
Di rumah sakit.
Terlihat Tio yang tidur pulas sambil menggenggam tangan Zanna dengan kondisi wajah yang capek semalaman menunggu Zanna sadar, bahkan tangan dan bajunya masih ada bekas darah yang belum dicuci nya.
Sedangkan Arga tidur di sofa menyadarkan tubuhnya, dengan Clara yang tertidur di pangkuannya.
Zanna mulai sadar dengan gerakan jari jemarinya yang bergerak sedikit demi sedikit.
Tio yang merasakan pergerakan tangan Zanna, sontak membuat nya terbangun kaget.
"Zanna kamu sudah sadar!" Ucapnya dengan mata yang terbuka lebar sambil menggenggam tangan Zanna.
Zanna membuka kedua matanya perlahan dengan penglihatan yang kurang jelas.
Tapi dari suaranya, dia tau itu siapa.
Saat penglihatannya mulai jelas, wajah pertama kali yang dia lihat sama dengan wajah yang terakhir kali dia lihat sebelum kehilangan kesadarannya.
Pria yang mencintai dengan tulus sampai sekarang walaupun Zanna sudah bukan miliknya seperti dulu.
"Tio…"
Mendengar suara Zanna yang sudah membuatnya hatinya sangat senang.
Tio terlalu bahagia sontak bangun mencium kening Zanna dengan setetes air mata bahagia bisa melihat wanita yang dicintai kembali sadar.
"Jangan banyak bicara, tunggu sampai dokter datang."
Zanna kembali mengingat-ngingat kejadian semalam.
"Aku masih masih hidup ternyata." Ucapnya sambil memegang perutnya.
"Tentu saja kamu sih hidup aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku."
"Terima kasih kamu sudah menolongku."
"Sudah jangan bicara lagi. Kamu tidak perlu berterima kasih, aku tidak mungkin membiarkan terluka seperti itu."
"Kamu tidak pernah berubah, masih tetap jadi orang paling peduli denganku." Batinnya.
Tiba-tiba terdengar ada nada dering hp berdering.
Sontak Tio menoleh ke samping ke asal suara, ternyata hp yang berdering itu adalah hp Arga.
Zanna juga melihat kearah Arga dan Clara.
"Mas Arga juga disini." Batinnya kaget.
Mendengar suara dan getaran hpnya dikantong celananya membuat Arga terbangun.
Dia langsung mengambil hpnya, melihat panggilan telepon dari siapa.
Saat dia tau panggilan itu dari Niko, Arga langsung menurun kepala Clara di sofa.
Arga langsung pergi keluar mengangkat telepon Niko.
"Halo Niko. Bagaimana apa kamu sudah menemukan kedua pria itu."
"Aku sudah menemukan keberadaan mereka."
"Dimana mereka sekarang?"
"Dari informasi teman dari si pelaku semalam kedua pria itu pergi ke tempat mereka sering minum, tapi saat saya sampai tempatnya sudah berubah menjadi abu."
"Apa?" Ucapnya kaget.
"Dan abu masih hangat, berarti tempat itu terbakar semalam."
__ADS_1
"Kemungkinan besar, orang yang menyuruh mereka, semalam membakar tempat ini karena tau rencananya melenyapkan Nona Zanna gagal." Ucapnya berdiri berdiri di depan gudang yang hangus terbakar.
"Kalau begini tidak aku bisa tau siapa dalang!" Ucapnya kesal mengetahui kedua pelaku itu sudah mati.
"Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang Tuan."
"Aku akan memikirkannya nanti, kamu pulang saja."
"Baik Tuan, tapi boleh saya tau bagaimana dengan Kondisi Nona Zanna?"
"Semalam Operasinya berjalan lancar, Dia sudah baik-baik saja." Ucapnya mematikan teleponnya.
"Syukurlah."
Niko ikut senang mendengar Zanna kondisi Zanna yang sudah baik-baik saja, setidaknya walaupun pelakunya belum ditemukan rasa kekhawatirannya sedikit berkurang dengan kabar baik yang dia dengar.
Tapi Niko masih khawatirkan dengan Zanna, karena takut orang yang menyuruh melenyapkan Zanna akan kembali melukai nya.
Sedangkan Arga kembali ke kamar Zanna.
Saat dia membuka pintu kamar, dia kaget melihat Zanna yang sudah sadar.
Dia langsung masuk menghampiri Zanna menyingkirkan adiknya dari sana.
Saat dia bangun dia tidak belum sadar kalau Zanna sudah bangun dari tadi.
"Kamu sudah sadar." Ucapnya berdiri disamping Zanna sambil menggenggam tangan nya.
"Iya Mas."
Tiba-tiba Tio datang mendorong tubuh Arga ke samping dengan tubuhnya menyingkirkan Arga dari sana.
Arga marah menarik baju Tio.
"Apa maksudmu!"
"Ini tempatku!" Ucapannya kesal karena Kakaknya menyingkirkannya seenaknya.
"Aku tidak peduli!" Ucapnya marah.
"Minggir!" Teriak Arga.
Tio yang keras kepala tidak mau pindah dari sana
"Kalian bisa tidak bertengkar, aku baru sadar!" Ucapnya mengerutkan dahinya melihat adik kakak bertengkar di depannya.
"Adik ipar tolong, biarkan Mas Arga disampingku. Suamiku punya hak untuk ada disampingku." Ucapnya dengan lantang tanpa memikirkan bagaimana perkataannya itu menyakiti hati Tio.
Karena Zanna yang menginginkan itu, Tio terpaksa menyingkir dari sana.
Saat Arga sudah ada di samping Zanna, Tio langsung keluar dari kamar itu.
"Apa aku salah bicara?" Ucapnya bingung.
"Kamu tidak salah, Tio memang seperti itu."
"Maaf Tio, tapi kita bukan seperti dulu lagi. Aku harap kamu mengerti." Bantinnya.
Arga tampak bahagia saat Zanna memilih nya dari pada Tio.
Dari sini Arga sudah melihat Tio tidak akan pernah bisa merebut Zanna dari dirinya.
"Walaupun kamu berjuang mati-matian untuk mendapatkan nya, dia tetap memilihku!" Batinnya, sambil menarik senyuman tipis di wajahnya.
Di sisi lain.
Di sekolah Sherlyn
__ADS_1
Di dalam kelas tampak Sherlyn yang duduk di bangku bersama Lendra.
Semua orang tampak tidak percaya melihat seorang Sherlyn mau duduk dengan Lendra.
"Bukannya Sherlyn tidak suka dekat dengan Lendra." Ucap teman wanita sekelas itu berbisik dengan teman di sampingnya.
"Iya, Sherlyn mungkin lagi kesambet kali yah." Ucap teman lainnya melirik dengan tatapan aneh ke Sherlyn.
Sherlyn menarik nafas panjang menutup wajahnya dengan kedua tangan, karena malu semua teman-teman kelasnya menatapnya dengan aneh.
Tiba-tiba teman-teman geng Sherlyn datang bergerombol masuk ke dalam kelas.
Mereka berempat semua melongo di depan pintu melihat Lendra yang duduk disamping Sherlyn.
Sontak teman-teman Sherlyn berlari ke bangku nya, menarik Lendra pindah dari sana.
"Kamu ngapain duduk disamping Sherlyn." Ucap Neta menari tangan Lendra.
"Iya elu ngapain disitu." Ucap Jessi ikut menarik tangan Lendra.
"Elu pindah deh sebelum Sherlyn ngamuk." Ucap Della kesal.
"Iya Lendra kamu pindah aja." Ucap Tias berdiri di samping Della yang sudah emosi ingin menarik Lendra dari sana.
Lendra melepaskan kedua tangan teman Sherlyn sambil tersenyum.
"Elo gila yah, ngapain senyum-senyum. Kita akan terpengaruh." Ucap Della.
"Cepat pindah dari sini! Aku mau duduk." Sambungnya.
"Memangnya tidak boleh aku duduk sama pacarku sebentar!" Ucapnya dengan tatapan serius.
Semua orang terkejut dengan perkataan Lendra yang menurut mereka tidak mungkin.
"Pacar!" Ucap serentak teman-teman kelas.
Teman-teman Sherlyn tertawa tidak percaya dengan omong kosong Lendra.
Tiba-tiba Dela memukul meja.
Brungk…..
"Nggak usah bual deh, Sherlyn mana mau sama orang playboy kaya elu." Ucap Della dengan sorot mata yang tajam.
"Kalau nggak percaya, tanya langsung aja sama orangnya." Ucapnya dengan santai merangkul Sherlyn.
"Bagaimana sayang, apa aku berbohong!"
Sherlyn diam…
"Jangan mimpi Sherlyn aja diam!" Ucap Neta menarik tangan Lendra.
"Katakan, kalau tidak aku akan memperlihatkan video itu pada mereka." Ucapnya berbisik di telinga Sherlyn.
Sherlyn yang takut, langsung melepaskan kedua tangannya menutupi wajahnya.
"Aku dan Lendra memang pacaran!" Ucapnya lantang membuat semua orang melongo dengan jawaban Sherlyn.
"Tidak mungkin kamu pasti bercanda kan Sherlyn." Ucap Della.
Lendra tiba-tiba mencium pipi Sherlyn, menunjukkan bawah memang mereka berdua sudah pacaran.
"Ini tidak mungkin kan." Ucap Jessi yang menyadarkan kepalanya di bahu Neta tidak sanggup melihatnya.
Sedangkan yang lain berdiri melongo, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Sherlyn sama sekali tidak marah dicium dengan Lendra. Sepertinya bumi sudah terbalik." Ucap Della yang kepanasan.
__ADS_1
Bersambung….