Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 40 Kediaman Rumah Tomo


__ADS_3

Di rumah kediaman keluarga besar Tomo.


Mobil yang menjemput Tio sudah kembali, memasuki pekarangan di dalam rumah.


Tio turun dari mobil, sambil melepaskan kacamatanya melihat rumahnya yang sudah lama ditinggalkannya.


Dia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumahnya dengan bersama ibunya berada di sampingnya, diikuti dengan pak sopir di belakang mereka, yang membawa koper Tio.


Di ruang tamu sudah ada Neneknya dan Sherly menunggu kepulangannya.


Sherlyn berlari menghampiri kakaknya itu.


"Akhirnya kakak pulang juga." Ucapnya memeluk Tino melepaskan kerinduannya tidak bertemu bertahun-tahun.


"Adik kecilku sudah tumbuh menjadi gadis cantik." Ucapnya mengusap kepala adiknya sambil tersenyum.


Sherlyn melepaskan pelukannya.


"Kakak membawakan hadiah untukku kan." Ucapnya meminta, memajukan tangannya didepan Tio


"Tentu saja!" 


Tio mengeluarkan kontak kecil berwarna hitam dari saku jasnya.


Dia memberikan kontak itu pada Sherly.


"Ini hadiahmu adik kecil."


Sherlyn membuka kontak itu, wajahnya tampak terkejut melihat pemberian kakaknya.


"Cincin berlian?" Ucapnya kaget melihat batu berlian yang cukup besar menempel di atas cincin.


"Hadiah mewah untuk adikku kecilku." Ucapnya menaikan kedua alisnya.


"Terima kasih kak." Ucapnya mencium pipi kakaknya.


Sherlyn langsung pergi ke kamarnya ingin menunjukkan kepada teman-teman cincin barunya itu.


Tio menghampiri Neneknya duduk di sofa.


Mereka berpelukan melepas kerinduan mereka masing-masing.


"Bagaimana kesehatan omah?"


"Omah sehat."


"Bagaimana denganmu, kamu makan teraturkan disana?"


"Bagaimana menurut Omah, apa aku terlihat tidak sehat." Ucapanya tersenyum, menunjukan tubuhnya sudah jauh berbeda dari yang dulu.


"Kamu mirip sekali dengan Ayahmu, Omah jadi teringat dengan ayahmu." Ucapnya meneteskan air mata.


Tio menghapus air mata neneknya.


"Nenek jangan sedih, aku juga ikut sedih."


"Maafkan Omah." Ucapnya tersenyum menghentikan air matanya keluar.


"Ngomong-ngomong aku dengar dari Ibu, Omah sudah menikahkan kak Arga. Apa itu benar?"


"Kapan Ibu menceritakannya." 

__ADS_1


"Tadi saat perjalan ke sini. Memangnya aku tidak boleh cerita pada anakku sendiri." Ucapnya dengan nada ketus, masuk ke percakapan Tio dan Neneknya.


..."Ibu… jangan bertengkar. Aku baru saja pulang loh."...


Ibunya langsung masuk ke dalam, tidak mau sampai dia terpancing emosi karena perkataan Mertua nya.


"Seperti itulah Ibumu, padahal Omah cuman bertanya malah marah-marah."


"Sudahlah, Ibu memang seperti itu."


"Omah belum menjawab pertanyaanku tadi." Sambungnya.


"Iya, Omah menjodohkan Arga dengan anak dari sahabat lama Ayahmu. Itu juga semua adalah wasiat Ayahmu sebelum meninggal."


"Wanita itu juga baik, jadi Omah tidak berpikir panjang untuk menikahkan nya dengan Arga." Sambungnya.


"Nanti kita ke rumah Arga, Omah akan memperkenalkanmu dengan kakak iparmu."


"Boleh, bagaimana kalau sebentar sore kita pergi rumah kakak, aku sudah lama tidak bertemu dengannya." 


"Omah setuju."


"Ayo kita makan dulu, Ibumu sudah memasak banyak makanan untukmu." 


Tino dan Neneknya pergi ke ruang makan untuk makan bersama menyambut kedatangan Tio.


Di meja makan, berbagai macam menu makanan sudah tersedia dia ata meja.


Ibu Tio sudah duduk disana lebih dulu, menunggu Tio dan mertua selesai bicara.


"Tio ayo duduk, kita makan sama-sama. Ibu sudah memasak semua makan ini untukmu."


"Kelihatannya semua makan ini terlihat enak sekali, membuat cacing diperutku memberontak ingin segerah melahap semuanya."


Tio tampak bersemangat menyedok nasi dan beberapa lauk yang tersedia.


Neneknya juga ikut duduk makan bersama, cuman Sherlyn yang tidak ikut makan bersama mereka.


Sherlyn sibuk dengan cicin barunya, dia menelpon teman-teman gengnya memberitahu kalau dia baru saja mendaptkan kado cicin berlian dari kakaknya.


Apa lagi Cincin yang dibeli Tio adalah barang dari luar Nengeri, Sherlyn semakin senang untuk menunjukkan kepada teman-teman Gengnya yang tidak memiliki cincin sepertinya.


Di sisi lain.


Clara yang bosan di apartemen pergi keluar jalan-jalan untuk menghilangkan stresnya setelah kehilangan calon bayi.


Dia keluar mengenakan baju dress ketat berwarna putih dengan tas berwarna coklat muda dan sepatu yang senada.


Clara keluar dari gedung apartemen.


Di depan gedung apartemen ada mobil mewah berwarna hitam sedang menunggunya.


Clara langsung masuk ke dalam mobil duduk di belakang.


Dia melepaskan kacamatanya meletakkan kacamatanya ke dalam tasnya.


"Hari ini kita mau ke mana Nona." Ucap supir menoleh ke belakang.


"Aku mau ke Mall, setelah itu antarkan aku ke rumah." Ucapnya dengan nada suara yang tegas tatapan mata tajam.


Dia kembali seperti Nona Muda dari keluarga Edvran yang dingin dan Angkuh.

__ADS_1


"Baik Nona." Ucap supir, menarik gas mobilnya meninggalkan gedung apartemen.


Siang hari….


Di perusahaan Arga.


Tampak Arga yang masuk ke dalam ruangannya setelah melakukan rapat dengan karyawannya tentang proyek yang akan mereka kerjakan di luar kota beberapa hari kedepan.


Arga duduk menyandarkan tubuhnya di kursinya.


Saat kepalanya pusing memikirkan pekerjaannya, dia melihat kotak bekal dan botol air minum yang diberikan Zanna di atas meja kerjanya.


Dia tiba-tiba memegang perutnya yang keroncongan karena belum makan seharian.


Arga mengambil kotak makan itu, mencicipi masakan Zanna.


Wajah Arga tampak sumringah setelah memasukan satu suapan ke dalam mulutnya.


Arga tampak menikmati rasa masakan Zanna yang bergelut di dalam lidahnya.


Ini kedua kalinya menikmati makan Zanna yang super-super nikmat.


Rasa masakan itu sesuai dengan seleranya mengembalikan mood nya yang hilang.


Arga menghabiskan semua isi kontak bekal itu sampai dia benar-benar kekenyangan menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Wanita itu sangat pandai memanjakan lidahku."


"Sepertinya aku mulai menyukainya." Ucapnya menarik senyuman kecil di wajahnya.


Arga sepertinya mulai perlahan-lahan menyukai Zanna karena ketelatenan nya sebagai seorang istrinya yang tidak dia dapat dari Clara.


Kebenciannya perlahan tergantikan dengan rasa nyaman yang tidak bisa dia rasakan pada Clara.


Rasa nyaman yang dia rasakan saat bersama Zanna sangat berbeda saat dia bersama Clara.


Di rumah Arga.


Tampak Niko dan Pak Darto yang sedangkan makan siang di teras belakang. Mereka duduk di sofa menikmati masakan Zanna.


 Niko yang menghabiskan makanannya lebih dulu, masuk membawa piringnya ke dapur.


Di dapur, dia bertemu dengan Zanna yang datang mengambil air es di kulkas.


Niko bertanya soalnya keinginan Zanna yang ingin pergi ke rumah ibunya.


"Nona Zanna."


"Iya, ada apa Niko?" Ucapnya berbalik sambil memegang gelas yang berisi dengan air es.


"Bagaimana, apa Nona jadi pergi ke rumah Ibu Nona?"


"Iya jadi."


"Kapan kita pergi Nona, biar saya bisa menyiapkan mobil lebih dulu." Ucapnya bersemangat.


"Sepertinya Mas Arga yang mau mengantarku, jadi kamu tidak perlu repot repot mengantarku." Ucapnya tersenyum.


"Oh Iya baguslah, Nona jadi punya waktu untuk berdua dengan Tuan." Ucapnya sedih, dan kecewa.


Niko pikir dia yang akan menemani Zanna, tapi ternyata Arga.

__ADS_1


Bersambung…..


__ADS_2