Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 36 Perasaan Aneh


__ADS_3

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya membuatnya pusing.


Dia menggelengkan kepalanya berniat menghilangkan semuanya pertanyaan itu.


"Untuk apa juga aku memikirkan mereka, itu tidak ada manfaatnya sama sekali." 


Kalimat yang dilontarkan Arga tidak sesuai dengan pikirannya.


Dia masih saja memikirkan Zanna dan Niko.


Pikirannya sekarang dikuasai oleh mereka berdua.


Arga berusaha untuk tidak peduli dengan kedekatan mereka dengan memikirkan apa yang harus dilakukan untuk Clara agar bisa diterima masuk ke dalam keluarganya, terutama Neneknya yang menolak menerima Clara.


Dia tidak mau Clara sampai merasa seperti wanita simpanan bukan seperti istrinya karena keberadaanya yang tersembunyi dari keluarganya dan di lingkungannya.


Arga berencana membawa Clara ke rumah keluarganya, untuk mempertemukan Clara dengan Neneknya.


Agar mereka berdua bisa membangun hubungan yang lebih baik, antara menantu dan mertua.


Saat Arga sibuk berpikir bagaimana caranya membujuk Neneknya untuk menerima Clara.


Tiba-tiba Clara terbangun dari tidurnya, menoleh ke samping melihat ke arah Arga.


Dari sorot samping matanya, dia melihat ada bungket bunga di meja, wajahnya sekerika sumringah.


Clara bangkit dari tempat tidur mengambil buket bunga itu dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Sayang, ini buket bunga untukku?" Ucapnya tersenyum lebar sambil mencium aroma bunga yang harum.


"Kamu romantis sekali." Sambungnya.

__ADS_1


"Sayang kamu kenapa diam, apa bunga ini bukan untukku." Ucapnya dengan tatapan tajam menatap Arga.


Wajah Clara sontak berubah cemberut, karena Arga yang cuman diam.


"Tidak kok, bunga itu memang untukmu." Ucapnya tersenyum tipis.


Arga menampakan senyuman terpaksa.


"Aku membelinya khusus untukmu." Sambungnya.


"Tapi kapan kamu pergi keluar membelinya?" 


"Oh itu, tadi saat kamu tidur aku pergi membelinya tokoh bunga tidak jauh dari rumah sakit."


"Tumben kamu nggak beli bunga mawar, biasanya kamu selalu memberikanku bunga mawar. Tapi hari ini beda."


Arga terdiam memikirkan harus menjawab apa, pasalnya bunga itu memang bukan untuk Clara melainkan untuk Zanna.


"Sekali-sekali juga bolehkan aku memberikanmu bunga yang berbeda, biar kamu nggak bosan dengan bunga itu- itu aja."


"Boleh sih, cuman aneh aja, soalnya kamu nggak pernah belikan aku bunga selain bunga itu. Atau jangan-jangan bunga itu bukan untukku." Ucapnya dengan sorot mata yang tajam.


"Jangan pikir yang aneh-aneh deh, ini memang untuk kamu kok sayang."


"Aku tidak mungkin memberikan bunga untuk wanita lain."


Arga mendaratkan bibirnya mengecup kening Clara.


"Aku cuman mencintaimu, tidak ada wanita lain." 


Clara memeluk Arga menempel wajahnya dibawah dada Arga.

__ADS_1


"Aku tau itu, kamu tidak perlu memberitahuku untuk itu. Aku yakin kamu cuman mencintaiku bahkan kamu lebih mencintaiku dari pada istri pertama mu itu." 


"Itu sudah pasti." Ucapnya mengecup kening Clara lagi.


Di sisi lain.


Rumah Zanna.


Niko dan Nenek Arga masih berdiri saling melihat satu sama lain.


Niko yang merasa malu, menurunkan pandangannya tidak berani menatap mata Nenek Arga yang tajam bagaikan mata pisau.


"Aku peringatkan padamu, Zanna adalah Istri Arga. Sebaiknya kamu jauhi Zanna dan lupakan semua perasaanmu itu!"


Niko menaikan pupil matanya menatap nenek Arga.


"Aku tidak punya perasaan apapun terhadap Nona Zanna."


"Aku bisa melihatnya dari wajahmu, sebaiknya kamu turuti saja perintahku itu." 


"Jangan sampai aku yang harus bertindak menjauhkanmu dari cucuku."


"Kamu pasti tau apa yang aku maksudku." Ucapnya dengan tatapan tajam.


Perkataan Nenek Arga membuat Niko langsung meninggalkan ruangan itu.


Kalau dia masih ingin melindungi Zanna, dia harus menuruti perkataan Nenek Arga.


Karena dia tau apa yang akan dilakukan Nenek Arga kalau dia tidak mengikuti perintahnya, nyawanya akan menjadi sasarannya.


Selama Zanna belum bahagia, dia akan tetap terus disampingnya sampai dia yang memilih untuk pergi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2