
Hampir 5 menit Zanna duduk menunggu Clara sadar di samping brankar.
Clara belum juga sadar-sadar.
Tiba-tiba pintu ruangan mereka terbuka ternyata itu adalah Arga.
"Mas Arga." Ucapnya berdiri menghampiri Arga
"Bagaimana kondisinya?" Ucapan khawatir.
Zanna menarik tangan Arga keluar dari ruangan.
"Ada apa? Kenapa kamu menarikku keluar?"
Zanna terdiam, tidak tau mau bicara dari mana.
"Ada apa? kamu jangan diam. Aku tidak mengerti kalau kamu diam seperti." Ucapnya marah.
"Aku tidak tega Mas bicara didalam, aku takut nanti Mbak Clara dengar."
"Apa maksudmu?" Ucapnya dengan tatapan bingung.
"Mbak Clara keguguran Mas." Ucapnya kepala yang tertunduk sedih.
"Tidak mungkin kamu pasti bohongkan." Ucapnya mencengkram kedua lengan Zanna.
"Aku tidak bohong Mas, Mbak Clara kehilangan bayinya." Ucapnya dengan raut wajah yang kesakitan.
"Bagaimana bisa Clara jatuh dari tangga." Ucapnya melepaskan kedua tangannya dari Zanna.
"Aku juga tidak tau mas, tapi saat aku mau turun dari tangga. Mbak Clara muncul dari samping dengan tubuh yang tidak seimbang, dia terjatuh terguling-guling ke tangga."
Arga berbalik ke belakang menghantamkan tangannya ke tembok.
Arga menundukkan kepalanya sedih mengetahui anaknya dan Clara sudah tidak ada.
__ADS_1
Padahal Arga sangat mengharapkan anak itu.
Zanna menghampiri Arga mencoba menenangkan Arga yang terpukul.
"Mas kita harus kuat, Mbak Clara pasti paling terpukul. Kalau kita juga terlarut dalam kesedihan nanti siapa yang akan menguatkan Mbak Clara."
"Yang dikatakannya ada benarnya juga. Aku tidak bisa terus bersedih." Batinnya
"Sebaiknya kita masuk ke dalam menemani Mbak Clara." Ucapnya menarik tangan Arga.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan, tapi tiba-tiba langkah mereka terhenti di depan pintu melihat Clara yang sudah sadar.
"Sayang bayi kita baik-baik saja kan." Ucapnya sambil memegang perutnya.
"Aku rasa perutku ada aneh, aku tidak bisa merasakan bayi kita lagi." Sambungnya.
Arga perlahan masuk ke dalam duduk disamping Clara sambil memegang kedua tangan Clara.
"Kamu harus kuat Clara, bayi kita sudah tidak bersama kita lagi."
"Apa maksudmu sayang." Ucapnya kaget.
"Ini tidak mungkin, bayiku baik-baik saja. Aku tidak percaya padamu." Ucapnya menangis memegang perutnya.
Zanna masuk menghampiri Clara mau menguatkan Clara yang terpukul.
"Pergi kamu dari sini!" Teriak Clara marah.
Arga dan Zanna tampak kebingungan.
"Sayang kamu harus tenang. Ini semua sudah kehendak Tuhan."
"Suruh dia pergi Arga, aku tidak mau melihat wajahnya!" Ucap Clara marah menatap Arga.
Zanna kebingungan, dia tidak tau kenapa Clara tiba-tiba marah padanya.
__ADS_1
Arga pun juga tampak heran.
"Pergi dari sini kamu wanita sialan." Teriaknya marah.
"Kenapa kamu mengusirnya, dia yang menolongmu sayang."
"Dia tidak menolongku Mas wanita ini sengaja mendorong dari atas." Ucapnya marah menatap Arga.
"Apa!"
Arga kaget mendengar perkataan Clara.
"Dia membunuh anak kita." Ucapnya menangis.
"Aku tau kamu pasti iri kan padaku karena Arga mencintaiku dan aku mengandung anak Arga. Sedangkan kamu tidak punya kesempatan itu, itu sebabnya kamu ingin aku keguguran." Ucapnya menangis dengan raut wajah yang marah.
"Yang dikatakan Mbak Clara itu bohong Mas, aku tidak pernah mendorongnya."
"Dasar wanita pembohong!" Ucap Arga menampar Zanna.
Plank !!!
Plank !!!
Plank !!!
Tamparan keras mendarat di pipi Zanna, matanya berkaca-kaca melihat wajah Arga yang marah besar padanya. Padahal dia bahkan tidak pernah berpikir akan melukai Clara ataupun anak yang dikandung Clara.
"Wanita tidak tau diuntung, aku sudah bersikap baik padamu. Tapi kamu membunuh anakku." Ucapnya marah mencengkik leher Zanna mendorong tubuhnya ke tembok.
"Kamu salah paham Mas." Ucapnya suara yang terputus-putus dengan raut wajah kesakitan.
"Aku akan membunuhmu wanita sialan." Ucapnya memperkuat cengkraman tangannya.
"Lepaskan Mas, aku tidak bisa bernafas." Ucapnya berusaha melepaskan tangan Arga dari lehernya, tapi tenaganya tidak bisa mengalahkan tenaga Arga yang sangat kuat.
__ADS_1
Pupil mata Zanna membesar dengan nafas yang sudah hampir habis.
Bersambung….