Sexy Lady

Sexy Lady
Sebuah Rencana


__ADS_3

Mension Victoria...


Ziva tampak berjalan gontai memasuki mension mewahnya itu. Di iringi oleh Mami dan juga Papi nya. Bahkan sang kakak yang ikut memapah adiknya untuk masuk kedalam . Namun, sang kakak ipar malah tampak mengulum senyum mengejeknya.


Ia sepertinya sedang menertawakan keadaan Ziva saat ini. Dimana acara yang telah di siapkan sangat mewah dan juga meriah. Hancur dalam hitungan detik saja. Lantaran calon tunangannya malah pergi dan memilih gadis lain.


" Honey, lebih baik aku kamar dulu saja ya. Tubuhku sudah sangat gerah sekali". Ucapnya pamit pada suaminya.


" Baiklah honey, sebentar lagi aku akan menyusulmu". Jawab suaminya yang merupakan kakak kandung Ziva yang bernama Aryo itu.


" Kak sudahlah aku tidak papa. Aku yakin kak Arya pasti akan pulang malam ini dan aku yakin kak Arya dan perempuan itu tidak mungkin ada hubungan ". Ucap Ziva tersenyum tenang. Seolah ia mengetahui sesuatu.


Sang Mami dan Papi nya kini saling tatap. Namun, kakeknya masih saja diam. Namun, wajahnya sangat sulit di tebak sama sekali. Pria itu sepertinya sedang berpikir keras tentang apa yang barusan terjadi.


" Papa baik baik saja? ". Tanya Burhan pada papanya. Dimana pria itu lah yang mempunyai rencana menjodohkan Arya dengan Ziva.


" Papa hanya butuh istirahat saja". Jawabnya tenang. ". Ziva, kakek ke kamar dulu. Jika Arya pulang tolong panggil kakek!! ".

__ADS_1


Pria tua yang sudah memakai tongkat itu pun mulai melangkah pergi menuju arah kamarnya. Ia sama sekali tidak menunjukkan kemarahan ataupun kekesalan nya. Padahal keluarga nya sudah dibuat malu semalunya.


Kini di ruang tamu hanya ada Burhan dan istrinya serta anak anaknya. Putra dan putrinya saja. Dimana sang Mami mulai mendekati putri bungsu nya itu.


" Ziva, sayang. Mami harap kamu bisa tenang ya!. Kan Mami sudah bilang dari awal jauhi anak sialan itu!. Kamu itu cantik cerdas pasti banyak pria lain yang jauh lebih baik dari Arya nak". Kini giliran sang Mami angkat bicara sambil mengelus punggung tangan Ziva.


Namun, Ziva malah menggeleng kan kepalanya. ". Tidak ada yang lebih baik dari kak Arya Mi. Kalian tahu itu jika Ziva sudah menyukai kak Arya dari dulu". Lirihnya sendu dan tampak berkaca kaca.


" Tapi gadis itu sudah hamil anaknya Ziva. Apa kamu mau jadi istri keduanya. Kita masih punya banyak cara lain untuk...


" Mami... ". Burhan langsung menegur istrinya sebelum istrinya itu keceplosan akan tujuan mereka itu.


Kedua orang tua nya hanya bisa saling tatap dan membiarkan putrinya sendiri dulu. Agar bisa berpikir jernih. Begitupula dengan Aryo yang sudah memilih pergi dari hadapan keluarga nya. Karena, ia sudah tidak tahan lagi untuk menyentuh istrinya. Wanita yang ia rebut dari Arya dengan bangganya.


Dan apapun yang menjadi milik Arya. Aryo selalu saja ingin merebutnya. Sebab, ia juga sangat senang saat melihat Arya terpuruk hancur sehancurnya.


Begitu melihat semua orang pergi ke kamar nya masing masing. Ziva pun berdiri dari duduknya. Lalu melangkah menuju kamar kakeknya.

__ADS_1


Tok... tok... tok...


" Kakek... Ziva boleh masuk? ".


" Kemarilah Ziva!! ". Sahut sang kakek dari dalam kamarnya.


Ceklek...


Ziva pun mulai membuka pintu kamar kakeknya. Yang memang tidak di kunci dari dalam. Senyum Ziva mengembang saat melihat kakeknya masih duduk di kursi goyangnya dengan menghadap ke arah luar jendela.


" Ada apa?". Tanya sang Kakek dengan nada bicara yang sedang menahan sesuatu dalam dirinya.


Ziva pun mulai mengatakan maksud dan tujuannya. Membuat kakeknya hanya diam dan mendengarkan apa yang di katakan oleh Ziva. Hingga akhirnya senyum Ziva kembali mengembang saat sang kakek menyatakan setuju.


" Istirahat lah !. Urusan Arya biar kakek yang tangani".


" Baik kek". Ziva pun langsung pamit keluar kamar sang kakek. Kakek Arya kini menatap sebuah figuran lama. Dimana matanya sangat penuh amarah dan dendam.

__ADS_1


TBC


__ADS_2