
Tampak Arga yang duduk di sofa dengan tatapan mata yang kosong.
Dia tiba-tiba teringat dengan Zanna.
"Bagaimana keadaannya yah, aku kemarin meninggalkannya begitu saja. Padahal aku sudah janji padanya akan menemani di rumah sakit." Batinnnya.
Arga sangat gelisah memikirkan keadaan Zanna.
"Apa aku ke rumah sakit saja." Batinnya.
Arga menoleh ke samping melihat Clara yang sudah tertidur pulas.
Melihat Clara yang tidur nyenyak Arga mengambil kesempatan ini agar dia bisa pergi melihat Zanna di rumah sakit.
Selagi Clara tidur, Clara tidak akan tau kalau Arga pergi menemui Zanna.
Arga pun memutuskan untuk pergi dan meninggalkan kamar Clara.
Dia keluar mengendap-ngendap, tidak mau sampai Clara terbangun.
Sesampai di rumah sakit Arga muncul dengan membawa buket bunga krisan berwarna putih di tangan kanannya dan di tangan kirinya membawa kantong putih yang berisi buah-buahan segar.
Di tengah perjalan menuju ke rumah sakit Arga singgah membeli buket bunga dan buah untuk Zanna sebagai tanda permintaan maafnya karena sudah pergi semalam.
Arga berdiri di depan pintu sebentar menarik nafas panjang, lalu membuka pintu dengan sedikit senyuman di wajahnya.
Saat dia membuka pintu alangkah terkejutnya, kamar Zanna sudah kosong.
"Kenapa kamarnya kosong?"
Arga heran melihat kamar itu sudah kosong, tidak ada Zanna dan Niko di dalam.
"Kamarnya sudah rapi, berarti Zanna sudah keluar dari rumah sakit."
Tiba-tiba ada suster yang muncul di depan pintu.
Suster itu adalah suster yang melepaskan selang Infus Zanna tadi pagi.
Saat dia keluar dari kamar sebelah, dia melihat Arga yang masuk ke sini.
Dia berniat memberitahu Arga kalau Zanna sudah pulang dari tadi pagi.
"Tuan pasien yang dirawat disini sudah pulang." Ucapnya berdiri didepan pintu.
Arga sontak berbalik belakang.
"Kapan dia keluar?"
"Sejak tadi pagi Tuan, kira-kira mungkin sekitar jam 10 pagi."
Arga tiba-tiba teringat kalau dia belum menyelesaikan biaya administrasi rumah sakit saat membawa Zanna masuk.
"Kalau boleh tau siapa yang menyelesaikan biaya administrasinya?"
"Pria yang menemani pasien, kalau tidak salah namanya Niko Tuan."
Mengetahui itu Arga tidak terlalu terkejut, pasalnya, dia meninggalkan Zanna bersama Niko.
"Oh, Iya terima kasih suster."
"Iya sama-sama Tuan."
__ADS_1
Suster itu berbalik pergi meninggal kamar Zanna.
Arga masih berdiri dalam kamar memikirkan sesuatu, entah apa yang sedang dia pikirkan.
Bisa jadi Arga mulai memikirkan Zanna dalam pikirannya sekarang.
Disisi lain.
Di rumah Arga.
Zanna yang baru sampai duduk di sofa tengah sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Niko juga ikut masuk ke ruangan tengah.
Melihat Zanna yang kecapekan, Niko pergi ke dapur mengambil segelas air putih untuk Zanna.
Niko berdiri di depan Zanna yang memejamkan kedua matanya tidak tau kalau Niko sekarang berada di hadapannya memegang segelas air putih.
"Nona pasti capek, ayo minum dulu." Ucapnya menyodorkan gelas yabg dia pengang.
Zanna membuka kedua matanya, kaget melihat Niko yang ada di depannya.
Membuatnya terdiam melihat Niko beberapa detik, Zanna langsung mengedipkan kedua matanya lalu mengambil gelas itu dari tangan Niko.
"Terima kasih." Ucapnya tersenyum.
Zanna meminum air pemberian Niko sampai habis, Zanna tampak sangat lelah setelah kejadiaan tadi yang cukup menguras banyak tenaganya.
Melihat Niko yang terus berdiri, Zanna menyuruh Niko duduk.
"Duduk saja, kamu tidak perlu sungkan."
Karena Zanna sudah menyuruhnya duduk, Niko pun mengikuti perkataan Zanna.
Mereka duduk disana hampir 20 menit tanpa berbicara apa-apa.
Zanna terlalu capek dan pusing, tenaganya bahkan belum 100 persen kembali seperti semula.
Dia berbaring sofa sampai ketiduran karena kelelahan.
Niko duduk memperhatikan Zanna, sampai suatu ketika Zanna yang tidur pulas menyandarkan tubuhnya ke sofa mau terjatuh ke samping.
Niko sontak berlari menahan tubuh Zanna.
Brungk…
Zanna jatuh dipelukan Niko,
Walaupun Zanna terjatuh, dia tidak akan terjatuh ke lantai, dia akan terjatuh di atas sofa.
Tapi Niko tidak mau sampai Zanna terbangun, dia tega melihatnya.
Niko meletakkan kepala Zanna di pangkuannya, saat dia memalingkan wajahnya ke samping.
Tiba-tiba Nyonya Elina alias Nenek Arga muncul.
Nenek Arga berdiri menatap Niko dari arah samping sofa.
Wajah Niko tampak tegang, dia bingung harus bangun atau harus duduk membiarkan Zanna berbaring di pangkuannya.
Melihat sorot mata Nenek Arga yang mencengkam, Niko menurunkan kepala Zanna ke sofa.
__ADS_1
Dia beranjak berdiri dari sofa.
"Nyonya besar kapan datang." Ucapnya sedikit gugup.
"Baru saja." Ucapnya datar.
"Kenapa Zanna bisa berbaring di pangkuanmu?" Ucapnya dengan nada tajam.
"Maaf Nyonya, aku tidak punya maksud apa-apa dengan Nona Zanna. Aku hanya membantunya saja karena dia tadi hampir jatuh karena ketiduran Nyonya."
"Ke mana Arga? Seharusnya dia yang ada disamping Istrinya sekarang, bukan kamu!" Ucapnya datar menatap Niko dengan tajam.
Perkataan Nenek Arga membuat hati Niko seperti tertusuk-tusuk.
"Panggilkan Arga kesini, kenapa bisa laki-laki lain mengurus istrinya."
Nenek Arga kembali melontarkan kalimat pedas untuk sindiran Niko, bahwa dia harus sadar kalau Zanna itu istri Arga bukan istrinya.
"Tuan Arga tidak ada disini Nyonya."
"Kenapa bisa dia tidak ada, kemana dia pergi sore-sore begini meninggalkan istrinya masih sakit."
"Tuan Arga meninggalkan Nona Zanna sejak kemarin malam Nyonya."
"Apa?" Ucapnya kaget.
"Benar Nyonya sejak Tuan Arga mendapatkan telepon dari seseorang Tuan Arga pergi begitu saja meninggalkan kamar Nona."
"Apa Arga tidak bilang sesuatu padamu dia mau kemana?"
"Tidak Nyonya."
"Jangan-jangan dia pergi menemui pelakor itu." Ucapnya dengan penuh amarah.
Niko tidak memberitahu semuanya pada Neneknya Arga.
Disisi lain.
Arga kembali ke kamar Clara membawa buket bunga dan buah yang dibelinya untuk Zanna.
Dia datang saat Clara masih tertidur pulas.
Clara tidur cukup lama mungkin sudah ada tiga jam dia tertidur.
Clara tidur begitu nyenyak karena dia habis minum obat yang punya efek samping membuat Clara mengantuk.
Arga meletak buket bunga dan kantong buah itu diatas meja.
Dia lalu duduk kembali sofa.
Wajah Arga tampak suntuk, dia masih memikirkan Niko dan Zanna.
"Apa Niko apa benar-benar punya hati pada Zanna?" Ucapnya bertanya-tanya.
Kepalanya sekarang dipenuhi dengan pertanyaan tentang Zanna dan Niko.
Apa yang terjadi dengan mereka berdua.
Apakah Zanna juga punya perasaan dengan Niko.
Semua pertanyaan itu terus berputar-putar di dalam kepalanya.
__ADS_1
Sampai membuat kepalanya sakit.
Bersambung….