
"Mari silahkan Nyonya! ". Dewa membantu membukakan pintu mobil untuk Clara. Ketika mereka telah tiba di depan gedung pencakar langit. Tepatnya di perusahaan milik Arya suami Clara.
Namun, Mata bumil itu malah tertuju pada seorang gadis dengan setelan blazer warna hitam nya, Tampak sedang mengais ngais tong sampah yang ada di samping pos security.
Dewa pun mengikuti arah pandangan Clara saat ini. Pria itu hanya menatap datar kearah gadis yang tetap di pandangi oleh Nyonya nya itu.
"Silahkan Nyonya!. Di luar sangat panas sekali, Lebih baik anda menunggu tuan di dalam ruangannya saja!. Sampai meeting tuan selesai". Dewa kembali mengingatkan Clara.
" Apa yang di lakukan Santi disana? ". Clara malah mengalihkan pembahasan dan malah mengajukan pertanyaan pada asisten suaminya.
"Bukan apa apa Nyonya. Mungkin dia sedang mencari sesuatu yang hilang". Jawab Dewa datar.
Clara hanya melirik sekilas pada orang kepercayaan suaminya itu. Dan kini malah melangkah menghampiri mantan asisten pribadi juga. Siapa lagi kalau bukan Santi. Dan membuat Dewa menghela nafasnya berat. Ia yakin setelah ini, Dewa pasti akan mendapatkan sesuatu dari Nyonya nya itu.
Sementara Clara terus melangkah, Dewa pun mulai sibuk menghentikan langkah Nyonya nya. Agar ia tidak menghampiri Santi saat ini.
Sedangkan Santi sudah mengacak acak rambutnya. Sehingga penampilan gadis itu tampak berantakan. Gadis itu juga tampak meneguk air liur nya berkali kali. Mungkin karena ia haus sejak tadi terus mencari tong sampah. Hanya untuk menemukan berkas penting. Yang ia sendiri lupa menaruhnya dimana. Dan hal itu membuat kepala Devisi pun ikut kena imbasnya juga. Oleh, Keteledoran Santi.
__ADS_1
"Aduh, Mana haus lagi. Tapi, Berkasnya belum juga ketemu. Jam makan siang juga sebentar lagi". Santi terus bergumam sendiri. Hingga ada seseorang yang menyodorkan sebotol minuman padanya.
Tanpa pikir panjang. Santi pun langsung menerima nya dan membuka tutup botolnya dengan terburu buru. Bahkan, Santi pun sampai tak sempat untuk sekedar menoleh. Siapa yang memberinya sebotol minuman itu padanya.
Gadis itu benar benar tak sadar, Jika ada sepasang mata yang sejak tadi terus menatap nya dengan tatapan tajam. Apalagi dengan kelakuan Santi yang baginya selalu saja ceroboh. Dan sangat menyusahkan dirinya selama ini.
Gleg... Gleg... Gleeggg...
Santi telah menegak habis air dalam botol itu. Tanpa sisa sedikitpun juga.
" Ucapan Santi menggantung, Ketika ia bersitatap dengan seorang pria yang kini sedang menatapnya dingin. Dan bahkan tatapan nya begitu sangat tajam padanya.
"Haiss...Dia lagi. Dia lagi". Guman Santi yang langsung mencelos. Seolah ia juga sedang kesal pada sosok pria yang kini ada di hadapan nya itu.
"Kembali ke ruanganmu sekarang!". Ujarnya memberi perintah.
" Ada apalagi?. Berkasnya masih belum ketemu. Nih masih saya cari pak Dewa". Jawab Santi penuh penekanan.
__ADS_1
"Sejak kapan berkas penting ada di tong sampah? ".
Dewa memang sangat keterlaluan sekali. Dia bertanya juga seolah ia tidak bersalah. Padahal, Yang menyuruh Santi untuk bongkar membongkar tong sampah. Itu adalah Dewa sendiri. Karena ia telah menghilangkan berkas penting yang seharusnya sudah harus Arya tanda tangani. Namun, Karena keteledoran Santi. Semuanya jadi kena imbasnya juga.
"Terus ada dimana dong? ". Tanya Santi dengan polosnya.
" Di ruangan tuan Arya. Dan dari tadi pagi sudah di tanda tangani oleh tuan Arya juga".
"Apa??? ". Pekik Santi tak percaya. Dan ketika ia sadar Dewa telah menjauh pergi darinya. Dengan langkah santai dan tak merasa bersalah sedikitpun padanya.
Sorot mata Santi begitu penuh kekesalan pada asisten bosnya itu. Ingin sekali Santi mengumpat saat ini juga. Tapi, Apalah daya ia malah jadi bahan tontonan orang orang. Belum lagi penampilan nya yang sudah sangat berantakan.
"Dasar perjaka tua. Wajar saja tidak laku laku. Dia kan emang nyebelin. Gue sumpahin loe kagak kawin kawin sampai lebaran monyet". Gerutunya kesal.
Sedangkan Dewa saat ini telah aman dari amukan Nyonya nya. Karena ia berhasil membuat Clara tidak jadi menghampiri Santi. Kalau sampai Clara yang datang tadi. Bisa bisa Santi langsung melaporkan ulahnya pada Nyonya nya itu. Dan Dewa pun sudah bisa menebaknya. Apa yang akan di lakukan Clara. Jika hal itu sampai terjadi tadi.
"Huh... ". Helaan nafas lega ketika Dewa sampai di lobby perusahaan. Dia tak melihat Clara lagi disana.
__ADS_1