
Mension Victoria...
Ziva sedang berjemur di bawah sinar mentari pagi, Dengan berbaring pada salah satu kursi panjang di tepi kolam renang. Bikini warna abu tua tampak begitu melekat pas di tubuh rampingnya.
Sepertinya pagi ini ia ingin menikmati hidupnya untuk menghilangkan penat. Setelah moment pertunangan nya yang gagal. Dan itu jelas membuat dirinya kecewa dan juga malu di hadapan semua orang.
" Wah... Wah... Apa kau sedang merayakan pesta pertunangan mu yang gagal adik ipar? ". Helen tiba tiba datang menghampiri Ziva dan mengulas senyum mengejeknya.
Ziva hanya diam tak bergeming. Ia sangat malas untuk meladeni kakak iparnya yang penuh drama dalam hidupnya itu. Kalau saja, kakak nya tidak begitu mencintai wanita itu. Mungkin sudah lama ia mendepak wanita yang berstatus istri kakak nya ini, Keluar dari mension Victoria.
" Kenapa kau masih terlihat santai sekali?. Padahal, Arya telah pergi dan melarikan diri". Helen tak henti hentinya memancing amarah adik iparnya.
" Apa kau tidak takut?. Jika, Nanti Arya kembali dan langsung menikahi wanita itu? ". Lagi lagi Helen bicara seolah ia sudah mengetahui semua nya.
__ADS_1
" Kenapa aku harus takut?". Ziva mulai bangkit dari tempat Pembaringan nya. Dan kini menatap wajah kakak iparnya dengan senyum di bibirnya.
" Jika, kak Arya kembali dan menikahi ****** itu. Maka, aku akan terima daripada dia harus menikahi denganmu ".
Jawaban Ziva malah membuat Helen naik pitam. Jelas saja, Helen sangat tersinggung akan perkataan Ziva. Karena, sampai saat ini Helen masih sangat berambisi untuk mendapatkan Arya kembali. Dan ia menerima pinangan Aryo, Hanya karena dulu ia pikir. Aryo lah yang memiliki hak atas semua harta Victoria. Tetapi, ia salah pilih.
Helen mengkhianati Arya dan rela tidur dengan Aryo. Hanya untuk sebuah harta kekayaan dan hidup enak. Tapi, sampai saat ini hasrtanya masih untuk Arya. Apalagi, sekarang penampilan Arya jauh lebih maco dan keren di bandingkan suaminya itu.
" Kau... ". Geram Helen mengepalkan kedua tangannya.
" Bagaimana dengan Bianca? ".
Ziva langsung menghentikan langkahnya. Saat Helen menyebut nama Bianca. Gadis yang begitu dicintai oleh Arya dulu. Dan gadis itu tiba tiba menghilang tepat saat hari pernikahan mereka. Dan sampai saat ini tidak ada jejak apapun tentang gadis itu.
__ADS_1
Ziva berbalik badan dan mengulas senyumnya. " Bukankah kau juga terlibat dengan menghilang nya Bianca?. Kakak ipar ku sayang". Sudut bibir Ziva terangkat ketika Helen langsung terkejut akan penuturannya.
" Aku jadi penasaran, Bagaimana ekspresi kak Arya nantinya. Jika ia tahu kau salah satu pemeran dalam hilang nya wanita yang sangat ia cintai".
" Aku juga penasaran, hal apa yang akan di lakukan kak Arya pada dalang hilangnya Bianca ". Sambung Ziva dengan sedikit mengancam Helen.
" Tidak, aku tidak melakukan apapun malam itu". Batin Helen mengelak kalau dia benar benar tidak pernah merasa melakukan hal buruk seperti itu.
" Jika kau takut kebenarannya akan terungkap. Maka, Aku peringatkan kakak ipar untuk tidak ikut campur urusanku lagi!. Kalau tidak kau akan menyesalinya ". Ziva langsung beranjak pergi. Saat melihat Helen begitu kaget akan semua kata kata nya barusan.
" Tidak, bukan aku yang melakukan ny". Helen masih berguman sendiri dalam hatiny. Bahkan, Helen sampai menatap kedua tangannya.
" Tunggu, malam itu aku melihat darah. Apa dalam keadaan seperti itu Bianca bisa pergi dari rumahnya? ". Kali ini Helen baru sadar jika, ada sesuatu yang janggal.
__ADS_1
" Aku harus cari tahu kembali, tentang kejadian malam itu". Gumannya yang ikut bangkit dari tempat duduk nya.