
Di kediaman Rumah Arga.
Mobil Arga memasuki pekarangan rumah.
Zanna turun lebih dulu, susul dengan Arga yang ikut keluar dan Clara masih di dalam.
Clara tiba tiba berteriak memanggil Arga.
"Sayang!"
Arga sontak menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa kamu masih di mobil."
"Sayang kepalaku pusing, aku tidak kuat berdiri."
"Gendong." Sambungnya.
Arga melirik ke arah Zanna.
"Sayang apa yang kamu tunggu, cepat kesini."
Clara mulai marah, melihat Arga yang tidak mendengarkan.
"Sayang!" Teriaknya marah.
Zanna berbalik pergi, masuk ke dalam lebih dulu tanpa mengatakan apa-apa.
Karena Zanna yang tidak mau hati sakit melihat mereka berdua, memutuskan untuk pergi.
Arga mengejar Zanna yang masuk, menarik tangan Zanna.
"Tunggu!"
"Ada apa Mas?" Ucapnya berbalik.
"Bisakah kamu membuatkanku kopi, dan bawakan ke kamarku."
"Iya, aku membuatkannya sekarang." Ucapnya tersenyum melepaskan tangan Arga.
Dia langsung pergi ke dapur membuatkan permintaan suaminya.
Arga kembali ke depan menjemput Clara, membuka pintu mobil.
Wajah Clara terlihat cemberut, kesal melihat Arga yang masuk mengejar Zanna.
"Kamu lebih memilih mengejar istri pertama mu dibanding aku."
"Bukan seperti itu!"
"Terus maksudnya apa?"
"Aku meminta nya membuatku kopi, karena aku harus begadang membaca data proyek."
"Kalau mau, tinggal mobil silahkan. Aku akan masuk." Ucapnya membalikan badannya.
"Tunggu…"
"Aku mau ikut."
Dia berbalik menggendong Clara, membawa nya masuk ke dalam rumah sampai ke kamar mereka.
Arga membaringkan Clara di tempat tidurnya, saat dia mau melepaskan tangannya. Clara merangkul leher Arga.
Menarik tubuh Arga perlahan-lahan sampai kedua bibir mereka bertemu.
Tangan Arga mulai tangan berjalan di tubuh Clara.
Seettt….
Sampai tiba suara dorongan pintu terbuka, Arga sontak menghentikannya.
Dia langsung bangun dari atas tubuh Clara, berbalik ke belakang.
__ADS_1
Di depan pintu ada Zanna yang berdiri memegang segelas kopi panas yang diminta Arga.
Arga lupa kalau dia meminta Zanna untuk membawakan nya kopi ke kamar.
Dengan wajah datar dan mata yang tertunduk ke bawah, Zanna melangkahkan kakinya masuk, meletakan kopi itu diatas meja.
Dia langsung berbalik pergi menutup pintu kamar mereka.
Zanna meletakkan nampan itu di dadanya, dengan air matanya yang berjatuhan.
"Kenapa Mas Arga menyuruhku ke kamarnya! Apa dia sengaja ingin menunjukkan kemesraan mereka padaku." Ucapnya menangis, menundukkan kepalanya berjalan meninggalkan kamar Arga.
"Apa mas Arga tidak pernah berpikir, bagaimana dengan perasaanku." Bantinnya.
Hatinya sesak melihat Arga yang menunjukkan kemesraannya di depannya.
Di dalam kamar, Arga tidak enak dengan Zanna keluar dari kamarnya.
Tapi Clara menghentikanya memeluknya dari belakang.
"Tidak perlu dikejar sayang."
Arga melepaskan pelukkan Clara, memutuskan untuk keluar mengejar Zanna.
"Dia mulai memikirkan perasaan wanita itu!" Ucapnya marah.
"Aku tidak membiarkannya." Ucapnya mengepal tanganya berbalik ke tempat tidur.
Sedangkan Arga berjalan dengan cepat menuruni tangga pergi ke dapur mencari Zanna.
Saat dia sampai di dapur dia tidak menemukan Zanna disana, hanya ada Bi Astri yang sedang membersihkan dapur.
"Apa Bibi melihat Zanna."
"Tadi Nona hanya mengembalikan Nampan, setelah itu dia pergi. Mungkin Nona ada di kamarnya."
Arga langsung berbalik pergi kembali ke lantai dua.
Arga berdiri didepan kamar Zanna, dia perlahan-lahan membuka pintu kamar Zanna.
"Dia pergi kemana?"
Arga berbalik meninggalkan kamar Zanna, dia kembali turun ke lantai bawah mencari Zanna seluruh pelosok rumah.
Saat dia melewati dinding kaca yang memperlihatkan kolam renang disamping rumah.
Dia melihat Zanna yang duduk di kolam renang seorang diri.
Arga pun langsung pergi ke kolam renang.
Dia berjalan dengan perlahan mendekati Zanna yang duduk sambil merendam kakinya di dalam air.
Arga jongkok di samping Zanna.
"Kamu disini!"
Zanna menoleh dengang raut wajahnya kaget melihat Arga ada disampingnya.
"Mas Arga?"
"Kenapa Mas Arga disini?"
"Aku mencarimu."
Zanna mengerutkan dahinya mendengar Arga mencarinya, itu sebuah keanehan baginya.
"Mencariku? Ada apa Mas?"
Arga bingung harus berbicara seperti apa, agar Zanna tidak tersinggung dengan perkataannya.
"Aku tidak bermaksud melakukan itu di depanmu. Aku minta maaf, semoga kamu paham yang aku katakan." Ucapnya beranjak berdiri meninggalkan Zanna.
Wajah Zanna yang tadinya sedih, seketika berubah mendengar Arga mengucapkan kata maaf padanya.
__ADS_1
Ini sebuah momen langkah, Arga sebelumnya tidak pernah melontarkan kata itu padanya walaupun Arga sering berbuat salah padanya.
Di kediaman Rumah Tomo.
Sebuah Mobil Mercedes Benz A-Class Sedan berwarna silver berhenti di depan pagar rumah.
Seorang wanita yang berjalan sempoyongan keluar dari mobil itu.
Wanita itu adalah Sherlyn.
Sherlyn tampak kelihatan seperti orang yang mabuk.
Mobil itu pergi setelah mengantarkan Sherlyn.
Sherlyn berdiri di depan pagar sambil membunyikan gembok pagar yang sudah terkunci.
Suara bunyi gembok itu membuat Pak Darto yang ketiduran di Pos jadi kebangun kaget.
"Siapa datang bertamu tengah malam seperti ini." Ucapnya sambil jam tangannya yang menunjukkan pukul 01:00.
Suara bunyi gembok semakin keras, Pak Darto yang kesal keluar dari Pos.
Saat dia melihat Sherly dibalik pagar, Pak Darto langsung buru-buru membuka pintu gerbang.
"Nona Sherlyn." Ucapnya kaget membuka pintu pagar.
Sherlyn berjalan masuk dengan tubuhnya sempoyongan.
Pak Darto yang melihat Sherly hampir terjatuh, langsung berlari menopang nya.
Dia membantu Sherlyn sampai ke depan pintu.
Tok….
Tok…
Tok….
Saat Pak Darto mengetuk-ngetuk pintu, kebetulan Tio turun kebawah untuk mengambil air minum.
Dia langsung pergi ke depan karena mendengar ada suara ketukan pintu.
Pak Darto kaget melihat Tio yang membukakan pintu, dia pikir Bi Darti yang akan membuka pintu.
Karena bisanya Bi Darti yang akan membuk pintu dan membawa Nona Sherlyn tanpa sepengetahuan Nyonya besar.
Tio kaget melihat adiknya masih sma pulang di jam 1 malam dan adiknya dalam keadaan mabuk berat.
Dia bisa mencium bau alkohol yang menyengat dari Sherlyn.
"Siapa yang mengantarnya pulang?" Ucapnya dengan tatapan dingin
"Saya tidak tau Tuan, saat saya mau membuka pagar Nona Sherly sudah berdiri didepan gerbang dengan keadaan seperti ini."
Pak Darto menyerahkan Sherlyn pada Tio.
Dan Tio menuntup pintu setelah Pak Darto pergi, membawa adiknya naik ke atas dengan mengendongnya.
Dia Sherlyn ke kamar adiknya, membaringkan di tempat tidur.
Tio juga melepaskan kedua sepatu Sherlyn, meletakkannya di lantai.
Dia juga menarik selimut menutupi tubuh Sherlyn.
"Anak ini bilang mau pergi belanja bersama teman-temannya tapi dia malah mabuk-mabukan." Ucapnya marah melihat adiknya perempuannya masih kecil sudah bermain dengan alkohol.
Padahal dia saja sebagai laki-laki tidak pernah menyentuh alkohol di umur segitu.
Dia minum Alkohol saat dia tinggal di Amerika, itu pertama kalinya minum.
"Karena aku sudah disini, kakak akan menjagamu." Ucapnya melihat wajah polos adiknya.
__ADS_1
Dia tidak mau adiknya nanti salah jalan dan pada akhirnya akan membuat nya menyesal.
Bersambung…..