
Pukul 08:15 malam,
Setelah selesai menyuapkan makan pada Zanna Arga masih duduk disamping Zanna menemani Zanna yang tidur setelah makan
Arga yang terlalu capek ikut tertidur, Sedangkan Niko duduk di sofa memperhatikan Zanna yang tertidur dari jauh.
Melihat Arga tiba-tiba terbangun, Niko langsung memalingkan wajahnya.
Dia tidak mau sampai Tuan Arga tau kalau dirinya diam-diam memperhatikan Zanna.
Niko memejamkan kedua matanya berpura-pura tertidur.
Arga tersenyum tipis melihat wajah Zanna yang tertidur dengan posisi wajah yang menghadap ke arahnya.
Semakin dia perhatikan Zanna ternyata sangat cantik saat tidur.
Tidak dipungkiri dari kacamata pria Zanna mempunyai aura mempesona yang membuat para pria bisa tertarik padanya.
Arga menopang dagunya sambil tersenyum memperhatikan wajah Zanna.
Tidak lama kemudian hp Arga berdiring, sontak dia langsung berdiri berjalan keluar dari kamar, karena dia tidak mau sampai mengganggu tidur Zanna.
Di luar Arga melihat layar ponselnya, ternyata yang menelpon dirinya adalah Clara.
Arga yang masih marah ingin mematikan teleponnya, tapi hatinya tidak bisa melakukan itu, dan pada akhirnya Arga memilih untuk mengangkat telepon Clara.
"Hallo, apa kamu menelponku?" Ucapnya berat untuk bicara.
Wajah Arga tiba-tiba berubah panik, setelah mendengar suara Clara yang menangis sambil berteriak-teriak.
"Clara apa yang terjadi padamu!" Ucapnya panik.
__ADS_1
Tidak ada jawaban sama sekali dari Clara.
"Clara apa kamu mendengar!" Teriaknya dengan raut wajah panik.
Arga terus mengulangi kalimat yang sama, tapi tidak ada jawaban sama sekali dari Clara.
Tiba-tiba teleponnya terputus.
Arga yang panik dengan keadaan Clara langsung berlari meninggalkan tempat itu, dia sudah tidak memperdulikan lagi Zanna yang masih terbaring di rumah sakit karena ulahnya.
Di sisi lain di apartemen Clara.
Terlihat dari semua sudut ruangan tampak banyak barang-barang yang berserahkan di lantai, dan buka cuman itu banyak pecahan kaca yang tersebar di lantai dengan aliran darah yang berasal dari tangan Clara.
Clara tergeletak dilantai di lantai dengan pergelangannya yang terluka parah, banyak darah mengalir dari luka itu.
Wajah Clara tampak terseyum seperti tidak merasakan sakit apapun, padahal lukanya cukup besar.
"Aku yakin kamu akan datang." Ucapnya terseyum.
Semua ini dia lakukan hanya demi Arga bisa kembali padanya, dia tau Arga tidak mungkin mengabaikannya jika Arga sudah melihatnya terluka.
Kini Clara hanya menunggu kedatangan Arga dan melanjutkan sandiwaranya itu.
"Aku akan kembali merebut apa yang aku memiliki selama ini!"
Di rumah Arga..
Mobil Arga berhenti tepat didepan depan halaman pintu depan rumahnya.
Arga buru-buru keluar dari mobil membuka kedua pintu rumahnya sambil berteriak nama Clara.
__ADS_1
"Clara…."
Tidak ada jawaban sama sekalih, Arga semakin Khawatir berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Arga membuka pintu kamarnya seperti orang membanting barang.
Arga berbalik berteriak memanggil Clara.
"Clara!!!" Ucapnya penuh dengan emosi tidak melihat Clara disana.
"Kamu pergi kemana!" Teriaknya marah, meletakkan kedua tangannya dikepala.
Arga benar-benar stres sampai kepalnya mau picah mencari Clara diseluruh rumahnya.
Arga yang benar-benar kebingungan pergi ke pos penjaga untuk menayakann Clara pada Pak Darto.
Pak Darto yang sedang duduk minum kopi tiba-tiba Arga muncul.
"Dimana Nona Clara, kenapa dia tidak ada rumah." Ucapnya dengan suara yang nada yang tinggi.
"Tuan belum tau yah, Nona Clara sudah diusir dari rumah oleh Nyonya besar saat Tuan pergi keluar tadi soreh."
"Nona keluar dari rumah tidak lama setelah Tuan Pergi." Sambungnya.
Arga langsung berbalik pergi ke mobilnya sebelum pak Darto menyelesaikan ucapannya.
Dia sudah tau kemana harus pergi mencari Clara.
Yang dia tau Clara pasti akan kembali ke Apartemennya.
Arga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan raya.
__ADS_1
Raut wajah yang panik menjelaskan betapa khawatirnya dengan kondisi Clara sekarang.
Bersambung….