
Meira keluar dari kamar itu dan melangkah pergi. Dia termenung memikirkan ucapan Minho, penjelasan cowok itu membuat hatinya bimbang.
Disatu sisi dia menyukai cowok lain dan satu sisinya Minho menyukainya. Siapa yang harus Meira pilih, tentu saja walau dia memilih Junggo tetap Minho yang akan menikah dengannya karena mereka sudah dijodohkan.
"Apa aku harus mencoba membuka hati ku utuknya."gumam Meira.
"Bagaimana pun nanti aku akan tetap bersama Minho."lanjut Meira.
Meira menyentuh bibirnya. "Aaakkhh dasar mesum apa dia tidak bisa menahan nafsunya untuk tidak mencium ku."gumam Meira mengingat ciuman dalam itu.
Tapi rasanya Meira menyukai bibir itu, begitu lembut dan manis. "Aaakkkhhh, Mei apa yang kau pikirkan. Kenapa kau membayangkan adega itu lagi."gumam Meira sambil meremas rambutnya dan memukul pelan kepalanya.
Didalam kamar Minho memakan masakan Meira, samabil termenung.
Beberapa saat yang lalu
"Tapi aku tidak menyukai mu."ucap Meira jujur.
"Aku tau, maka dari itu. Aku ingin bertanya, bisakah kau mengijinkan ku untuk membuat mu menyukai ku?" Tanya Minho Meira menatapnya.
Minho menatap mata itu itu lekat. "Aku menyukai mu."ucap Minho membuat jantung Meira bergemuruh.
Entah kenapa disaat seperti ini Meira merasa gugub. Bibir itu kembali menciumnya membuat Meira tertegun, ciuman itu begitu lembut perlahan membuat Meira terbuai dan membalas ciuman itu.
Tangan Meira meremas kaos milik Minho sebagai pelampiasan, Ciuman itu semakin dalam bahkan Minho tidak ingin melepaskan.
"Uummm....Min...." Meira berusaha mengimbangi ciuman itu tapi tidak bisa nafasnya sudah hampir habis.
Didorongnya dada itu membuat ciuman mereka terlepas. "Mei..."panggil Minho.
Meira melepas pelukan itu dan mendudukan dirinya. "Maaf Minho kau tau aku menyukai cowok lain bukan."ucap Meira.
Minho pun ikut mendudukan dirinya. "Tapi tidak bisakah kau membuka hati mu untuk ku?"tanya Minho.
Meira menunduk. "Akan ku pikirkan, makanlah makan siang mu sebelum dingin."ucap Meira lalu beranjak pergi.
Minho menatap punggung itu. "Aku akan berjuang sampai kau menyukai ku."ucap Minho menghentikan langkah Meira.
__ADS_1
"Jangan lupa minum obat mu."ucap Meira keluar kamar lalu menutup pintu kamar itu.
Minho terdiam. "Aku yakin kau pasti bisa mennyukai ku Mei."gumam Minho melanjutkan makannya.
♡♡♡♡♡
Hari sudah memperlihatkan langit gelap pertanda sekarang sudah malam, Minho beranjak dari ranjang itu dan melangkah menuju kamar mandi, belum sampai di kamar mandi pintu kamarnya terbuka.
"Permisi tuan, apa makan malamnya mau dibawa kekamar?"tanya Ina.
Minho tertegun. "Apa Meira tidak mau mengatarnya?"tanya Minho.
"Nona bilang dia mau mengerjakan tugasnya baru setelah itumakan malam, jadi saya diminta menanyakan pada tuan apa mau makan malam dikamar."jawab Ina.
"Apa dia menghindari ku."batin Minho.
"Ya sudah, aku makan di ruang makan saja."ucap Minho lalu masuk kedalam kamar mandi gadis itu sepertinya memang menghindarinya.
Sebaiknya dia cepat membersihkan dirinya dan berbicara pada Meira.
Sedangkan dikamar lain. Pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan Meira, gadis itu baru saja selesai dari ritual mandinya.
Meira terduduk diam ditepian ranjangnya, tidak beberapa lama tiba-tiba pintu kamarnya terbuka membuatnya terkejut.
"Oh ya apum maafkan aku."ucap Minho membalikan badan dan berniat pergi.
"Tunggu, kenap kau masuk tanpa mengetuk?"tanya Meira.
"Aku ingin bicara pada mu, aku pikir kau masih mengerjakan tugas mu makanya aku masuk begitu saja. Maafkan aku."jawab Minho lalu keluar dari kamar dan menutup pintunya.
Meira dengan cepat memasang bajunya dan merapikan rambutnya, dibukanya pintu kamar itu dan nelihat Minho yang mengerutu sambil melangkah menuju kamarnya.
"Minho.."panggil Meira membuat cowok itu berbalik.
"Masuklah, kau ingin bicara apa?"tanya Meira.
Minho kembali melangkah menuju kamarnya dan masuk kedalam kamar Meira.
__ADS_1
Meira duduk bersila di ranjangnya dan Minho duduk diatas kursi dimeja belajarnya.
"Katakan."ucap Meira.
"Mei....aku tau ini terlalu mendadak bagi mu, aku sudah menyiapkan hati ku dari jauh-jauh hari untuk bisa mengatakan hal itu pada mu, aku tidak meminta mu untuk membalas perasaan ku dengan cepat tapi setidaknya biarkan aku menunjukan keseriusan ku dengan berjuang membuat mu mencintai ku. Tapi ku mohon selama aku melakukannya kau jangan menghindar dari ku, aku tidak menyukai hal itu. Kenapa kalian selalu menghindar setiap kali ada cowok yang mengungkapkan perasaannya pada kalian."ucap Minho Meira menyeritkan alisnya.
"Siapa yang menghindari mu?"tanya Meira.
"Buktinya kau bahkan tidak mau makan malam bersama ku, Ina mengatakan kau memintanya bertanya pada ku apa aku makan malam dikamar atau di ruang makan, dan setelah menyiapkan makan malam kau malah ingin menyelesaikan tugas mu dari pada makan malam bersama ku."ucap Minho Meira terdiam menatapnya lalu tawanya lepas begitu saja.
"Ooohhh ya ampun apa Ina salah menyampaikanya, bukan itu yang ku maksud...hahahaha."ucap Meira tertawa lepas.
"Jadi maksudnya?"tanya Minho.
"Aku mengatakan pada Ina kalau aku ingin menyelesaikan tugas ku lebih dulu setelah selesai masak makan malam kita, dan aku meminta Ina menanyakan pada mu apa kau ingin makan malam di kamar atau di ruang makan agar nanti aku yang membawannya kekamar jika kau ingin makan malam di kamar, begitu Minho....jadi kau salah paham tentang itu oh ya ampun...hahahaha."ucap Meira masih tertawa.
Minho menatap Meira datar tapi perlahan dia terseyum meliaht Meira yang tertawa, itu artinya gadis itu tidak menghindarinya.
"Jadi kau tidak menghindari ku?"tanya Minho.
"Untuk apa aku menghindari mu, lagi pula apa salahnya jika kau mengungkapkan perasan mu pada ku itu hal wajar kau itu tunangan ku. Hanya saja aku mimta waktu pada mu, itu saja."jawab Meira Minho terseyum lalu mendekat padanya dan memeluk Meira erat.
"Terimakasih...setidaknya kau tidak menghindar dari ku setelah aku mengungkapkan perasaan ku."ucap Minho Meira awalnya tertegun lalu terseyum dan membalas pelukan itu.
"Berjuanglah."ucap Meira Minho mengangguk dan semakin memeluk Meira erat.
Meira pun tidak mau egois, walau dia menyukai cowok lain dirinya akan tetap bersama Minho karena mereka sudsh terikat dan Meira pikir tidak ada salahnya bukan jika membiarkan calon suami untuk memiliki dirinya karena sekarang Meira adalah tanggung jawab Minho.
"Sudahlah,sebaiknya sekarang kita makan malam saja. Aku sudah lapar."ucap Meira membuat Minho tersadar dan melepas pelukannya.
"Aku lupa kita mau makan malam, kalau begitu ayo."ucap Minho menggenggam tangan Meira dan membawanya pergi.
"Apa tenggorokan mu masih sakit?"tanya Meira.
"Lumayan, dan aku juga masih merasa sedikit pusing."jawab Minho tiba-tiba Meira menarik tanganya membuat Minho berbalik.
Tangan Meira menempel di kening cowok itu merasakan panas ditubuh Minho. "Kalau begitu makan di kamar saja, biar aku yang menyiapkan makanannya."ucap Meira lalu melangkah pergi menuju dapur.
__ADS_1
Sedangkan Minho hanya terdiam disana masih membayangkan wajah khawatir Meira. "Aaaaa menggemaskan sekali."gumam Minho sambil menangkup wajahnya lalu melangkah menuju kamarnya.
Di dapur Meira menyentuh dadanya yang sekarang sering bergemuruh. "Ada apa dengan ku."gumamnya.