
Setelah keluar dari rumah sakit. Kini Arya tak henti henti nya menatap wajah istrinya. Bahkan, Mobil yang mereka sejak tadi tak kunjung jalan juga. Clara pun hanya bisa mengulum senyum gelinya. Saat mengingat bagaimana ekspresi wajah Arya. Ketika mereka tengah berada di dalam ruangan dokter obgin tadi.
"Mau sampai kapan kita berdiam diri disini?. Aku rasa langit semakin gelap, Apa mau turun hujan ya? ". Sindir Clara sambil mengulum senyumnya.
" Kenapa kau tidak sadar, Kalau dia sudah tumbuh disana? ". Lagi lagi pertanyaan konyol itu kembali ke luar dari mulut Arya. Bahkan ia selalu saja menanyakan dengan pertanyaan yang sama sejak beberapa menit yang lalu.
"Mana aku tahu, Kalau dia sudah jadi kecambah. Aku pikir masih jadi kacang". Clara memang tak pernah bisa di ajak serius. Dia selalu menguji kesabaran suaminya.
Bahkan, Ketika suaminya mode serius. Wanita itu tetap saja selalu konyol dan banyak tingkah. Beruntung Arya sudah sangat jatuh hati padanya. Kalau tidak mungkin pria itu telah menelan nya hidup hidup sejak lama.
"Wah, Ada yang jual gulali". Seru Clara, Belum juga selesai Arya membahas kehamilan istrinya. Kini Clara malah gagal fokus dengan penjual gulali di seberang jalan sana.
__ADS_1
"Sayang, Aku mau makan gulali itu!!". Clara mulai merengek kembali. Seperti saat ia meminta cemilan di perusahaan tadi siang.
Hembusan nafas Arya terdengar begitu berat. Ia sudah mulai paham sekarang. Jika menghadapi istri yang sedang ngidam itu sangat menguras pikiran dan tenaga nya juga. Apalagi, Clara juga belum apa apa sudah banyak maunya. Dan itu pun hal hal yang kadang kadang tak masuk di akal sama sekali.
"Ayo buruan!!. Nanti abang jualannya keburu pergi". Clara kembali merengek sambil terus menarik narik lengan tangan suaminya.
" Iya iya ini juga mau turun". Pungkas Arya sambil membuka pintu mobilnya. "Mau warna apa? ". Tanya Arya ketika ia sudah turun dari mobilnya.
Wanita itu benar benar membayangkan. Ketika ia memakan gulalinya. Padahal, Cemilan manis itu belum di beli oleh suaminya. Tak mau banyak protes dan malah membuat mood istrinya rusak. Arya pun hanya menganggukkan kepalanya patuh. Apalagi dokter obgin tadi bilang jika apapun kemauan ibu hamil itu. Harus di turuti agar mood nya selalu bagus. Dan itu pun berpengaruh pada perkembangan janin yang ia kandung.
Dengan sedikit menarik nafasnya berat. Arya mulai melonggarkan kerah kemejanya. Dan menarik dasinya agar tidak terlalu ketat di lehernya. Karena tiba tiba saja pria itu terasa gerah.
__ADS_1
"Shiittt, Sejak kapan seorang CEO jajan gulali? ". Guman Arya sambil mengumpat sendiri.
Namun, Ia tetap saja melakukan apa yang istrinya inginkan. Dan mulai melangkahkan kakinya keseberang jalan sana. Untuk membeli gulali buat istrinya. Sedangkan Clara di dalam mobil tersenyum puas.
" Kalau begini aku akan terus hamil saja, Agar aku bisa mengerjai pria dingin itu". Seru Clara sambil terkekeh sendiri.
Lalu ia pun mulai membongkar isi kantong kresek belanjaannya. Yang tadi sempat mereka beli dari supermarket. Sebelum mereka pergi ke rumah sakit tadi.
"Baby, Apa ini juga keinginan mu? ". Clara mengusap perutnya saat ia mengambil coklat dengan inisial D di awalnya. Dan bungkus warna ungu itu. Dimana cemilan itu dari dulu sangat Clara hindari. Karena ia tak suka makanan yang manis manis.
"Apa aku harus gendut juga saat hamil? ". Guman Clara kembali , Sambil terus menatap bungkusan coklat bewarna ungu ditangan nya.
__ADS_1
Sepertinya Clara mulai galau ketika ia ingin makan sesuatu, Tetapi malah ragu untuk memakan nya.