
Saat Clara masih berada di dalam rumah sakit. Dan di tempat yang berbeda juga saat ini. Seorang wanita tengah marah besar dan menghamburkan semua barang barang nya. Hingga kamarnya tampak begitu berantakan. Bahkan, Kaca meja rias nya pun ikut jadi korban kemarahannya.
" Brengsek... Sial... ". Upat wanita itu sambil mengepalkan kedua tangannya.
" Astaga sayang, kamu kenapa? ". Tanya wanita paruh baya menghampiri putrinya.
" Keluar mi, Keluar!! ". Sentak nya penuh amarah.
" Tapi sayang ini...
" Mami please!. Don't touch me!! ". Wanita itu benar benar tidak mau dilihat dalam keadaan nya yang sangat kacau seperti ini.
" Oke, Mami pergi. Tapi, Ingat sayang!. Jangan lakukan hal bodoh!. Masih banyak pria lain di luar sana. Yang lebih mapan dan lebih dari segalanya daripada dia". Sang Mami mulai memberikan nasehatnya pada putrinya.
" No, Mam. Aku hanya ingin dia. Jika aku tidak bisa mendapatkan dirinya, Maka wanita lain pun tidak akan akan bisa juga memiliki nya". Seringai licik mulai terbit di wajah wanita itu kembali. Tatapannya begitu sinis dan menyimpan banyak api amarahnya.
" Well? ".
" Kita lihat saja nanti Mam! _. Ujarnya seraya menarik sudut bibirnya. Yang tadinya ia begitu kekeh menyuruh Mami nya untuk keluar dari dalam kamarnya. Kini, ia malah ingin meminta bantuan sang Mami.
Sungguh wanita yang aneh dan seperti memiliki dua kepribadian. Namun, begitulah dia. Wanita yang mampu menyimpan sifat aslinya dan menutupi nya dengan segala sifat lemah lembutnya. Seolah, ia adalah wanita yang benar benar-benar kalem dan juga sopan.
__ADS_1
🌿🌿🌿🌿🌿
Keseokan paginya jam menunjukkan pukul enam pagi. Clara juga masih terlelap di samping brankar pasien. Dimana sang pria saat ini mulai membuka matanya secara perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah cantik Clara yang tertutupi dengan anak rambutnya.
Senyum pria itu mulai terbit di sudut bibirnya. Lalu, ia menatap dalam wajah cantik Clara yang terlihat tenang saat sedang tidur seperti ini.
" Kenapa aku selalu merasa jika aku pernah melihat wajahmu? ". Batin sang pria sembari terus menatap wajah Clara yang masih tertidur.
" Aku harus selalu berada di dekat mu. Agar aku bisa mengingat semuanya kembali ". Guman pria itu.
Melihat Clara yang mulai menggeliat. Pria itu pun pura pura tertidur kembali. Clara menguap dan langsung menutup kembali mulutnya.
" Dia mirip siapa ya? ". Guman Clara mulai mengamati wajah pria yang masih memejamkan matanya. Dimana pria itu memiliki kumis tipis dan juga brewok . Bahkan rambutnya yang berwarna coklat tua. Bulu mata yang lentik dan juga alis yang tebal.
" Ternyata dia cukup lumayan. Meskipun tak bisa menandingi ketampanan Arya". Clara terus berguman sendiri. Sambil terus memperhatikan wajah sang pria tanpa ia ketahui siapa namanya.
Ceklek...
Clara berhenti menatap wajah sang pria. Ketika kakaknya datang dengan menenteng paper bag. Dan sudah memakai seragam lengkap . Dengan seragam dinas polisinya.
" Dia belum sadar juga? ". Tanya Leon langsung menghampiri adiknya dan berdiri di samping brankar pasien.
__ADS_1
" Kak, benar kan lukanya tidak infeksi?". Tanya Clara memastikan.
" Astaga, Clara mana mungkin kakak bohong?. Kan kamu dengar sendiri bagaimana yang Febby bilang semalam". Leon mulai mengingat kan kembali adiknya.
" Tapi kenapa dia belum sadar juga kak?. Oh ya, Dimana kak Febby?. Apa dia sudah datang? ". Clara ingin menemui dokter yang menjahit luka sang pria itu.
" Cari aja dirumah nya. Paling juga dia sedang kekepan sama Naufal suaminya". Seloroh Leon mulai tak berfilter.
" Kakak... ". Clara tampak melotot tak percaya karena kakaknya itu masih saja konyol padahal sudah hampir memiliki dua anak.
Leon hanya mengangkat bahunya acuh. Dan memilih untuk menuju arah sofa.
". Ayah sama Bunda Besok tiba di Jakarta. Dan kamu di suruh pulang ke rumah utama! ". Ucap Leon sebelum ia mendaratkan bokongnya di sofa empuk di dalam ruangan rawat sang pria.
Clara pun menyusul kakak nya untuk duduk di sofa juga. Ia mulai terasa lapar saat mencium bau masakan kakak iparnya itu.
" Pasti Ayah dan Bunda ingin bahas masalah perjodohan lagi kan kak?".
" Makanya temukan priamu itu dulu!. Kalau tidak mau di jodohin sama Ayah dan Bunda. Kamu tahu sendiri bagaimana sifat Ayah kita itu".
TBC
__ADS_1