
Di sebuah gudang kecil, ada kedua pria yang melukai Zanna sedang minum-minum Alkohol merayakan keberhasilan mereka membunuh Zanna.
Dia pikir Zanna sudah mati setelah menusuk nya berkali-kali.
"Wanita itu pasti sudah mati dan kita akan dapat banyak uang dari Nyonya Elina." Ucap pria itu sambil memegang botol alkohol.
"Sudah pasti wanita itu mati." Ucap teman pria itu sambil tertawa minum alkoholnya dari botol.
"Sebentar lagi Nyonya Elina akan datang memberikan sisah bayarannya pada kita."
Nyonya Elina setelah menghubungi orang untuk membunuh kedua pria itu, dia juga menghubungi pria itu untuk menjebak mereka berdua ke dalam rencananya dengan imingan sisah bayaran.
Sekarang orang suruhan Nyonya Elina sedang menuju kesana untuk membunuh mereka.
Dan benar saja belum selesai mereka cerita, seseorang masuk ke dalam gudang itu.
Kedua pria iru bangkit dari tempat duduknya berjalan ke depan karena dia pikir Nyonya Elina sudah datang.
Tapi saat mereka kesana ternyata itu bukan Nyonya Elina tapi orang lain.
"Siapa kamu!" Teriak pria itu.
Tiba-tiba pria itu, mengeluarkan pistol dari jas nya menembak pria itu.
Door!!!
Peluruh itu terbang dengan cepat mengenai dada pria itu sampai membuatnya terpental terjatuh ke lantai.
Teman pria itu langsung menjatuhkan botolnya kaget melihat temannya sudah mati.
Pria itu berbalik berlari ketakutan masuk kedalam sampai menabrak barang-barang disana.
Brungk…
Karena pengaruh alkohol pria itu terjatuh menabrak barang yang ada di depannya.
Pria yang mengejarnya menembaknya dari belakang.
Door!!!!
Door!!!
Door!!!
Tiga tembakan mendarat di punggung pria itu.
Pria itu kehilangan nyawanya disaat itu juga. Setelah membunuh kedua pria itu, dia mengambil kedua foto mereka yang sudah mati untuk sebagai bukti bahwa dia sudah berhasil menyelesaikan tugasnya.
Lalu orang itu keluar dari gudang.
Dari luar sudah ada beberapa pria yang sedang menyiram gudang kecil itu dengan bensin.
Saat semua sudah tersiram mereka melempar jerigen ukuran empat liter ke dalam gudang.
__ADS_1
Dia pria itu melemparkan korek api yang menyala ke dinding gudang itu.
Api yang kecil mulai membesar melahap seluruh isi gudang itu.
Ditengah malam yang gelap langit diwarnai dengan cahaya merah api yang berkobar membakar seluruh gudang itu
Kelima pria itu berbalik meninggalkan tempat itu dengan mobil mereka.
Pria yang baru saja membunuh kedua pria itu adalah orang suruhan Nyonya Elina.
Karena tugasnya sudah selesai saat dia memberitahu Nyonya Elina.Pria itu langsung menghubungi nya.
Di kamar Zanna Nyonya Elina berdiri tidak jauh dari pintu.
Tiba-tiba hpnya berdering….
Sontak semua orang berbalik ke arah nya.
Nyonya Elina langsung keluar dari kamar Zanna menjauh dari sana, mengangkat teleponnya
"Hallo Nyonya."
"Bagaimana dengan tugas kalian?" Ucapnya dengan nada suara kecil sambil menoleh kebelakang memastikan kali ini tidak ada orang yang mendengarkan obrolan teleponnya.
"Sudah selesai Nyonya, kedua pria itu sudah mati dan tubuh mereka aku bakar di dalam gudang."
"Kalau begitu saya akan mengirimkan barang buktinya pada Nyonya sekarang."
Dia langsung mengirim foto kedua pria itu ke whatsapp.
Nyonya Elina tersenyum kecil melihat kedua foto pria itu benar-benar sudah mati.
"Bagaimana Nyonya?"
"Bagus, aku akan langsung transfer sisah uang kalian."
"Baik Nyonya saya tunggu." Ucap pria itu mematikan teleponnya.
Setelah telepon mati Nyonya Elina langsung mentransfer sisah 200 juta ke rekening pria itu.
"Sekarang sudah aman, aku sudah bisa pulang dengan tenang." Ucapnya tersenyum lebar kembali ke kamar Zanna.
Saat dia masuk kedalam semua orang memperhatikannya, terutama mertuanya.
"Siapa yang menolongmu ditengah malam seperti ini?" Ucapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Teman."
"Teman macam apa ini menelpon orang di jam 1 malam. Apa temanmu tidak kurang kerjaan harus menelpon di waktu seperti itu."
"Ibu kenapa sih dari tadi bawaannya emosi mulu kalau lihat aku." Ucapnya kesal.
__ADS_1
"Dari pada aku ribut disini dengan ibu aku lebih baik pulang." Sambungnya.
"Pulang saja, kamu juga tidak dibutuhkan disini."
"Okey aku pulang, lebih bagus daripada aku menghabiskan waktu untuk kalian." Ucapnya berbalik pergi.
"Ibu tunggu aku." Ucap Sherlyn mengejar ibunya yang keluar.
Sherlyn yang sudah capek di rumah sakit, memilih ikut ibunya pulang daripada menunggu di rumah sakit.
Clara yang sudah mengantuk meminta Arga untuk pulang.
"Sayang kita pulang yuk, aku sudah ngantuk." Ucapnya merangkul tangan Arga.
Mendengar itu Nyonya Elina langsung memarahi Clara.
"Kamu pulang saja, jangan menyuruh Arga untuk ikut denganmu. Istrinya sedang terbaring di rumah sakit malah mau pulang."
"Omah kenapa sih, aku juga istrinya. Zanna kan sudah baik-baik saja jadi kita bisa pulang dulu, nanti besok lagi kita datang lagi, apa susahnya."
"Kalau kamu mau pulang silahkan, nanti kamu bawa mobil aku saja. Aku masih harus disini menemani nya."
"Sayang, tapi aku maunya pulang sama kamu."
"Aku tidak mungkin meninggalkan Zanna, dia juga istriku."
"Tega banget sih kamu biarin aku pulang sendiri."
Tio yang merasa jengkel mendengar pertengkaran mereka ikut bicara.
"Tolong kalian kalau mau berdebat keluar saja dari pada ribut disini."
"Apa kalian tidak kasihan dengan Zanna!" Sambungnya, marah.
"Kalau mau pulang silahkan, tidak perlu membuat drama dulu. Aku tidak ingin melihat drama rumah tangga kalian disini."
"Dan Omah sebaiknya pulang ke rumah nanti besok omah kesini lagi. Aku tidak mau Omah juga ikut sakit nanti."
"Tapi Omah mau menunggu disini."
"Omah yang dikatakan Tio itu benar, nanti kalau Omah sakit kan. Kita harus membagi waktu untuk menjaga Omah dan Zanna."
"Omah pulang yah." Ucap Arga membujuk neneknya agar segera pulang.
Setelah berpikir panjang, akhirnya Nyonya Melina setuju untuk pulang ke rumah dengan satu syarat, Arga harus menemani Zanna, tidak boleh meninggalkan sana sampai dia sadar.
"Baiklah omah aku setuju."
"Kalian jaga Zanna, jangan sampai Zanna kenapa-kenapa."
Nyonya Elina meninggalkan kamar Zanna balik pulang ke rumah dengan supir pribadinya yang selalu mengantar Nyonya Elina kemanapun.
Bersambung…..
__ADS_1