
Di rumah sakit.
Arga sedang duduk sofa sambil mengupas beberapa buah untuk Clara.
Dari atas tempat tidurnya Clara bisa melihat betapa telatennya Arga mengupas kulit buah.
Setelah semua buah dikupas Arga meletakkannya di piring dan membawakan buah itu ke Clara.
Dia duduk di samping Clara sambil menyuapkan Clara buah-buah yang sudah di potong-potong kecil mengunakan garpu buah kecil plastik.
"Apa Zanna sudah keluar dari penjara?"
Clara membuka oboral dengan membahas tentang kebebasan Zanna.
"Memang kenapa kamu bertanya seperti itu." Ucapnya dengan tatapan yang serius.
Arga sontak meletakan garpu yang dia pegang di atas piring.
"Tidak apa-apa aku cuman ingin tahu saja." Ucapnya sambil tersenyum.
Arga diam…
"Tenang saja aku tidak akan marah-marah kok, aku sudah sadar, kalau aku yang sebenarnya salah disini. Aku minta maaf karena kebodohanku, kita kehilangan calon bayi kita." Ucapnya pura-pura sedih didepan Arga.
Clara tidak benar-benar mengakui kesalahannya di depan Arga, itu semua dia lakukan hanya untuk menarik kepercayaan Arga dan mengetahui apa yang terjadi kemarin.
"Baguslah kalau kamu sudah sadar." Ucapnya tersenyum mengambil garpu dan menyuapkan buah lagi untuk Clara.
"Sudah aku tidak mau makan buah lagi."
"Ayo kamu harus makan, kalau begini kamu tidak akan bisa cepat sembuh."
"Kamu tadi belum menjawab pertanyaanku, apa Zanna sudah keluar dari penjara?"
Arga menaruh piring buah di atas meja.
"Iya, aku sudah mencabut laporanku kemarin." Ucapnya dengan tatapan yang serius.
"Terus dia di mana sekarang?" Ucapnya penasaran.
Arga jadi teringat dengan Zanna, dia meninggalkannya begitu saja di rumah sakit.
__ADS_1
"Dia ada di rumah sakit."
"Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa ada rumah sakit?" Ucapnya penasaran.
"Dia dipukuli dengan tahanan lain di dalam sel. Saat aku menjemputnya wajahnya sudah dipenuhi dengan luka lebam dan beberapa luka lebam di badannya." Ucapnya dengan raut wajah yang bersalah.
"Kenapa dia bisa dipukuli padahal dia baru saja masuk." Ucapnya bingung.
Clara yang tidak tau soal mengenai penyiksaan yang dialami Zanna di dalam penjara.
Dia juga bahkan tidak tau kalau Arga lah yang melakukan semua itu.
"Aku juga tidak tahu." Ucapnya memalingkan wajahnya mengambil piring buah.
"Sudah jangan bahas dia lagi, lebih baik kamu habis buah yang sudah dipotong-potong ini." Ucapnya menusuk potongan buah pir, menyuapkan Clara.
Mengetahui Zanna yang disiksa di penjara membuat hatinya semakin bahagia.
Dengan begitu Arga ternyata lebih peduli dengannya, karena Arga meninggalkan Zanna dan memilih untuk duduk disini menemaninya.
"Bagaimana kondisi wanita itu sekarang." Ucapnya bertanya-tanya didalam hatinya.
Arga seperti merasa sangat bersalah telah meninggalkan Zanna kemarin malam.
Di rumah sakit Medika.
Nenek Arga datang kesana tanpa memberitahu siapa-siapa, dia pergi bersama supir pribadinya sambil membawa buah-buahan segar yang baru saja dibelinya untuk menjenguk menantunya.
Dia tidak tahu kalau Zanna ternyata sudah pulang hari ini.
Saat Nenek Arga masuk ke kamar nomor 6, dimana Zanna seharusnya dirawat di sana, tapi Zanna sudah tidak ada di ruangan itu.
Kamar itu tampak sudah rapi dan bersih, Nenek Arga yang bingung ke mana perginya cucu dan menantu, langsung menelpon Arga untuk mencari tahu apakah Zanna sudah pulang atau dipindahkan di ruangan lain.
Tapi sayangnya nomor cucunya tidak bisa dihubungi.
“Kenapa nomornya tidak aktif.” Ucapnya kesal.
Karena nomor Arga tidak bisa dihubungi, jadi Nenek Arga menghubungi nomor Niko.
Tampak Niko yang sedang mengendarai mobil setelah pulang dari supermarket.
__ADS_1
Setelah penjahat itu diamankan oleh polisi mereka berdua langsung pulang, karena kondisi Zanna juga baru keluar dari rumah sakit dan tidak ada lagi harus lakukan disana.
Tiba-tiba Hp Niko berdering.
Melihat Niko yang fokus menyetir mobil, Zanna berinisiatif untuk menawarkan bantuan.
“Biar aku saja, kamu fokus saja ke depan.”
“Apa aku tidak merepotkan Nona?"
“Sama sekali tidak merepotkan koh.” ucapnya tersenyum sambil mengambil Hp Niko yang ada di dalam jasnya.
“Omah?” Ucapnya kaget melihat layar panggilan.
“Nona tolong angkat teleponnya.”
Zanna mengangkat panggilan Nenek Arga.
Telepon Nenek Arga tersambung ke Earphone yang pakai Niko di telinga sebelah kirinya, jadi Zanna tidak perlu repot-repot memegangkan hp Niko.
“Hallo Nyonya besar.” Ucapnya fokus menyetir.
“Kemana Arga dan Zanna pergi, kenapa mereka tidak ada kamarnya?”
“Nyonya sekarang ada di rumah sakit?”
“Iya aku ada di rumah sakit, tadi omah telepon Arga tapi nomornya tidak aktif. Kalian sebenarnya pergi kemana?”
“Maaf Nyonya, kami sekarang lagi diperjalanan pulang. Nona Zanna sudah diperbolehkan pulang sama Dokter.”
“Iya sudah kalau begitu kita bertemu di rumah saja.” Ucapnya mematikan teleponnya.
“Apa yang dikata Omah?” Ucap Zanna penasaran.
“Nyoya besar ada di rumah sakit, tapi saya sudah memberitahunya kalau Nona sudah diperbolehkan pulang dan kita sedang di perjalanan pulang ke rumah."
"Lalu apa lagi?"
"Katanya Nyonya, dia akan menyusul ke rumah."
"Seharusnya tadi aku kabari Omah sebelum pulang, jadi dia tidak perlu sampai datang ke rumah sakit." Ucapnya merasa berasalah.
__ADS_1
"Nona juga kan tidak tau kalau Nyonya besar akan datang lagi menjenguk Nona. Jadi Nona tidak perlu merasa bersalah seperti itu."
Bersambung….