
Zanna menundukan kepalanya di atas lututnya meratapi nasibnya tidak beruntung mendapatkan suami tidak menganggapnya ada.
Dari arah pintu samping dapur, Niko yang melihat dan mendengar pertengkaran Arga dan Zanna karena Clara yang muncul sebagai istri kedua Arga, tampak kasihan melihat Zanna yang diperlakukan semena-mena oleh Arga dan Clara.
Apalah daya Niko yang hanya seorang supir pribadi Arga walaupun Arga sudah sangat percaya dengannya, tapi Niko tidak berani ikut campur masalah mereka.
"Tuan Arga seharusnya tidak memperlakukan istrinya seperti itu. Kasihan Nona Zanna." Ucapnya berdiri didepan pintu.
Niko yang tadinya ingin masuk untuk membuat kopi, mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam.
Dia tidak enak jika harus mengganggu Zanna yang duduk bersedih di dapur.
Niko lebih memilih pergi dari sana dari sebelum Zanna sadar kalau dia memperhatikan Zanna dari jauh.
Niko kembali ke halaman depan, dimana Niko selalu duduk di pos penjaga bersama Pak Darto Satpam rumah.
Pak Darto yang melihat Niko kembali dengan tangan kosong bertanya.
"Kopinya mana?"
"Besok saja minum kopinya, kopi di dapur habis." Ucapnya datang duduk disamping Pak Darto dengan raut wajah kesal.
"Kenapa wajahmu seperti itu?"
"Aku kasihan sama Nona Zanna yang terus-terusan tersiksa tinggal bersama Tuan Arga, apalagi Nona Clara sekarang akan tinggal bersama mereka satu atap. Seharusnya Tuan Arga tidak menyatuhkan mereka dalam satu rumah."
"Kita sebagai orang bawahan tidak berhak untuk bersuara apa lagi menasehati Tuan Arga. Bisa-bisa nantinya malah kehilangan pekerjaan kita." ucap Pak Darto.
Disisi lain
Arga dan Clara yang menikmati masakan Zanna tampak terlihat senang dengan masakan buatan Zanna.
Ini pertama kalinya Arga merasakan masakan buatan Zanna.
"Wanita itu ternyata pintar memasak, ada gunanya juga aku menikahinya." Ucapnya tersenyum tipis, tak henti menyendok makanannya.
Mendengar Arga yang memuji kepandaian memasak Zanna membuat Clara kesal.
Clara melepaskan sendok makanan dengan kasar sampai membuat piringnya berbunyi. Dia berdiri dari kursi meninggalkan meja makan tanpa berkata apa-apa dengan raut wajah kesal.
“Sayang kamu mau ke mana?” Ucap Arga menoleh ke belakang.
Clara pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Arga.
Clara kembali ke kamar sedangkan Arga tetap duduk di meja makan menikmati makanannya, dia tidak mempedulikan Clara yang pergi, apalagi saat ini perut Arga sedang kelaparan.
Disisi lain Clara masuk kedalam kamar sambil membanting pintu kamar.
Clara duduk di tempat tidur dengan raut wajah yang marah, dia masih tidak terima Arga memuji Zanna di depannya.
"Wanita sialan," Ucapnya marah memukul tempat tidur dengan kedua tangannya.
"Kau sudah mengambil posisi yang seharusnya aku memiliki sekarang, aku tidak akan membiarkanmu mengambil Arga dariku!"
__ADS_1
"Ibu akan menjauhkan wanita sialan itu dari Ayahmu!" Ucapnya sambil mengelus perutnya berbicara pada bayinya.
"Kita lihat siapa yang akan menang mendapatkan hati Arga dan siapa yang akan keluar dari rumah ini!"
Di meja makan Arga berteriak memanggil Zanna.
Di meja makanan Arga sudah yang selesai makan memanggil Zanna.
“Zanna….” Teriaknya.
Zanna yang duduk menangis di dapur mengangkat kepalanya mendengar panggilan Arga, dia cepat-cepat menghapus air matanya berdiri.
Zanna yang takut Arga marah langsung pergi menemui Arga sebelum ada teriakan kedua lagi.
Saat Zanna pergi ke meja makan, di dalam hatinya dia bertanya-tanya ke mana pergi Clara.
"Bukanya wanita itu tadi bersama Mas Arga?" Batinnya, sambil berjalan perlahan menuju ke kursi Arga.
"Ada apa Mas ?" Ucapnya berdiri disamping kursi Arga.
Arga berdiri dari kursinya.
"Bereskan semua ini!" Ucapnya datar.
"Baik Mas." Ucapnya dengan raut wajah yang sedih.
Zanna mulai mengatur piring-piring kotor yang ada diatas meja.
"Mas yakin? " Ucapnya kaget.
"Ya iya lah, kamu memang tidak mau." Ucapnya marah.
"Tidak mas, aku cuman terkejut. Tanpa Mas menyuruhku aku akan tetap memasak setiap hari untukmu, karena itu memang kewajibanku sebagai istrimu." Ucapnya tersenyum kecil.
"Sudahlah aku tidak mau mendengar ucapanmu itu. Aku menyuruhmu memasak karena masakanmu enak, kalau masakan tidak enak mana mungkin aku menyuruhmu memasak untukku." Ucapnya datar pergi.
Wajah Zanna tiba-tiba muncul senyuman manis setelah Arga memuji masakannya enak.
Ini pertama kalinya dia mendapat pujian dari suaminya.
Hatinya yang tadi terluka, sedikit terobati dengan kalimat pujian dari Arga.
"Aku tidak boleh menyerah! Aku yakin tuhan pasti akan membantuku meluluhkan hati Mas Arga."
Zanna membereskan meja makan dengan penuh semangat akan berjuang mempertahankan rumah tangganya.
Disisi lain.
Di rumah besar kediaman Tomo.
Nenek Arga terlihat berdiri didepan pintu rumah dengan pakaian rapi, lengkap dengan tas dan sepatu mahal yang dia kenakan.
Di depan rumah sudah ada supir pribadi nenek Arga yang sudah siap mengantarnya ke rumah cucunya.
__ADS_1
"Bi Astri…" Ucapnya memanggil pembantunya.
"Iya Nyonya besar!" Ucapnya berlari dari dapur menghampiri Nenek Arga.
"Ada apa Nyonya besar?"
"Ayo…." Ucapnya berjalan ke arah mobil.
"Kita mau ke mana Nyonya?" Ucapnya mengikuti Nenek Arga dari belakang.
"Kita akan pergi ke rumah cucuku!"
Nenek Arga masuk ke dalam mobil bersama bi asri yang duduk di depan bersama supir.
Nenek Arga merasa tidak tenang dengan kondisi Zanna yang kemarin pingsan, berencana pergi melihat keadaan menantunya sekaligus membawakan pembantu untuk tinggal di sana membantu Zanna.
Rumah Arga.
Setelah menikmati masakan Zanna yang begitu luar biasa enaknya, Arga kembali ke kamar mencari Clara.
Saat dia masuk ke dalam kamar, Arga melihat Clara yang sedang duduk sofa dengan wajah cemberut.
Arga yang sudah mengenal lama Clara tau, kalau raut wajah yang ditunjukan Clara seperti itu menandakan Clara sedang marah.
Arga perlahan-lahan melangkahkan kakinya masuk.
Arga datang memeluk Clara dari belakang sambil mengecup pipi Clara dari samping.
"Ada apa sayang, kenapa wajahmu cemberut seperti itu." Ucapnya Arga memeluk Clara.
"Aku sedang tidak ingin bicara padamu, tinggalkan aku sendiri." Ucapnya ketus.
"Kamu marah padaku?"
"Menurutmu, kamu memuji wanita lain didepanku aku tidak akan marah."
"Mana mungkin aku memuji wanita lain di depanmu."
"Lalu apa yang kamu lakukan tadi kalau bukan memuji."
"Yang mana kamu maksud aku tidak pernah memuji seseorang di depanmu." Ucap Arga melepaskan pelukannya.
"Kamu pura-pura lupa atau memang lupa, tadi kamu memuji istri pertamamu itu pintar masak didepanku, kamu tau aku tidak bisa memasak kan."
"Kamu ingin menyinggungku!" Ucapnya marah.
"Sudahlah aku tidak bermaksud menyinggungmu, lagi pula cintaku hanya untukmu seorang."
Arga mencoba menenangkannya Clara yang marah dengan cara memeluknya dan memberikan pemahaman bahwa dia tidak bermaksud memuji Zanna.
"Kamu jangan marah lagi, Wanita itu hanya aku anggap pembantu disini tidak lebih!"
Bersambung….
__ADS_1