Satu Cinta Terbagi Dua

Satu Cinta Terbagi Dua
Episode 23 Siksaan dibalik jeruji Besi


__ADS_3

Kantor polisi.


Zanna dibawa masuk ke dalam kantor oleh kedua polisi itu. 


Mereka membawa Zanna ke sel tahanan khusus wanita, dimana di dalam sel itu ada  7 wanita berusia sekitar 40 tahun ke atas dengan kasus yang berbeda-beda.


Di bandingkan dengan ukuran tubuh Zanna yang mungil, mereka tampak mempunyai ukuran 2 kalipat nya dari tubuh Zanna.


Saat mereka melihat ada tahanan baru yang akan masuk, mereka berjejer di depan sel menatap Zanna dengan tatapan yang menakutkan.


Zanna berada diluar sel sudah ketakutan melihat mereka, apalagi jika dia sudah berada di dalam sel itu, mungkin Zanna menangis ketakutan.


Salah satu polisi membuka kunci sel dan salah satunya membuka kunci borgol Zanna.


Mereka mendorong Zanna masuk dalam sel, lalu kedua polisi itu meninggalkan sel.


Zanna masuk duduk di pojokan sel dengan raut wajah yang ketakutan sambil merangkul kedua lututnya.


Wanita tertua atau bisa dibilang wanita yang memegang kuasa di dalam sel itu mendekati Zanna.


Dia membungkuk menarik rambut Zanna sampai tubuh Zanna ikut terangkat ke atas.


"Penghuni baru, siapa namamu?" Ucap wanita itu tersenyum.


Zanna menahan tangan wanita menarik rambutnya dengan raut wajah yang kesakitan.


"A-k-u Zanna." Ucapnya gagap.


Wanita itu mencengkram mulut  Zanna dengan tangan satunya.


"Wanita secantik dirimu kenapa bisa masuk kesini?"


"Kamu mencuri atau membunuh siapa sampai terdampar kesini."  Ucapnya dengan tatapan tajam.


"Aku tidak mencuri ataupun membunuh siapapun."


"Kalian dengan apa yang dikatakan ini." Ucapnya berbalik menoleh ke belakang


Para wanita tertawa bersamaan dengan jawaban Zanna.


"Mana ada orang yang tidak berbuat kejahatan bisa masuk ke penjara." Ucapnya, tertawa.


"Jangan bohong." Ucap wanita itu semakin keras menarik rambut Zanna.


"Aku tidak berbohong." Ucapnya tegas menatap wanita itu.


Zanna menahan sakit yang luar bisa, tenaga wanita itu benar-benar kuat sampai membuat beberapa rambut Zanna rontok berjatuhan ke lantai.


Wanita itu mendorong tubuh Zanna ke lantai sampai kepala Zanna terbentur ke lantai.


Brungk!!!


Zanna mengangkat kepalanya dengan rambut panjang yang menutupi setengah dari wajahnya.


Wanita itu lagi-langi menarik rambut Zanna dari belakang.


Zanna menjerit kesakitan menahan sakitnya tarikan wanita itu.


"Cobaan apa yang kau berikan padaku Tuhan." Batinnya.


Zanna mempertanyakan cobaan apa yang sedang dia lewati, setiap harinya dia selalu dihadapkan dengan tangisan, amarah, kecewaan, luka hati yang setiap harinya bertambah.

__ADS_1


Dia selalu bertanya kapan semua penderitaannya ini selesai. 


Di sisi lain Arga duduk di ruang kerjanya sambil berbicara ditelpon dengan pengacaranya untuk mengurus semua laporan Zanna di kepolisian.


Dia meminta pengacaranya agar Zanna tidak bisa lolos dari jeratan hukum bagaimanapun caranya, bukan hanya itu ternyata Arga menyogok penjaga lapas agar menyuruh para penghuni lapas menyiksa Zanna sepanjang hari.


Dia ingin Zanna merasa penderitaan yang amat-amat menyakitkan karena dia sudah menghilangkan nyawa calon bayi yang dikandung Clara. 


Arga masih punya alasan lain kenapa dia begitu kejam pada Zanna, karena dia pikir Zanna dan Niko telah bermain gila di belakangnya.


Di tengah terik matahari yang panas Niko berjalan kaki di pinggir jalan, memikirkan dirinya sudah keluar dari pekerjaan sebagai supir pribadi Arga. Dia terlihat sangat murung.


Dia tidak akan bisa bertemu lagi dengan Zanna nantinya.


Tapi pikirannya saat ini buka cuman itu, dia harus berpikir bagaimana caranya mengeluarkan Zanna dari penjara dan mencari bukti bahwa Zanna tidak bersalah.


Niko berpikir keras siapa yang bisa membantu Zanna selain dirinya, yang punya kekuatan besar untuk melawan Arga.


Niko teringat dengan salah satu anggota keluarga yang selalu mendukung Zanna, siapa lagi kalau bukan Nenek Arga.


"Satu-satunya harapan yang bisa bantu Nona Zanna, hanyalah Nyonya besar."


Niko tidak mau terlalu lama berpikir, dia langsung menghentikan taksi di jalan pergi ke kediaman keluarga Tomo.


Sesampainya disana Niko berdiri didepan pintu gerbang besar.


Sebelum masuk dia sudah mempersiapkan dirinya akan mendapat omelan dari Nenek Arga karena dia sudah berbohong.


Dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya tapi apa boleh buat tidak ada jalan lain untuk membantu Zanna.


Niko tidak punya uang sebanyak Arga dan dia tidak punya kuasa sepertinya, maka dari itu Nenek Arga lah bisa membantu Zanna.


"Niko, kamu kok jalan kaki?" 


"Apa Nyonya besar ada di rumah?"


"Ada, tapi kenapa kamu jalan kaki. Bisanya juga naik mobil Tuan Arga." 


"Aku sudah tidak bekerja lagi pada Tuan Arga, aku duluan." Ucapnya pergi.


"Apa aku tidak salah dengar, padahal Niko sudah  dianggap seperti keluarga." 


Niko berdiri depan pintu mengetok-ngetok pintu.


Tok…


Tok…


Tok…


Sherlyn yang duduk di meja makan sedang menikmati kue coklat buatannya menghentikannya menyendok kuenya.


"Bi asri, ada orang. Cepat bukakan pintu." Teriak nya 


"Iya Nona." Ucap Bi Asri berlari keluar dari dapur.


Bi Asri membuka pintu…


"Niko…" Ucapnya terkejut.


"Aku ingin bertemu dengan Nyonya besar, ada hal penting yang harus aku sampaikan." 

__ADS_1


"Oh, iya masuk dulu. Biarkan aku panggil Nyonya besar." 


Niko masuk ke dalam duduk disofa sambil menunggu Bi Asri pergi memberitahu kedatangannya pada Nenek Arga.


Sherly yang melihat bi Asri kembali bertanya siapa yang datang.


"Bi, siapa?"


"Itu Nona, ada Niko di depan. Katanya dia ingin bertemu dengan Nyonya besar."


"Untuk apa dia mau bertemu dengan Omah?"


Bi Asri naik pergi ke kamar Nenek Arga.


Tok…


Tok..


Tok..


Bi Asri mengetok-ngetok pintu.


Nenek Arga yang berbaring ditempat tidur, beranjak berdiri. Tidak lupa dia mengambil kaca matanya yang ada disamping meja tempat tidur.


Nenek Arga membuka pintu.


"Ada apa Bi?" Ucapnya datar.


"Nyonya ada Niko didepan, dia ingin bertemu dengan Nyonya. Katanya ada hal penting yang mau dia sampaikan." 


"Niko? Apa dia datang sendiri?" 


"Iya Nyonya dia datang sendiri, sekarang dia ada didepan."


"Hal penting apa yang dia maksud?" Batinya.


Nenek Arga menutup pintu kamarnya pergi menemui Niko.


Melihat Nenek Arga muncul, Niko berdiri dari tempat duduknya pergi menghampiri Nenek Arga.


Niko meraih tangan Nenek Arga mencium tangan Nenek Arga.


"Bagaimana kabar Nyonya besar." Ucap Niko.


"Allhamdulilah kesehatanku baik-baik saja." Ucapnya tersenyum.


"Ada hal penting apa yang kamu mau sampaikan?" 


"Tapi sebaiknya kita duduk, setelah itu baru kamu jelaskan hal penting apa yang kamu maksud itu." Sambungnya.


Niko dan Nenek Arga beranjak duduk dengan posisi yang berhadapan cuman di halangi dengan meja kaca yang panjang.


"Sebenarnya ini mungkin akan membuat Nyonya besar kaget mendegarnya, tapi aku tidak punya pilihan selain memberitahu Nyonya." Ucapnya sedkit takut.


"Apa yang kamu bicarakan, jangan membuat aku berpikir keras. Umurku susah tua, aku sudah tidak bisa berpikir keras sepertimu. Langsung saja katakan apa yang kamu mau sampaikan."


"Nona Zanna sekarang ada dipenjara."


"Apa, Penjara?"  Ucapnya terkejut.


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2