
Santi menatap bingung pada Clara sejak pulang dari pemotretan di perusahaan Victoria Group. Clara tampak selalu merenung tak jelas. Sepertinya ia sedang di landa masalah. Membuat Santi sedikit khawatir. Apalagi tadi Clara juga sempat menghilang, Entah kemana gadis itu perginya. Sampai sampai Santi harus menunggu nya lama di dalam mobil.
" Clara, elu kenapa sih?. Tolong dong jangan bikin gue khawatir gini!!! ". Santi memberanikan diri untuk bertanya. Bahkan, santi sampai menggoncang bahu Clara.
Dimana Clara sedang duduk termenung di kursi goyangnya. Bahkan, piyama tidurnya ia biarkan sedikit terbuka memperlihatkan bahu mulusnya yang putih bersih.
Pikiran Clara jauh menerawang. Dan entah apa yang tengah ia lamunkan saat ini.
" Santi, apa yang akan loe lakukan kalau ada pria yang udah nyelametin hidup loe, terus dia pergi begitu saja, hilang bak di telan bumi. Sampai loe gak sempet bilang makasih. Dan parahnya setelah loe sadar jika dia ada di deket loe selama ini tapi dia udah mau jadi milik orang lain? ".
Clara bertanya pada asisten nya. Namun, matanya malah terlihat menerawang jauh. Memikirkan sesuatu yang tidak dapat Santi tebak tentang apa.
" Pertanyaan loe belibet banget Clara. Kagak ngerti gue". Santi yang mendengarnya saja pusing. Bagaimana bisa ia memberikan pendapat nya.
" Ah, ini gak adil". Teriak Clara menghentak hentakkan kakinya di lantai. Membuat Santi semakin heran akan sikap Clara hari ini.
__ADS_1
" Aduh ra, sebenarnya loe itu kenapa sih?. Coba cerita ke gue! ". Santi masih saja mendesak Clara untuk berbicara pada nya. Namun, sayang nya Clara masih saja enggan untuk menceritakan semua masa lalunya itu.
" Intinya tuh gini, seandainya loe menyukai seseorang pria, tapi ia malah udah mau tunangan dengan wanita lain. Terus apa yang loe lakuin? " Tanya Clara sedikit berbohong pada Santi.
" Ya jelas gue datengin aja tuh cowok , gue nyatain perasaan gue ke dia secara terang terangan. Kalau bisa gue juga akan batalin tuh pertungan mereka". Jawab Santi sekenanya.
"'Serius gitu? ". Tanya Clara memastikan.
Santi malah tertawa terbahak bahak. Karena jawaban dirinya tadi hanya asal saja.
Clara kembali diam sambil mengetuk ngetukkan jarinya ke dagunya. Seolah ia sedang berpikir ulang tentang apa yang akan ia rencanakan nantinya.
Clara bukanlah orang yang mau menyerah begitu saja. Meskipun ia tidak tahu akan seperti apa respon pria itu nantinya ke dia. Namun, Clara saat ini hanya tidak ingin jika orang yang telah menolongnya beberapa tahun lalu. Mendapatkan pasangan hidup yang tidak layak untuknya.
" Gue tahu sekarang, gua harus ngapain ". Serunya tersenyum licik.
__ADS_1
" Apa? ". Santi tampak semakin bingung. Bahkan, sejak tadi Santi malah mengurungkan niatnya untuk pulang. Gara gara tidak ingin meninggalkan Clara seorang diri di Apartemen nya dalam keadaan yang sedang seperti orang galau saja.
" Mana kartu undangan tadi? ". Bukannya menjawab Clara pun malah menanyakan hal lain pada Santi.
" Di dalam tas loe Nona manise". Jawab Santi sedikit kesal.
Gadis itu pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Dan menggeledah tas nya. Ia melihat ulang kartu undangan pertunangan CEO perusahaan yang mengontraknya saat ini.
" Santi... ".
" Ada apa? ".
" Siapkan gaun pesta yang bagus dan jangan sampai gaunnya bisa sama dengan orang lain!. Aku mau warna nya merah menyala! ".
" Pesta apa?. Minggu ini loe gak ada acara apa apa Cla". Santi langsung protes karena ia tahu betul jadwal modelnya itu.
__ADS_1
" Kita akan datang di pertunangan sang CEO honey". Jawab Clara dengan seringai liciknya.