ke arah Arga dan Zanna.


"Ada apa dengannya?" Ucapnya bingung, menoleh kebelakang melihat adiknya keluar.


"Ada apa kalian berdua kesini?" 


"Kita mau pamit pulang, Omah jaga kesehatan yah." Ucap Zanna tersenyum menghampiri Nenek Arga, mencium tangannya.


"Hati-hati di jalan."


"Iya Omah."


Arga dan Zanna keluar dari kamar Neneknya.


Zanna keluar dari rumah mertuanya sambil menggandeng suaminya.


Tapi mereka sudah keluar Arga melepaskan tangan Zanna. Karena dia tidak mau Clara melihatnya, yang akan memicu pertengkaran mereka berdua.


Tio melihat itu dari balik jendelanya.


Dia mengepal tangannya ingin memukul kakaknya sudah bersikap tidak adil pada Zanna.

__ADS_1


"Adai saja yang kamu gandeng adalah aku, aku tidak akan melepaskanmu. Tidak ada seorangpun yang akan menyakitimu." Ucapnya berbalik menutup hordennya.


Bersambung…..


__ADS_2